Mendag Klaim Produk UMKM Isi 60% Etalase Ritel Modern, Ini Penopangnya

Mendag Klaim Produk UMKM Isi 60% Etalase Ritel Modern, Ini Penopangnya
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan keterangan dalam acara Pembukaan Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut angka tersebut berdasarkan laporan pelaku ritel modern. Ia menyampaikannya dalam acara Pembukaan Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

"Menurut informasi dari ritel modern, lebih dari 60 persen produk-produk UMKM, produk-produk lokal, itu sudah mengisi di ritel modern," ujar Budi.

Dari Aturan Wajib 30 Persen ke Pola Kemitraan

Sebelum skema kemitraan berjalan, pemerintah pernah mewajibkan ritel modern menyerap minimal 30 persen produk UMKM. Kebijakan itu tidak bertahan lama. Sejumlah negara menentangnya dan menilai aturan tersebut diskriminatif terhadap produk asing.

"Dulu ada ketentuan ritel modern itu harus menjual minimal 30 persen produk UMKM, tetapi itu ditentang negara lain. Diusut negara lain, dianggap itu diskriminasi. Sekarang diubah menjadi pola kemitraan," kata Budi.

Pendekatan bergeser ke kerja sama sukarela. Kementerian Perdagangan menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) untuk mendorong penyerapan produk lokal.

"Kita sudah bermitra dengan Hippindo dan Aprindo. Jadi, produk UMKM kita sekarang banyak dijual di mal, department store, di ritel modern sudah banyak," ujar Budi.

METRO Jadi Contoh, Porsi Lokal Tembus 60 Persen

METRO Department Store disebut sebagai salah satu peritel dengan porsi produk lokal di atas 60 persen. Presiden Komisaris METRO Anita Ratnasari Tanjung mengaitkan hal itu dengan struktur kepemilikan perusahaan. CT Corp kini memegang 100 persen saham METRO, setelah sebelumnya dikuasai Metro Holding Singapore.

"Ini menandakan bahwa kita terus support program UMKM, tentunya di METRO. Produk-produk UMKM yang sudah ada di METRO tentunya sudah dikurasi terlebih dahulu dan juga ini merupakan langkah yang sangat baik, karena dilihat dari kualitasnya sudah sangat baik," ujar Anita dalam acara "Launching Akses Pasar Produk UMKM ke Jaringan METRO Department Store" di gerai METRO, Trans Studio Mall Cibubur, Kamis (9/7).

Bagi Pelaku UMKM dan Investor Ritel

Bagi pelaku UMKM, masuk ke etalase ritel modern berarti membuka akses ke konsumen kelas menengah dengan volume penjualan yang lebih stabil dibanding kanal pasar tradisional. Kurasi produk menjadi syarat utama, terutama untuk kategori fesyen, makanan olahan, dan kosmetik.

Bagi investor, tingkat penetrasi produk lokal di ritel modern menjadi indikator daya saing pemasok dalam negeri terhadap barang impor. Peritel yang mampu memperbesar porsi produk lokal biasanya lebih terlindungi dari gejolak kurs, karena rantai pasoknya tidak sepenuhnya bergantung pada impor.

Pemerintah belum memerinci target resmi porsi produk UMKM di ritel modern untuk periode berikutnya. Yang jelas, pendekatan kemitraan akan terus dipakai menggantikan instrumen regulasi wajib yang sebelumnya berbenturan dengan aturan perdagangan internasional.

Berita Lainnya

Index