Motor Listrik atau Motor Bensin, Mana yang Lebih Hemat? Ini Perbandingan Biayanya

Motor Listrik atau Motor Bensin, Mana yang Lebih Hemat? Ini Perbandingan Biayanya
Motor listrik dan motor bensin memiliki biaya operasional serta kebutuhan perawatan yang berbeda. Perbandingan sebaiknya mencakup energi, harga beli, dan biaya kepemilikan jangka panjang. (Ilustrasi AI)

SELARASRIAU.COM - Motor listrik dan motor bensin memiliki keunggulan masing-masing. Namun, bagi masyarakat yang menggunakan sepeda motor setiap hari, biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum membeli kendaraan.

Motor listrik sering dianggap lebih hemat karena menggunakan energi listrik, bukan bensin. Selain itu, motor listrik tidak membutuhkan sejumlah perawatan mesin yang rutin dilakukan pada motor berbahan bakar bensin, seperti penggantian oli mesin dan busi.

Meski begitu, harga beli, biaya pengisian daya, perawatan, dan kebutuhan penggantian baterai perlu diperhitungkan sebelum menentukan pilihan.

Berdasarkan simulasi biaya energi yang pernah dipublikasikan PT PLN (Persero), motor listrik membutuhkan biaya pengisian daya yang lebih rendah dibandingkan biaya bensin untuk jarak tempuh yang sama. PLN pada Agustus 2023 mencontohkan, sepeda motor listrik membutuhkan sekitar 1,2 kWh untuk menempuh 50 kilometer, sedangkan motor bensin dalam perhitungan tersebut menggunakan sekitar satu liter BBM. (PLN)

Untuk melihat perbandingannya, berikut simulasi biaya energi, perawatan, dan sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli motor listrik atau motor bensin.

1. Biaya Energi: Motor Listrik Lebih Murah untuk Jarak yang Sama

Perbedaan paling mudah terlihat adalah biaya energi yang dibutuhkan untuk berkendara.

Motor bensin membutuhkan BBM, sedangkan motor listrik menggunakan listrik yang disimpan dalam baterai. Besarnya biaya bergantung pada konsumsi kendaraan, harga energi, serta cara pengisian daya.

Berdasarkan laporan ANTARA pada 1 Oktober 2026, harga Pertalite tercatat Rp10.000 per liter. Sementara itu, tarif listrik rumah tangga pada Oktober 2026 bergantung pada golongan pelanggan dan daya yang digunakan. Tarif untuk pelanggan rumah tangga 1.300–2.200 VA tercatat Rp1.444,70 per kWh, sedangkan golongan 3.500 VA ke atas Rp1.699,53 per kWh. (ANTARA; Ditjen Ketenagalistrikan ESDM)

Dengan menggunakan angka konsumsi dari simulasi PLN, perbandingan sederhananya sebagai berikut.

Catatan: Angka konsumsi motor listrik 1,2–1,5 kWh untuk 50 km berasal dari contoh perhitungan PLN yang dipublikasikan pada 2023. Angka tersebut bukan konsumsi pasti semua motor listrik. Biaya listrik juga menggunakan rentang tarif rumah tangga yang berlaku pada Oktober 2026. Perhitungan belum memasukkan variasi konsumsi, rugi pengisian daya, biaya layanan pengisian umum, atau sistem tukar baterai. (PLN; PLN)

Dari simulasi tersebut, pengisian motor listrik di rumah membutuhkan biaya energi lebih rendah untuk menempuh jarak yang sama.

Namun, hasil aktual bisa berbeda. Motor listrik dengan baterai dan konsumsi energi berbeda dapat membutuhkan daya lebih besar. Demikian pula motor bensin dengan kapasitas mesin, kondisi lalu lintas, dan efisiensi bahan bakar yang tidak sama.

2. Simulasi Biaya Sebulan untuk Pemakaian Harian

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan seseorang menggunakan motor untuk bekerja dan beraktivitas sejauh 30 kilometer setiap hari selama 30 hari.

Total jarak yang ditempuh mencapai 900 kilometer per bulan. Dengan asumsi konsumsi yang sama seperti contoh sebelumnya, berikut gambaran biaya energinya.

Dalam simulasi ini, biaya energi motor listrik berada di kisaran Rp31.000–Rp46.000 per bulan. Sementara itu, biaya Pertalite untuk motor bensin diperkirakan mencapai Rp180.000.

Artinya, selisih biaya energi dalam contoh tersebut sekitar Rp134.000–Rp149.000 per bulan.

Jika pola pemakaian dan asumsi konsumsi tetap sama selama setahun, selisih biaya energi bisa mencapai sekitar Rp1,6 juta–Rp1,8 juta.

Namun, angka tersebut bukan jaminan penghematan setiap pengguna. Perhitungan ini hanya membandingkan energi dengan asumsi konsumsi tertentu. Biaya servis, pajak, pembelian kendaraan, baterai, serta biaya pengisian di luar rumah belum dimasukkan.

Pengguna motor listrik yang mengandalkan stasiun pengisian umum atau layanan tukar baterai juga perlu menghitung tarif layanan yang benar-benar dibayarkan. Dengan demikian, biaya aktualnya bisa berbeda dari simulasi pengisian daya di rumah.

3. Biaya Perawatan Motor Listrik dan Motor Bensin

Selain energi, biaya perawatan juga memengaruhi pengeluaran pemilik kendaraan.

Motor bensin memiliki mesin pembakaran yang membutuhkan perawatan berkala. Beberapa komponen yang umumnya diperiksa atau diganti sesuai jadwal servis antara lain oli mesin, busi, dan filter udara.

Motor listrik memiliki sistem penggerak yang berbeda. Kendaraan ini tidak menggunakan oli mesin dan busi seperti motor bensin. Karena itu, beberapa kebutuhan servis rutin dapat berkurang.

Dalam artikel mengenai biaya servis motor listrik yang diterbitkan pada April 2026, Suara.com menjelaskan bahwa perawatan motor listrik lebih berfokus pada komponen seperti sistem kelistrikan, pengereman, ban, serta oli gardan pada model yang menggunakannya. (Suara.com)

Meski begitu, bukan berarti motor listrik bebas biaya perawatan.

Kedua jenis kendaraan tetap membutuhkan pemeriksaan ban, rem, suspensi, lampu, dan komponen keselamatan lainnya. Jadwal serta biaya servis bergantung pada model, jarak tempuh, kondisi pemakaian, dan ketentuan produsen.

Motor listrik juga memiliki komponen baterai dan sistem kelistrikan yang memerlukan penanganan sesuai petunjuk pabrikan. Jika terjadi kerusakan di luar garansi, biaya perbaikannya dapat menjadi pertimbangan tersendiri.

Karena itu, sebelum membeli, calon pengguna sebaiknya membandingkan jadwal servis dan ketentuan garansi dari masing-masing produsen.

4. Harga Beli Awal Perlu Ikut Dihitung

Biaya listrik yang lebih murah tidak otomatis membuat motor listrik menjadi pilihan paling ekonomis untuk semua orang.

Harga beli kendaraan merupakan pengeluaran awal yang perlu diperhitungkan. Perbandingan sebaiknya dilakukan antara model yang sesuai dari segi fungsi, kapasitas, kenyamanan, dan kebutuhan perjalanan.

Jika motor listrik yang dipilih memiliki harga lebih tinggi daripada motor bensin pembanding, selisih harga tersebut perlu dibandingkan dengan potensi penghematan biaya energi dan perawatan.

Sebagai ilustrasi, apabila seseorang bisa menghemat Rp1,6 juta per tahun dari biaya energi, penghematan itu belum tentu langsung menutup selisih harga pembelian kendaraan. Waktu yang diperlukan untuk menutup selisih tersebut bergantung pada harga kedua motor dan biaya operasional sebenarnya.

Rumus sederhananya adalah:

Waktu balik modal = selisih harga beli ÷ penghematan operasional per tahun.

Rumus tersebut baru memberikan gambaran awal. Untuk perhitungan yang lebih lengkap, masukkan juga biaya perawatan, asuransi jika ada, pajak, pembiayaan, serta kemungkinan biaya baterai.

Jika selisih harga beli besar, pengguna yang jarang berkendara mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh penghematan total dibandingkan pengguna yang menempuh jarak jauh setiap hari.

5. Bagaimana dengan Biaya Baterai Motor Listrik?

Baterai merupakan salah satu komponen penting pada motor listrik. Kondisinya berpengaruh terhadap jarak tempuh dan kenyamanan penggunaan.

Karena itu, calon pembeli perlu memahami sistem baterai yang digunakan. Sebagian motor memakai baterai yang dapat dilepas dan diisi ulang, sedangkan model lain menggunakan sistem baterai yang tidak dirancang untuk dilepas oleh pengguna.

Ada pula kendaraan yang menggunakan skema sewa atau tukar baterai. Pada skema tersebut, biaya pemakaian perlu dihitung berdasarkan tarif layanan yang berlaku.

Tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh motor listrik membutuhkan penggantian baterai setelah jangka waktu yang sama. Umur pakai baterai dipengaruhi oleh teknologi, pola pengisian, suhu, intensitas penggunaan, dan kondisi perawatan.

Sebelum membeli, periksa beberapa hal berikut:

  • Masa garansi baterai dan batas ketentuannya.
    Ketersediaan pusat servis resmi.
    Harga baterai pengganti jika informasi tersebut tersedia.
    Ketentuan sewa atau tukar baterai.
    Ketersediaan suku cadang dan layanan purnajual.

Informasi tersebut penting untuk memperkirakan biaya kepemilikan dalam jangka panjang, bukan hanya biaya pengisian daya harian.

6. Motor Listrik Lebih Cocok untuk Pengguna Seperti Apa?

Motor listrik dapat menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang memiliki akses pengisian daya di rumah dan menggunakan kendaraan untuk perjalanan rutin.

Contohnya, perjalanan dari rumah ke kantor, mengantar anak, berbelanja, atau menjalankan aktivitas di sekitar tempat tinggal. Pola pemakaian yang teratur memudahkan pengguna memperkirakan kebutuhan pengisian daya.

Pengguna dengan jarak perjalanan harian yang cukup tinggi juga berpotensi merasakan penghematan energi lebih besar. Namun, mereka tetap perlu memastikan jarak tempuh motor sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

Sebelum memilih, perhatikan pula waktu pengisian, ketersediaan stopkontak yang aman, dan petunjuk pemasangan dari produsen. Jangan menggunakan instalasi listrik yang tidak sesuai atau mengisi baterai dengan perangkat yang tidak direkomendasikan.

Motor listrik juga dapat dipertimbangkan oleh pengguna yang ingin mengurangi emisi gas buang langsung dari kendaraannya saat digunakan di jalan. Meski demikian, dampak lingkungan secara keseluruhan turut dipengaruhi sumber listrik, proses produksi, serta pengelolaan baterai.

7. Motor Bensin Masih Menarik bagi Pengguna dengan Kebutuhan Tertentu

Motor bensin tetap memiliki keunggulan yang perlu dipertimbangkan.

Salah satunya adalah kemudahan mengisi bahan bakar melalui SPBU yang tersedia di banyak wilayah. Pengguna tidak perlu menunggu pengisian baterai seperti pada motor listrik yang diisi melalui kabel.

Motor bensin juga memiliki beragam pilihan model, kapasitas mesin, dan rentang harga. Hal ini memungkinkan calon pembeli memilih kendaraan sesuai anggaran dan kebutuhan perjalanan.

Bagi pengguna yang sering menempuh perjalanan jauh, melintasi wilayah dengan fasilitas pengisian listrik terbatas, atau belum memiliki akses pengisian daya di rumah, motor bensin bisa lebih praktis.

Namun, kemudahan tersebut tidak berarti biaya operasionalnya selalu lebih murah. Konsumsi bensin, harga BBM, biaya servis, dan jarak tempuh tetap menentukan total pengeluaran.

Karena itu, keputusan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan penggunaan sehari-hari, bukan hanya anggapan bahwa satu jenis kendaraan pasti lebih baik daripada yang lain.

Perbandingan Motor Listrik dan Motor Bensin

Berikut ringkasan beberapa aspek yang dapat dijadikan pertimbangan sebelum membeli.

Tabel tersebut merupakan perbandingan umum. Spesifikasi, harga, jarak tempuh, dan biaya aktual berbeda pada setiap model kendaraan.

Kesimpulan: Motor Listrik atau Motor Bensin, Mana yang Lebih Hemat?

Jika hanya membandingkan biaya energi untuk jarak tempuh yang sama, motor listrik yang diisi daya di rumah umumnya lebih hemat dibandingkan motor bensin.

Simulasi berdasarkan contoh konsumsi energi PLN menunjukkan bahwa perjalanan 900 kilometer per bulan dapat membutuhkan biaya listrik sekitar Rp31.000–Rp46.000, sedangkan biaya Pertalite diperkirakan Rp180.000. Angka ini menggunakan asumsi konsumsi tertentu dan belum mencakup biaya lain.

Namun, penghematan operasional bukan satu-satunya pertimbangan. Harga beli, biaya perawatan, garansi baterai, fasilitas pengisian, dan kebutuhan perjalanan juga berpengaruh terhadap total biaya kepemilikan.

Bagi pengguna yang setiap hari menempuh jarak relatif tetap dan bisa mengisi daya di rumah, motor listrik layak dipertimbangkan. Sementara itu, motor bensin dapat menjadi pilihan praktis bagi mereka yang membutuhkan fleksibilitas perjalanan dan belum memiliki akses pengisian listrik yang sesuai.

Jadi, pilihan paling hemat bukan semata-mata ditentukan oleh jenis motornya, melainkan oleh total biaya yang dikeluarkan selama kendaraan digunakan. (*)

#Lifestyle

Index

Berita Lainnya

Index