Tumbuhkan Semangat Belajar dan Cita-Cita, Mahasiswa KKN UIN Suska Riau Gelar Psikoedukasi di SDN 016 Bathin Solapan

Tumbuhkan Semangat Belajar dan Cita-Cita, Mahasiswa KKN UIN Suska Riau Gelar Psikoedukasi di SDN 016 Bathin Solapan

SELARASRIAU.COM, BATHIN SOLAPAN — Sebanyak 22 siswa kelas 5A SDN 016 Bathin Solapan mengikuti sosialisasi psikoedukasi bertajuk “Aku dan Cita-Citaku” yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sultan Syarif Kasim Riau Desa Pematang Obo, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat tema motivasi belajar dengan tujuan membantu siswa memahami pentingnya belajar sebagai bagian dari proses mencapai cita-cita. Tidak hanya melalui penyampaian materi, siswa juga diajak mengikuti permainan, ice breaking, diskusi, menonton video edukatif, tebak profesi, hingga membuat pohon impian

Penanggung jawab program, Shifa Aliya Andini, mengatakan pemilihan tema motivasi belajar berangkat dari kondisi semangat belajar anak yang dapat berubah-ubah. Rasa bosan, lelah, hingga kesulitan memahami pelajaran menjadi beberapa faktor yang dapat membuat siswa kehilangan motivasi.

“Kami ingin mengajak mereka memahami bahwa salah satu hal yang bisa membuat kita tetap semangat belajar adalah punya tujuan yang ingin dicapai. Karena itu, kami mengangkat judul ‘Aku dan Cita-Citaku’, supaya anak-anak bisa menghubungkan kegiatan belajar mereka sekarang dengan cita-cita yang mereka inginkan di masa depan,” ujar Shifa.

Menurut Shifa, siswa perlu memahami bahwa belajar bukan hanya tentang nilai atau menyelesaikan tugas. Belajar merupakan salah satu proses untuk mempersiapkan diri mencapai masa depan yang diinginkan.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan motivasi belajar, penyebab semangat belajar naik dan turun, serta cara mempertahankan motivasi. Siswa juga diajak mengenali pentingnya membuat target belajar, cukup beristirahat, belajar sambil bermain, dan belajar bersama teman.

Selain itu, siswa diperkenalkan dengan berbagai profesi, mulai dari dokter, petani, dan pilot hingga profesi yang berkembang di era digital seperti programmer, arsitek, wirausaha, dan konten kreator.

Sementara itu, PJ Bimbingan Belajar, Winda Atika Sari, menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan belajar menjadi tindak lanjut dari psikoedukasi. Menurutnya, motivasi yang telah diberikan kepada siswa perlu dilanjutkan melalui pendampingan secara langsung dalam proses belajar.

“Melalui bimbingan belajar, saya membantu siswa memahami materi yang belum dikuasai, mengerjakan latihan, serta meningkatkan motivasi dan semangat mereka untuk belajar,” kata Winda.

Dalam bimbingan belajar, salah satu kendala yang cukup sering ditemukan adalah kemampuan dasar matematika, terutama perkalian dan pembagian. Kesulitan tersebut membuat beberapa siswa mengalami hambatan ketika mengerjakan soal yang membutuhkan kemampuan dasar tersebut.

Namun, Winda melihat adanya antusiasme siswa selama mengikuti bimbingan. Mereka aktif bertanya ketika mengalami kesulitan dan berusaha menyelesaikan latihan yang diberikan.

Pendampingan secara rutin juga menunjukkan perkembangan pada hasil belajar. Beberapa siswa yang sebelumnya memperoleh nilai sekitar 30 dan 50 mengalami peningkatan setelah mendapatkan latihan dan pendampingan.

“Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan apabila diberikan motivasi dan pendampingan yang tepat,” ujarnya.

Kepala SDN 016 Bathin Solapan menilai kegiatan motivasi belajar dan pengenalan cita-cita penting diberikan kepada siswa kelas 5. Pada usia tersebut, siswa mulai memasuki masa transisi dari anak-anak menuju pra-remaja.

Menurut pihak sekolah, pada fase ini siswa mulai memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kemampuan, minat, dan cita-cita. Pemahaman tersebut dapat mendorong siswa untuk lebih termotivasi belajar dan mulai mempersiapkan diri menuju masa depan yang mereka inginkan.

Pihak sekolah juga melihat sejumlah manfaat dari kegiatan tersebut, di antaranya meningkatkan motivasi dan semangat belajar, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kesadaran untuk mencapai cita-cita, serta menambah wawasan baru bagi siswa.

Sekolah berharap kegiatan KKN mahasiswa dapat terus memberikan manfaat positif bagi siswa dan sekolah, khususnya melalui program yang mendukung pendidikan, pengembangan karakter, motivasi belajar, dan kreativitas siswa.

M. Duta Ardandi Pratama, selaku Koordinator Desa atau Ketua Kelompok KKN UIN Suska Riau Desa Pematang Obo, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada siswa.

Menurut Duta, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa belajar bukan sesuatu yang sulit atau memberatkan. Belajar merupakan proses bagi anak-anak untuk mengenal dunia, berinteraksi dengan teman, menemukan minat, dan memahami hal-hal yang ingin mereka capai.

“Kami ingin memberikan dampak bahwa belajar itu bukan hal yang sulit dan bukan sesuatu yang memberatkan. Belajar adalah proses dari masa kecil untuk mengenal dunia, tidak hanya belajar di rumah, tetapi juga belajar di sekolah, bertemu dengan teman, bermain, dan belajar bersama,” ujar Duta.

Ia menambahkan, siswa juga perlu dibiasakan untuk tidak takut terhadap kegagalan dalam belajar. Kesulitan dalam memahami pelajaran seharusnya menjadi bagian dari proses untuk berkembang, bukan alasan untuk menyerah.

Karena itu, kegiatan psikoedukasi tidak hanya dirancang dalam bentuk penyampaian materi. Mahasiswa menggunakan permainan, video, diskusi, dan aktivitas pohon impian agar siswa dapat belajar sekaligus menikmati prosesnya.

Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian program pendidikan KKN yang lebih luas. Sebelum pelaksanaan, mahasiswa melakukan silaturahmi dan koordinasi dengan pihak sekolah. Setelah kegiatan psikoedukasi, mahasiswa melanjutkan pendampingan melalui bimbingan belajar di Posko KKN yang berada di Gang Arjuna.

Duta menjelaskan, pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu siswa memahami mata pelajaran yang dianggap sulit sekaligus melatih mereka menghadapi masalah dalam pembelajaran secara bertahap.

Sasaran utama kegiatan adalah siswa kelas 5 yang akan melanjutkan ke kelas 6 sebelum memasuki jenjang pendidikan SMP. Mahasiswa berharap pada fase tersebut siswa mulai mengenali potensi, minat, dan cita-cita mereka sekaligus membangun kebiasaan belajar yang positif.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Pemerintah Desa Pematang Obo. Joko Prayetno, selaku Kasi Desa Pematang Obo, menilai nilai utama yang dibangun melalui kegiatan ini adalah semangat dan motivasi belajar sejak dini.

Menurut Joko, anak-anak perlu mendapatkan lingkungan yang mendorong mereka untuk berani memiliki cita-cita. Namun, cita-cita tersebut harus diikuti dengan usaha, seperti rajin belajar, disiplin, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

“Kegiatan ini tidak hanya mengenalkan berbagai profesi kepada siswa, tetapi juga mengajarkan bahwa untuk mencapai apa yang mereka inginkan, mereka perlu rajin belajar, disiplin, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan,” ujar Joko.

Ia menilai kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa KKN tidak hanya hadir di desa untuk menjalankan program kerja, tetapi berusaha memberikan kontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan.

Menurutnya, penggunaan permainan, tanya jawab, video edukatif, dan pohon impian membuat kegiatan lebih menarik bagi siswa. Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa proses belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Joko berharap kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa tidak berhenti setelah masa KKN selesai. Menurutnya, motivasi yang telah dibangun perlu dilanjutkan oleh sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar.

“Anak-anak diharapkan tetap mendapatkan pendampingan agar motivasi belajar dan cita-cita yang sudah mereka tuliskan tidak hanya menjadi sebuah kegiatan pada hari itu, tetapi benar-benar menjadi dorongan bagi mereka untuk terus belajar,” katanya.

Ia juga berharap hubungan antara mahasiswa KKN, sekolah, dan masyarakat dapat terus terjalin sehingga kegiatan pendidikan dan pendampingan seperti bimbingan belajar maupun motivasi siswa dapat kembali dilakukan pada kesempatan berikutnya.

Kegiatan "Aku dan Cita-Citaku" akhirnya tidak hanya menjadi ruang bagi siswa untuk menyebutkan profesi yang mereka impikan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut mengajak siswa memahami bahwa setiap cita-cita membutuhkan proses yang dimulai dari kebiasaan sederhana: belajar, berusaha, disiplin, percaya diri, dan berani menghadapi kegagalan.

Melalui psikoedukasi dan bimbingan belajar yang berkelanjutan, mahasiswa KKN UIN Suska Riau Desa Pematang Obo berharap semangat yang ditanamkan kepada siswa dapat terus tumbuh dan menjadi bekal dalam perjalanan mereka menuju pendidikan dan masa depan yang diimpikan.*/(Duta)

#Akademika

Index

Berita Lainnya

Index