Laba Pupuk Indonesia Melonjak 252,8% Jadi Rp 8,51 Triliun, Harga Pupuk Malah Turun

Laba Pupuk Indonesia Melonjak 252,8% Jadi Rp 8,51 Triliun, Harga Pupuk Malah Turun
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi memaparkan capaian kinerja perusahaan dalam konferensi pers di Jakarta.

Lonjakan laba ini bukan berasal dari kenaikan harga jual. Pupuk Indonesia justru mencatatkan pendapatan Rp 59,67 triliun, tumbuh 51% secara tahunan, sementara EBITDA mencapai Rp 14,28 triliun atau naik 140%. Pertumbuhan itu ditopang oleh peningkatan volume produksi dan efisiensi biaya operasional di tengah program pemerintah menekan harga pupuk untuk petani.

Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi capaian ini dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI. "Harga pupuk turun, volume tambah, tapi keuntungan bagi PT Pupuk Indonesia naik 252,8%. Pertama kali harga pupuk dapat kita turunkan kepada rakyat," ujarnya di hadapan para anggota dewan.

Efisiensi dan Transformasi Jadi Motor Utama

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan kinerja tersebut merupakan buah dari transformasi bisnis dan tata kelola yang dijalankan menyeluruh. Penerapan operational excellence dan cost leadership secara konsisten menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan.

"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," kata Rahmad.

Industri pupuk menghadapi tantangan volatilitas harga bahan baku dan energi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pupuk Indonesia memperluas sumber pasokan dan skema kontrak bahan baku jangka panjang. Di sisi pendapatan, perusahaan memperkuat segmen non-subsidi dan produk non-pupuk agar tidak bergantung pada siklus harga komoditas.

Revitalisasi 7 Pabrik dan Ekspansi ke Bisnis Baru

Penguatan keuangan memberi ruang bagi Pupuk Indonesia untuk meningkatkan investasi. Perusahaan berencana merevitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan, sejalan dengan arahan Danantara untuk mengoptimalkan portofolio aset BUMN agar lebih produktif.

Saat ini kapasitas produksi nasional Pupuk Indonesia mencapai sekitar 14,8 juta ton per tahun. Optimalisasi aset menjadi kunci untuk menjaga biaya produksi tetap kompetitif sekaligus memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri dan merespons peluang pasar global.

Perusahaan juga menyiapkan sumber pertumbuhan baru melalui diversifikasi bisnis. Dalam beberapa tahun mendatang, Pupuk Indonesia akan mengembangkan metanol dan turunannya, bisnis clean ammonia, serta industrial support. Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap siklus bisnis pupuk sekaligus menangkap peluang transisi menuju industri rendah emisi.

Dengan strategi yang berlapis—efisiensi operasional, revitalisasi aset, dan diversifikasi pendapatan—Pupuk Indonesia menunjukkan bahwa BUMN pupuk bisa tetap untung besar meski pemerintah menekan harga komoditas strategis untuk rakyat.

Berita Lainnya

Index