Bournemouth mencatat kemenangan kandang pertama mereka di kompetisi Eropa setelah mengalahkan Sturm Graz di Vitality Stadium. Dua gol pemain Brasil, Evanilson dan Rayan, memastikan tiga poin di Europa League meski klub masih belum meraih kemenangan di Premier League musim ini.
Kemenangan atas Sturm Graz menjadi momen bersejarah bagi Bournemouth. Klub yang pernah terpuruk di dasar klasemen Football League itu kini tampil di panggung Eropa, dan Europa League seakan menjadi tempat pelarian dari tekanan domestik yang belum juga sirna.
Laga di Vitality Stadium berlangsung dengan atmosfer berbeda. Lagu-lagu Elvis Presley dan Andy Williams menggantikan dentuman musik dansa yang biasa diputar, menandai malam istimewa bagi tuan rumah. Sebuah spanduk di tribun Steve Fletcher bertuliskan "Minus 17 to European dreams", mengenang perjalanan panjang klub dari keterpurukan menuju status klub kontinental.
Evanilson Buka Skor Lewat Sundulan Keras
Pelatih Marco Rose memilih menyimpan sejumlah pemain kunci untuk laga melawan Sunderland akhir pekan nanti. Rotasi itu dipahami mengingat Bournemouth baru saja menelan kekalahan 5-1 dari Chelsea. Rose sendiri pernah mengungkapkan kekacauan sepak bola Inggris, terutama di lini tengah yang ia sebut mirip pertarungan terbuka.
Meski tampil dengan komposisi berbeda, Bournemouth tetap mendominasi. Ben Gannon-Doak, pemain sayap kanan kidal yang kini langka, memberi kecepatan dari sisi kanan. Evanilson yang biasanya berperan sebagai target man kali ini bermain mendukung Álvaro Rodríguez.
Peluang besar pertama lahir dari umpan kapten Adam Smith yang melakukan overlap di luar Gannon-Doak. Marcus Tavernier menyambar dari kiri, tetapi bola melebar. Beberapa saat kemudian, umpan silang Gannon-Doak dari garis belakang gagal dimanfaatkan Rodríguez yang salah membaca arah bola.
Bournemouth sempat memasukkan bola ke gawang lewat situasi sepak pojok, namun gol dianulir karena bola menyentuh tangan Bafode Diakité. Tavernier juga menghantam sisi luar tiang gawang dengan tembakan jarak jauh. Sturm Graz mulai mendapat ruang, dan sempat dihadiahi penalti, tetapi wasit justru menghukum Belmin Beganovic karena diving.
Gol pembuka akhirnya datang dari kaki Smith yang mengirim umpan silang. Evanilson menyundul bola dengan kekuatan otot leher, bola membentur sudut gawang, dan menjadi gol Eropa pertama yang dirayakan di Boscombe.
Petrovic Selamatkan Bournemouth dari Kebangkitan Graz
Memasuki babak kedua, Sturm Graz tampil lebih ambisius. Simon Seidl melepaskan tembakan yang melebar tipis dari gawang Djordje Petrovic. Bournemouth yang energi lini tengahnya mulai terkuras berusaha merespons melalui Tavernier dan Lewis Cook.
Sturm Graz nyaris menyamakan kedudukan. Jürgen Heil menghantam tiang gawang, lalu Jacob-Peter Hödl memaksa Petrovic melakukan penyelamatan refleks luar biasa dari bola rebound. Momentum mulai berbalik, dan bayang-bayang kesulitan di Premier League kembali menghantui tuan rumah.
Rose merespons dengan memasukkan Rayan, Justin Kluivert, dan Ryan Christie pada menit ke-70. Pergantian itu berhasil mengunci lini tengah sekaligus menambah daya gedor. Meski Christie langsung membuang peluang dengan tembakan yang terlalu tinggi.
Rayan Pastikan Kemenangan Bersejarah
Rayan akhirnya menuntaskan pekerjaan dengan gol yang mengingatkan pada torehan serupa saat melawan Real Sociedad. Kiper Sturm Graz, Daniil Khudyakov, gagal mengantisipasi sepak pojok dengan baik, lalu hanya mampu menepis lemah tembakan Rayan yang melewati hutan kaki pemain di depan gawang.
Álvaro Rodríguez melengkapi pesta lewat penalti di masa injury time. Kemenangan ini menjadi jawaban atas tekanan yang membelit Bournemouth di kompetisi domestik, sekaligus menegaskan bahwa petualangan mereka di Eropa bukan sekadar kebetulan.