SELARASRIAU.COM — Lima bandara di Jawa dan Sumatera sempat lumpuh total akibat hujan abu vulkanik erupsi Anak Krakatau pada 6-7 September 2026, sebelum kembali beroperasi Selasa dini hari. Organisasi lingkungan Walhi menilai peristiwa ini menjadi alarm untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur dan protokol keselamatan publik dalam menghadapi bencana serupa.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan pola erupsi yang kembali ke karakteristik strombolian menandakan berakhirnya fase erupsi menerus untuk sementara. "Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus," ujarnya.
Lumpuhnya Lima Bandara dan Dampak ke Penerbangan
Dampak paling konkret langsung dirasakan sektor transportasi udara. Sedikitnya lima bandara terpaksa ditutup total selama dua hari, yaitu Soekarno-Hatta (Banten), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Husein Sastranegara (Bandung), Radin Inten II (Lampung), dan Budiarto Curug.
Penutupan ini memicu pembatalan dan penundaan ratusan jadwal penerbangan, mengganggu mobilitas penumpang serta distribusi kargo logistik antar pulau. Namun, pada Selasa dini hari (8/9) pukul 00.01-00.30 WIB, tiga bandara utama—Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara—resmi dibuka kembali setelah hasil paper test memastikan kondisi abu vulkanik sudah aman bagi operasional pesawat.
Status Siaga Level III dan Zona Terlarang Radius 3 Kilometer
Badan Geologi masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Rekomendasi resmi dikeluarkan untuk meniadakan seluruh aktivitas masyarakat, nelayan, dan wisatawan dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah.
Potensi bahaya yang diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terulang. Masyarakat yang terdampak hujan abu diimbau mengenakan masker untuk mencegah gangguan pernapasan. Informasi resmi dapat diakses melalui PVMBG di (022) 7272606 atau Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di (0254) 651449.
Walhi: Evaluasi Menyeluruh Bukan Hanya Soal Radius Aman
Menanggapi rentetan bencana ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap sistem mitigasi bencana nasional. Evaluasi tidak hanya menyoroti keselamatan publik di sekitar gunung, tetapi juga ketahanan infrastruktur transportasi dan kesehatan lingkungan jangka panjang.
Walhi menyoroti paparan abu vulkanik yang berpotensi mencemari sumber air dan udara dalam skala luas, melampaui batas administratif provinsi Banten dan Lampung. Organisasi lingkungan ini menilai insiden penutupan lima bandara sekaligus menunjukkan kerentanan sektor penerbangan yang belum memiliki protokol darurat memadai untuk menghadapi gangguan vulkanik masif.
Data kegempaan periode 7-8 September 2026 menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih tinggi: 2 kali gempa erupsi, 4 kali gempa hembusan, 76 kali gempa low frequency, 100 kali gempa hybrid/fase banyak, 8 kali gempa vulkanik dangkal, dan 9 kali gempa vulkanik dalam. Fluktuasi angka ini menjadi dasar ilmiah bagi Badan Geologi untuk tidak menurunkan status siaga meski bandara telah kembali beroperasi.