Khanduri Raya 8 Belanga membuka rangkaian Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 pada 11 September pukul 16.30 WIB. Menu pembuka ini menyajikan delapan jenis olahan kuah istimewa yang merepresentasikan delapan suku asli di Aceh. Aroma pekat rempah langsung menyambut siapa saja yang melangkah ke Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.
Ragam Masakan dari 11 Kabupaten dan Kota
Paviliun Kuliner Tradisional Aceh menjadi panggung utama bagi ragam hidangan khas dari 11 daerah. Menu autentik dari Sabang, Aceh Besar, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Tamiang, hingga Aceh Timur berkumpul di satu tempat. Pengunjung bisa mencicipi kelezatan sajian lokal sekaligus mendengarkan kisah asal-usulnya langsung dari penutur cerita di setiap gerai.
Lebih dari 100 pelaku UMKM kuliner meramaikan festival ini, berkolaborasi dengan 20 komunitas kreatif asal Aceh, Jakarta, dan Bali. Gelaran yang telah empat kali masuk Top 10 Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata RI ini dirancang bukan sekadar tempat transaksi makanan biasa.
“ACF tahun ini bukan lagi sekadar festival kuliner atau pasar UMKM biasa. Kami ingin menjadikannya sebagai ruang untuk mengenal gastronomi Aceh yang berbasis sejarah, budaya dan kekayaan rempah,” kata Founder sekaligus Festival Director ACF, Wan Windi Lestari.
Eksplorasi Rasa Nusantara dan Lokakarya Bumbu
Bagi penikmat kuliner modern dan luar daerah, zona Bandar Rasa menyediakan aneka hidangan comfort food global serta kreasi baru. Area Galarasa Nusantara turut membawa kekayaan cita rasa dari berbagai pelosok tanah air. Untuk area Galarasa Nusantara, panitia memberlakukan sistem kupon jajan senilai Rp15 ribu yang dapat dibelanjakan langsung di stan festival.
Agenda edukasi dapur juga hadir lewat kelas pengolahan bahan pangan lokal. Pengunjung dapat belajar meracik bumbu Aceh, memasak hidangan warisan, membuat kaldu bubuk dari ikan kayu, hingga mengolah asam sunti menjadi candy roll yang unik. Para ahli, koki, dan peneliti bumbu juga berkumpul dalam Forum Gastronomy Semeja Makan.
“ACF menjadi salah satu gambaran semakin berkembangnya ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif di Aceh,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi.
Bagi yang berencana datang berburu santapan lezat, bawalah wadah serta botol minum sendiri. Penyelenggara melarang penjualan air minum kemasan sekali pakai demi menjaga arena kuliner tetap ramah lingkungan.