Berkat Modal PNM Mekaar, Asra Kembangkan Usaha Sulam Kasab Aceh hingga Buka Lapangan Kerja

Berkat Modal PNM Mekaar, Asra Kembangkan Usaha Sulam Kasab Aceh hingga Buka Lapangan Kerja
Asra, Warga Kuala Baru, Aceh memperlihatkan lain sulam kasab hasil karyanya. Perempuan berusia 63 ini telah menekuni usaha sulam kasab selama lebih dari tiga dekade. (ist)

SELARASRIAU.COM, ACEH – Usia tak menyurutkan semangat Asra untuk terus berkarya. Perempuan berusia 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh, ini telah menekuni usaha sulam kasab selama lebih dari tiga dekade. Kerajinan tradisional yang awalnya hanya dikerjakan untuk membantu ekonomi keluarga itu kini berkembang dan mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Sejak 1990, Asra mulai menerima pesanan sulam kasab dari rumah ke rumah. Keterampilan menyulam yang semula dikerjakan di sela aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga perlahan berkembang menjadi usaha yang memberikan penghasilan bagi keluarganya.

Sulam kasab merupakan salah satu kerajinan tradisional khas Aceh yang membutuhkan keterampilan dan ketelitian tinggi. Setiap produk dibuat dengan tangan melalui proses pengerjaan yang cukup rumit dan memakan waktu.

Di tengah perkembangan zaman, tidak semua orang memiliki waktu dan kesabaran untuk membuat kerajinan tersebut. Kondisi inilah yang menjadi peluang bagi Asra untuk mengembangkan usahanya.

"Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri," ujar Asra.

Berbekal keterampilan yang dimilikinya, Asra terus mengembangkan usaha tersebut. Pesanan yang awalnya hanya datang dari masyarakat sekitar kini mulai menjangkau berbagai daerah di Aceh.

Meski permintaan terus berkembang, Asra tetap mempertahankan proses pengerjaan secara tradisional. Baginya, setiap hasil sulaman harus dibuat dengan teliti agar kualitas dan keindahan motifnya tetap terjaga.

"Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus," jelasnya.

Tambahan Modal PNM Mekaar Bantu Kembangkan Usaha

Perjalanan Asra dalam mempertahankan usaha sulam kasab tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kendala yang sempat dihadapinya adalah keterbatasan modal untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Pada 2020, Asra kemudian bergabung menjadi nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).

Tambahan modal yang diperolehnya dimanfaatkan untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih banyak. Dengan persediaan bahan yang lebih memadai, Asra dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menerima lebih banyak pesanan dari pelanggan.

"Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi," katanya.

Tidak hanya memperoleh pembiayaan, Asra juga mendapatkan pendampingan usaha melalui pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru.

Pelatihan tersebut memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pengembangan usaha kerajinan yang telah dijalankannya selama puluhan tahun.

Seiring berkembangnya usaha, Asra mulai melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi. Kehadiran usaha sulam kasab ini pun memberikan kesempatan bagi warga lain untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Usaha yang semula hanya bertujuan membantu memenuhi kebutuhan keluarga kini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, keterlibatan warga dalam kegiatan produksi juga membantu menjaga keterampilan menyulam kasab agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

BRI Dorong Pemberdayaan Pelaku Usaha Ultra Mikro

Perjalanan usaha Asra menjadi salah satu contoh pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro melalui akses pembiayaan dan pendampingan yang dilakukan PNM.

Program tersebut merupakan bagian dari ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) BRI Group yang mengintegrasikan kekuatan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Sejak dibentuk pada 2021, Holding Ultra Mikro berupaya memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha ultra mikro.

Layanan yang diberikan tidak hanya berupa pembiayaan, tetapi juga mencakup simpanan, transaksi keuangan, pemberdayaan, serta pendampingan untuk membantu pelaku usaha mengembangkan kegiatan ekonominya.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan akses keuangan perlu diiringi dengan pemberdayaan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

"Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri," ujar Dhanny.

Bagi Asra, dukungan pembiayaan dan pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjangnya mempertahankan usaha sulam kasab.

Kini, setelah lebih dari 30 tahun berkarya, Asra tidak hanya berhasil menjadikan keterampilan tradisional sebagai sumber penghidupan keluarga. Ia juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk ikut memperoleh penghasilan melalui kerajinan khas Aceh tersebut.

Di tengah modernisasi dan semakin banyaknya produk buatan industri, usaha yang dijalankan Asra menjadi salah satu cara menjaga tradisi sulam kasab agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. (*)

#Ekonomi

Index

Berita Lainnya

Index