Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter hingga akhir 2026, demikian penegasan PT Pertamina Patra Niaga pada 24 Oktober 2026. Konsumen pengguna kendaraan pribadi maupun pelaku angkutan barang perlu mencermati rincian harga nonsubsidi yang juga tidak berubah, karena selisihnya memengaruhi biaya harian. Harga eceran di SPBU Pertamina, BP-AKR, dan Vivo tercatat stagnan, sementara Shell menaikkan satu produknya.
PT Pertamina Patra Niaga memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Biosolar tidak berubah sampai akhir 2026. Penetapan itu berlaku di tengah harga minyak mentah Brent yang berada di US$111,66 per barel atau naik 2,76%, dan nilai tukar rupiah di posisi 17.956 per dolar Amerika Serikat.
Harga BBM nonsubsidi juga dipertahankan pada level periode sebelumnya. Pertamina menyebut keputusan itu mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Konsekuensinya, selisih antara produk bersubsidi dan nonsubsidi tetap lebar.
Besaran Harga BBM di SPBU per 24 Oktober 2026
Untuk wilayah DKI Jakarta, berikut daftar harga yang berlaku di SPBU Pertamina:
- Pertalite (subsidi): Rp10.000 per liter
- Biosolar (subsidi): Rp6.800 per liter
- Pertamax: Rp15.950 per liter
- Pertamax Green 95: Rp19.150 per liter
- Pertamax Turbo: Rp19.600 per liter
- Dexlite: Rp23.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp25.200 per liter
Di pengecer swasta, BP 92 dan Revvo 92 sama-sama dibanderol Rp16.130 per liter. BP Ultimate dan Revvo 95 masing-masing Rp19.330 per liter. Harga diesel di tiga pengecer swasta, yakni Shell V-Power Diesel, BP Ultimate Diesel, dan Vivo Diesel Primus, identik Rp25.420 per liter.
Siapa yang Paling Terdampak Keputusan Harga
Operator angkutan barang, ekspedisi, dan armada pertambangan bergantung pada Biosolar Rp6.800 per liter untuk menjaga struktur biaya. Selama harga ditahan, biaya operasional mereka stabil.
Namun, jarak harga yang lebar antara Biosolar dan Dexlite Rp23.700 per liter mendorong konsumen bergeser ke produk bersubsidi. Volume konsumsi bersubsidi berpotensi naik, sehingga risiko pengetatan kuota dan pengawasan ikut membesar. Armada yang terkena pembatasan bisa terpaksa beralih ke Dexlite atau Pertamina Dex yang jauh lebih mahal.
Mengapa Harga Ditahan dan Apa Risikonya
Keputusan menahan harga eceran memindahkan beban volatilitas dari konsumen ke margin korporasi dan anggaran negara. Sebagian kenaikan biaya diserap margin Pertamina pada produk nonsubsidi, sebagian lagi bergeser ke beban subsidi dan kompensasi yang ditanggung negara.
Dalam jangka pendek, harga BBM yang stabil menahan tekanan inflasi. Risiko fiskal tidak hilang, hanya tertunda ke titik ketika jendela kebijakan berakhir pada akhir 2026. Saat itu terjadi, penyesuaian harga berpotensi datang sekaligus, bukan bertahap.
Dampak ke Pengecer Swasta
Shell, BP-AKR, dan Vivo menghadapi tekanan margin paling sempit. Dengan rupiah di 17.956 per dolar AS, biaya perolehan mereka naik, sementara kemampuan menaikkan harga dibatasi kompetisi dan posisi Pertamina sebagai pemegang pangsa terbesar.
Shell menaikkan V-Power Diesel menjadi Rp25.420 per liter. Produk Pertamina, BP-AKR, dan Vivo tidak berubah. Harga identik di tiga merek asing itu mencerminkan patokan paritas impor yang sama.
Cara Memantau Harga Resmi
Masyarakat yang ingin memastikan harga berlaku di wilayahnya dapat merujuk kanal resmi Pertamina, yakni situs pertamina.com dan aplikasi MyPertamina. Harga di luar DKI Jakarta dapat berbeda sesuai keputusan daerah masing-masing.
Pembeli juga sebaiknya mengecek tanda harga di dispenser SPBU. Jika menemukan harga tidak sesuai atau pungutan liar, laporkan ke call center Pertamina 135 atau kanal pengaduan resmi pemerintah. Waspadai oknum yang menjanjikan harga khusus atau kelancaran pembelian BBM bersubsidi dengan imbalan uang.