JAKARTA – Api yang sempat padam selama dua hari di kawasan konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu, Kalimantan Tengah, kembali menyala. Bara ternyata masih tersimpan di bawah permukaan lahan gambut.
Kondisi itu menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petugas dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Penyanyi Sherina Munaf ikut turun langsung membantu proses pemadaman di lapangan.
Sherina bergabung bersama gerakan Pawerful Voices yang berkolaborasi dengan sejumlah pihak, mulai dari BOS Foundation, BKSDA Kalimantan Tengah, Damkar Dinas Kehutanan hingga KPHP Kahayan Tengah.
Melalui media sosial pribadinya, Sherina membagikan sejumlah momen ketika berada di lokasi karhutla. Ia terlihat mengenakan perlengkapan pemadaman dan alat pelindung diri saat bergabung bersama petugas.
Salah satu lokasi yang didatanginya adalah Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.
Pemadaman di kawasan konservasi tersebut tidak mudah. Tim BKSDA Kalimantan Tengah bahkan telah bekerja selama delapan hari berturut-turut.
Api sempat berhasil dipadamkan selama dua hari. Namun, kebakaran kembali muncul karena bara masih tersimpan di bawah permukaan gambut.
Karakter lahan gambut memang membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api yang terlihat di permukaan. Bara yang masih tersimpan di dalam tanah harus benar-benar dipastikan padam agar kebakaran tidak kembali muncul.
Sherina juga memperlihatkan proses rewetting atau pembasahan kembali yang dilakukan di kawasan Hiu Putih.
Pembasahan dilakukan untuk memadamkan bara yang tersembunyi di bawah permukaan gambut. Proses pemadaman harus terus dilakukan sampai tidak ditemukan lagi asap yang keluar dari tanah.
Perjalanan Sherina bersama tim kemudian berlanjut ke lokasi kebakaran di Bukit Rawi.
Di kawasan ini, ia kembali ikut membantu pemadaman bara. Kondisi lapangan dipenuhi asap tebal hingga membuat jarak pandang sangat terbatas.
Tak hanya ikut memadamkan api, Sherina bersama Pawerful Voices juga mendatangi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Palangka Raya.
Kedatangan mereka untuk berdiskusi sekaligus menyerahkan bantuan logistik kepada dosen dan mahasiswa yang turut terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di area belakang gedung fakultas.
Upaya penanganan karhutla tersebut kemudian diperluas melalui penggalangan dana yang dibuka Pawerful Voices.
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan di lapangan, termasuk pengadaan peralatan pemadam dan alat pelindung diri, mobilisasi petugas, logistik, patroli dan pemantauan hingga pembuatan sekat bakar.
Sebagian bantuan juga diarahkan untuk menangani satwa yang terdampak karhutla. Penanganannya mencakup perawatan, rehabilitasi, evakuasi hingga relokasi satwa dari kawasan terdampak kebakaran. (***)