Nathan Chen, Peneliti AI 17 Tahun, Tinggalkan Moonshot AI

Nathan Chen, Peneliti AI 17 Tahun, Tinggalkan Moonshot AI
Nathan Chen mengumumkan kepergiannya dari Moonshot AI melalui media sosial pada 15 Oktober.

Nathan Chen mengumumkan lewat media sosial pada 15 Oktober bahwa ia telah meninggalkan Moonshot AI, startup asal Beijing di balik chatbot Kimi, setelah kurang dari setahun bergabung. Remaja 17 tahun asal Shenzhen itu masuk ke tim riset Kimi pada usia 16 tahun, saat masih duduk di bangku SMA. Kepergiannya memicu spekulasi soal masa depan salah satu talenta muda paling diperhatikan di industri AI China.

Kepergian Chen terjadi beberapa bulan setelah Moonshot merilis Kimi K3. Model AI itu menarik perhatian Silicon Valley karena mampu menyaingi sistem-sistem terkemuka Amerika Serikat dengan biaya pengembangan jauh lebih rendah.

Kontribusi di Balik Kimi K3

Selama masa kerja yang singkat, Chen ikut berkontribusi pada inovasi utama AI Moonshot. Pada Maret tahun ini, ia menjadi salah satu dari tiga penulis yang berkontribusi sama besar dalam makalah penelitian berjudul Attention Residuals, bersama peneliti senior Su Jianlin dan Zhang Yu.

Karya tersebut memperkenalkan teknik yang meningkatkan cara model AI memproses informasi. Teknik itu kemudian diterapkan ke Kimi K3 dan mendapat perhatian internasional, termasuk dari Elon Musk dan mantan peneliti OpenAI Andrej Karpathy.

Jalur Tidak Biasa Menuju Riset AI

Chen menempuh jalur yang berbeda dari banyak ilmuwan muda di industri AI. Ia tidak membawa medali kompetisi atau kualifikasi universitas yang biasanya jadi tiket masuk. Ia mulai mengeksplorasi AI pada 2024 saat masih SMA, belajar secara autodidak lewat makalah penelitian dan memanfaatkan chatbot Gemini dari Google untuk memahami konsep rumit.

Mei 2025, Chen menerbitkan blog yang menjelaskan sebuah teknik AI. Tulisan itu menarik perhatian Yang Songlin, peneliti yang saat itu mengejar gelar doktor di Massachusetts Institute of Technology, sekaligus kepala Tilde Research, startup AI asal Amerika Serikat.

Dua bulan kemudian, Chen berangkat sendiri ke Palo Alto, California, untuk magang tujuh minggu di Tilde Research. Ia bekerja bersama peneliti berpengalaman dan kadang menghabiskan hingga 15 jam sehari di kantor. Sekembalinya ke China, ia semula berharap melanjutkan tahun terakhir SMA, tetapi justru mendapat tawaran bergabung dengan Moonshot AI.

Spekulasi Arah Karier Berikutnya

Pengumuman kepergian Chen memantik spekulasi soal langkah selanjutnya. Sejumlah peneliti dari perusahaan AI Amerika Serikat, termasuk Anthropic, menyatakan minat bertemu dengannya. Sholto Douglas, peneliti Anthropic, menanyakan apakah Chen masih berencana kuliah di Carnegie Mellon University dan mengundangnya ke San Francisco.

Chen mengonfirmasi di X bahwa ia berencana bepergian ke San Francisco. Ketika netizen menanyakan apakah ia akan bergabung dengan Anthropic, ia menjawab tidak. Ia juga belum mengonfirmasi apakah akan melanjutkan studi ke jenjang universitas atau tetap bekerja di bidang penelitian AI.

Bukan Remaja Ajaib AI Pertama

Chen bukan satu-satunya remaja China yang menarik perhatian internasional di bidang AI. Tu Jinhao, mantan pemagang DeepSeek, ikut menulis penelitian tentang model AI R1 saat masih SMA di Shanghai. Ia memulai studi sarjana di University of Wisconsin-Madison pada September 2025.

Meski mendapat pengakuan, Chen menolak disebut jenius. Dalam wawancara dengan China Newsweek, ia mengimbau publik tidak mengidolakannya dan menegaskan bahwa penelitian tersebut adalah hasil kerja tim.

Rekan kerja di Moonshot, Du Yulun, mengaku menyayangkan keputusan Chen, tetapi mendukung keinginannya mengeksplorasi peluang baru selagi muda. Kepergian Chen terjadi di tengah persaingan sengit perusahaan teknologi China dan Amerika Serikat dalam memperebutkan talenta AI.

Berita Lainnya

Index