BPH Migas Ungkap Pemicu Antrean BBM di Sulsel: Permintaan Pertalite Naik 11 Persen

BPH Migas Ungkap Pemicu Antrean BBM di Sulsel: Permintaan Pertalite Naik 11 Persen
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas meninjau SPBU 74.902.32 di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan lonjakan permintaan BBM bersubsidi terjadi bertahap sejak kenaikan harga Pertamax, Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo. Awalnya kenaikan hanya dua persen dari kondisi normal, kini mencapai 11 persen untuk Pertalite secara nasional.

"Setelah kenaikan BBM nonsubsidi jenis Pertamax Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo itu ada kenaikan permintaan masyarakat untuk BBM subsidi secara bertahap. Awalnya cuma dua persen dari kondisi normal. Sekarang Pertalite itu kenaikannya bisa mencapai 11 persen secara nasional," ucap Wahyudi di SPBU 74.902.32 Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Minggu (13/9).

Perpindahan Konsumen Nonsubsidi ke Pertalite

Wahyudi tidak memungkiri kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat sebagian konsumen beralih ke Pertalite dan Solar. Perpindahan ini yang memperberat tekanan di SPBU, terutama di wilayah dengan aktivitas logistik dan pariwisata tinggi.

BPH Migas memastikan ketahanan stok BBM tersedia hingga 14 hari ke depan. Lembaga itu juga mengintervensi dengan penambahan stok serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan PT Pertamina Patra Niaga.

Regulasi Ganjil-Genap hingga Batas Pembelian

BPH Migas mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang menerapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi. Regulasi itu dinilai mampu mengurai antrean sekaligus mencegah kebocoran dan salah sasaran penerima.

Beberapa aturan yang berlaku antara lain sistem ganjil-genap plat kendaraan sesuai tanggal, batas maksimal pembelian Rp 50 ribu untuk roda dua, dan Rp 300 ribu untuk roda empat.

"Contohnya, pembelian BBM, kalau tanggalnya (hari ini) ganjil adalah plat nomor ganjil. Nanti kalau genap besok. Tadi, kita sudah dialog dengan masyarakat, ternyata ojol, grab saja, butuh lima liter untuk dipakai dua hari," ucapnya.

Pertamina Sebut Antrean Tidak Wajar

Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom menyebut antrean dalam 2-3 bulan terakhir dipengaruhi banyak faktor. Kenaikan permintaan dari sektor pariwisata dan logistik berperan besar.

Rainier menegaskan antrean bukan berarti stok berkurang. Pertamina mengaku rutin menyalurkan Pertalite dan LPG ke SPBU tanpa putus.

"Stok selalu kami suplai ke SPBU, tidak pernah putus setiap hari, tetapi antrean terus saja terjadi," ujarnya usai rapat bersama DPRD Sulsel, Rabu (9/9).

Pertamina mencatat antrean kendaraan masih terjadi hingga dini hari. "Sampai tadi malam saja di SPBU kami jam 02.00 pagi sampai jam 03.00 pagi itu masih ada antrean, dan itu tidak wajar," ungkap Rainier.

Langkah Pengurai Antrean

Pertamina menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurai antrean. Beberapa SPBU akan mendapat penambahan jam operasional. Perusahaan juga meminta dukungan aparat penegak hukum dan Dinas Perhubungan setempat untuk mengatur kendaraan yang mengantre hingga keluar area SPBU.

"Kami butuh support dari pengawasan APH, dari Dishub untuk mengatur antrean yang terjadi sampai di luar SPBU, karena ini kami rasa sudah mengganggu ketertiban umum," kata Rainier.

Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika mengatakan seluruh anggota dewan akan turun ke dapil masing-masing untuk memastikan ketersediaan BBM dan LPG subsidi.

"Jaminan dari Pertamina, stok untuk BBM dan LPG itu yang bersubsidi cenderung aman. Tapi, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana pengawasan stok ini bisa benar-benar tepat sasaran dan digunakan oleh yang memang membutuhkan," kata Cicu, sapaan akrabnya.

Berita Lainnya

Index