Laporan Marriott 2027: Fine Dining Lebih Singkat, Masakan Lokal Makin Diburu

Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:23:32 WIB
Marriott International merilis laporan Future of Food 2027 yang memetakan pergeseran selera wisatawan di Asia Pasifik.

Marriott International merilis laporan Future of Food 2027 yang memetakan pergeseran selera wisatawan di Asia Pasifik, dari durasi fine dining yang lebih singkat hingga lonjakan permintaan hidangan lokal autentik. Di Indonesia, 67 persen responden properti Marriott menyebut masakan khas daerah sebagai daya tarik utama pengalaman bersantap. Laporan ini disusun dari wawasan para koki, pakar perhotelan, dan influencer regional di kawasan Asia Pasifik di luar Tiongkok.

Angka itu bukan kebetulan. Wisatawan kini memandang satu hidangan sebagai pintu masuk mengenal budaya, tradisi, dan sumber daya lokal suatu destinasi. Cerita di balik bahan, keterkaitan dengan budaya setempat, dan suasana tempat bersantap ikut menentukan pengalaman yang dirasakan pengunjung.

Masakan Lokal Jadi Magnet Utama

Survei Marriott International mencatat 95 persen properti yang disurvei di Asia Pasifik, kecuali Tiongkok, mengidentifikasi permintaan terhadap hidangan lokal autentik sebagai salah satu tren terbesar di pasar mereka. Temuan ini menunjukkan kuatnya peran lokalitas dalam membentuk pilihan bersantap.

Beberapa properti sudah bergerak ke arah itu. Restoran Hearth di The Ritz-Carlton, Perth, mengangkat bebek Wagin lokal sebagai hidangan andalan, mencerminkan kekayaan hasil bumi Australia Barat sekaligus filosofi restoran yang mengutamakan produk lokal dan musiman.

Pendekatan serupa terlihat di destinasi lain Asia Pasifik. Hasil kebun sayur di Kyoto, Jepang, dipakai sebagai bahan utama. Garam laut Kampot dari Kamboja dan rempah-rempah asli Asia Tenggara masuk ke dapur restoran hotel. Makanan tidak lagi sekadar sajian, tetapi medium yang menceritakan karakter sebuah tempat.

Fine Dining Berdurasi Lebih Singkat

Pengalaman bersantap mewah juga berubah. Jika sebelumnya fine dining identik dengan rangkaian panjang hingga empat jam dan lebih dari sepuluh hidangan, kini sejumlah restoran menawarkan format yang lebih ringkas.

Laporan Marriott International menunjukkan 58 persen properti yang disurvei melaporkan durasi fine dining rata-rata berada pada rentang 1,5 hingga dua jam. Singapura menjadi pasar paling menonjol, dengan 85 persen restoran yang disurvei melaporkan durasi rata-rata sekitar 1,5 jam.

Perubahan ini bukan berarti pengalaman mewah kehilangan esensinya. Restoran justru menaruh perhatian lebih besar pada kualitas setiap hidangan, alur penyajian, dan momen yang ingin dihadirkan bagi tamu.

Menu Disederhanakan, Fokus ke Kualitas

Sejumlah restoran merespons tren ini dengan menyederhanakan menu, menawarkan lebih banyak pilihan a la carte, serta mengurangi jumlah hidangan yang dianggap tidak esensial. Fokusnya bergeser dari kuantitas menuju kualitas.

Di Korea Selatan, satu dari lima restoran yang disurvei telah mengurangi jumlah hidangan yang disajikan. Sementara itu, 30 persen restoran fine dining di Filipina melaporkan telah memperkenalkan menu a la carte.

Pengunjung tetap bisa menikmati kreativitas chef, teknik memasak, presentasi hidangan, dan pelayanan personal tanpa harus mengalokasikan waktu terlalu panjang. Kemewahan dalam bersantap kini lebih berkaitan dengan pengalaman yang terkurasi.

Dua Tren yang Berjalan Beriringan

Meningkatnya minat terhadap masakan lokal dan format fine dining yang lebih ringkas dapat berjalan bersamaan. Restoran bisa menyajikan lebih sedikit hidangan, tetapi tetap menghadirkan pengalaman yang kuat lewat bahan lokal dan cerita di baliknya.

Bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan kuliner, laporan ini memberi gambaran soal arah pengalaman bersantap di hotel dan restoran Asia Pasifik dalam beberapa tahun ke depan. Menghabiskan waktu lebih singkat di meja makan bukan lagi tanda kehilangan kemewahan, melainkan cara baru menikmati hidangan yang lebih terarah.

Terkini