PEKANBARU — Industri minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi salah satu sektor yang menarik bagi generasi muda Riau. Namun untuk bisa masuk dan berkembang di industri energi, kemampuan teknis saja ternyata belum cukup.
Generasi muda juga perlu memiliki kemampuan nonteknis, kesiapan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar mengikuti perkembangan industri yang dinamis.
Gambaran mengenai kebutuhan tersebut disampaikan dalam Oil & Gas Career Insight Sharing Session yang digelar PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan secara daring.
Antusiasme terhadap dunia kerja migas terlihat cukup tinggi. Lebih dari 700 peserta mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari pelajar SMA dan SMK, mahasiswa, alumni Program Vokasi Migas PHR, tenaga pendidik hingga masyarakat umum.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya PHR memperluas pengetahuan generasi muda Riau mengenai perkembangan industri migas sekaligus kompetensi yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki dunia kerja.
Dalam sesi tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan industri migas, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja dan perjalanan seseorang memasuki sektor energi.
Tiga narasumber dihadirkan untuk memberikan perspektif dari sisi industri maupun pengalaman tenaga kerja.
Mereka yakni Analis Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Safitri Andani, Senior Officer Human Capital Business Partner Pertamina Patra Niaga Hary Kuswanto, serta Rizky Handika yang merupakan alumni Program Vokasi Migas PHR.
Tak Cukup Hanya Punya Kemampuan Teknis
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di industri migas.
Peserta mendapat gambaran bahwa bekal memasuki industri ini tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis sesuai bidang pekerjaan.
Kemampuan nonteknis atau soft skills juga menjadi bagian penting.
Kesiapan bekerja dalam tim, kemampuan berkomunikasi, beradaptasi terhadap perubahan, serta kemauan meningkatkan kompetensi menjadi bekal yang perlu dipersiapkan.
Hal tersebut semakin penting karena kebutuhan industri terus berkembang seiring perubahan teknologi, standar keselamatan, serta pola kerja di sektor energi.
Karena itu, generasi muda didorong untuk tidak berhenti pada pendidikan formal saja, tetapi terus meningkatkan kemampuan melalui pelatihan maupun sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
SKK Migas Dukung Pengembangan SDM Lokal
SKK Migas Sumbagut menyatakan dukungannya terhadap Program Vokasi Migas PHR sebagai salah satu upaya meningkatkan kompetensi generasi muda dan tenaga kerja lokal.
Analis Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Safitri Andani mengatakan kolaborasi antara berbagai pihak diperlukan agar keterampilan yang diberikan kepada peserta benar-benar sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Kami mengapresiasi inisiatif PHR dalam mengembangkan Program Vokasi Migas sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi generasi muda dan tenaga kerja lokal. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, lembaga pelatihan, dan industri menjadi penting agar kompetensi yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Safitri.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena kebutuhan tenaga kerja industri tidak selalu sama dari waktu ke waktu.
Program pengembangan SDM karena itu perlu menyesuaikan diri dengan standar dan kebutuhan aktual perusahaan.
Dari Pelatihan hingga Job Matching
Program Vokasi Migas PHR menjadi bagian dari kegiatan Community Involvement and Development (CID) perusahaan dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengembangan kompetensi dan peluang kerja.
Program tersebut tidak hanya memberikan pelatihan.
Tahapannya dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan kompetensi tenaga kerja, kemudian memberikan pelatihan berbasis standar industri dan sertifikasi.
Peserta juga mendapatkan pembekalan kesiapan memasuki dunia kerja hingga proses job matching atau mempertemukan kompetensi peserta dengan kebutuhan tenaga kerja di industri.
Dalam pelaksanaannya, PHR melibatkan sejumlah pemangku kepentingan.
Di antaranya PPSDM Migas Cepu, Pertamina Drilling Center/Indonesia Drilling Training Center, pemerintah daerah, kontraktor serta sejumlah industri pendukung.
Skema tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kemampuan pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Informasi Magang Banyak Ditunggu Peserta
Minat peserta tidak hanya terlihat dari jumlah kehadiran.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta berdasarkan perbandingan pre-test dan post-test, dengan skor yang dilaporkan berada di atas 90 persen.
Peserta juga memberikan sejumlah masukan untuk kegiatan selanjutnya.
Salah satu informasi yang banyak diharapkan adalah mengenai program magang.
Selain itu, peserta menginginkan adanya webinar lanjutan yang membahas lebih jauh industri migas dan peluang pengembangan karier.
Masukan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan informasi mengenai jalur memasuki industri energi masih cukup besar, khususnya di kalangan pelajar, mahasiswa dan lulusan baru.
Siapkan Kompetensi Sebelum Masuk Dunia Kerja
Sebagai salah satu wilayah utama kegiatan industri migas nasional, Riau memiliki kedekatan yang kuat dengan sektor energi.
Namun keberadaan industri tersebut perlu diikuti kesiapan sumber daya manusia lokal agar mampu menangkap peluang yang tersedia.
Pengembangan kompetensi sejak dini menjadi salah satu kunci.
Selain kemampuan sesuai bidang pendidikan, calon tenaga kerja perlu meningkatkan keterampilan pendukung, mengikuti perkembangan kebutuhan industri, serta memanfaatkan kesempatan pelatihan, sertifikasi maupun magang.
PHR menyatakan pengembangan kompetensi dan perluasan akses informasi akan terus didorong untuk membantu generasi muda mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun ekosistem SDM lokal yang mampu mendukung keberlanjutan industri energi di Riau maupun ketahanan energi nasional. (*)