Bukan Cuma Arabika dan Robusta, Ini 7 Jenis Kopi yang Jarang Diketahui

Bukan Cuma Arabika dan Robusta, Ini 7 Jenis Kopi yang Jarang Diketahui
Ilustrasi aneka biji kopi dan minuman kopi hitam. Selain Arabika dan Robusta, terdapat jenis kopi lain seperti Liberika, Excelsa, Stenophylla, dan Racemosa dengan karakter berbeda. (Ilustrasi AI)

SELARASRIAU.COM - Kopi memiliki banyak jenis dengan karakter rasa, aroma, dan kandungan kafein yang berbeda. Selama ini, Arabika dan Robusta menjadi dua nama yang paling dikenal masyarakat. Padahal, dunia kopi jauh lebih beragam, termasuk Liberika, Excelsa, hingga beberapa jenis langka yang belum banyak ditemukan di kedai kopi.

Bagi pencinta kopi, mengenali jenis biji yang digunakan bisa menjadi cara menarik untuk menemukan cita rasa baru. Ada kopi yang cenderung memiliki aroma buah dan bunga, ada yang memberikan sensasi pahit lebih kuat, hingga kopi dengan karakter aroma menyerupai kayu atau buah nangka.

Perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi cara penyeduhan. Jenis tanaman, kondisi lingkungan tempat tumbuh, pengolahan setelah panen, dan tingkat sangrai juga menentukan karakter kopi ketika disajikan.

Dikutip dari laman Royal Botanic Gardens, Kew, terdapat lebih dari 120 spesies tanaman kopi dalam genus Coffea. Namun, produksi kopi dunia masih sangat bergantung pada Arabika dan Robusta.

Dua jenis tersebut memang mendominasi pasar. Meski begitu, beberapa jenis kopi lainnya mulai mendapat perhatian karena memiliki cita rasa khas dan berpotensi dikembangkan menghadapi perubahan iklim.

Berikut tujuh jenis kopi yang menarik untuk dikenal, mulai dari yang mudah ditemukan di Indonesia hingga spesies langka yang masih menjadi perhatian para peneliti.

1. Kopi Arabika, Memiliki Aroma Kompleks dan Cita Rasa Beragam

Arabika atau Coffea arabica merupakan salah satu jenis kopi paling populer di dunia.

Kopi ini dikenal memiliki karakter rasa yang beragam. Bergantung pada asal dan proses pengolahannya, Arabika dapat menghadirkan aroma bunga, buah, cokelat, kacang, hingga sensasi manis yang lembut.

Salah satu ciri yang sering ditemukan pada Arabika adalah keasaman yang lebih terasa dibandingkan kebanyakan kopi Robusta.

Namun, rasa asam pada kopi tidak selalu berarti tidak enak atau menandakan kopi telah rusak.

Dalam dunia kopi, keasaman yang seimbang justru dapat menjadi bagian dari karakter rasa yang dinikmati, misalnya sensasi segar yang mengingatkan pada buah.

Tanaman Arabika umumnya cocok dibudidayakan pada lingkungan yang relatif sejuk, termasuk kawasan dataran tinggi.

Di Indonesia, sejumlah daerah dikenal sebagai penghasil Arabika, seperti Gayo di Aceh, dataran tinggi Kintamani di Bali, dan kawasan Toraja di Sulawesi Selatan.

Meskipun berasal dari spesies yang sama, rasa Arabika dari masing-masing daerah dapat berbeda.

Bagi peminum kopi yang ingin mengenali aroma dan karakter rasa secara lebih jelas, Arabika dapat menjadi pilihan menarik untuk dicoba melalui seduhan manual seperti V60 atau metode lainnya.

Namun, hasil akhirnya tetap dipengaruhi kualitas biji, tingkat sangrai, dan cara penyeduhan.

2. Kopi Robusta, Rasanya Lebih Kuat dan Kandungan Kafeinnya Tinggi

Robusta berasal dari tanaman Coffea canephora.

Dibandingkan Arabika, Robusta umumnya dikenal memiliki karakter rasa yang lebih kuat, pahit, dan memiliki body atau sensasi kekentalan lebih tebal.

Pada sejumlah kopi Robusta, karakter rasa yang muncul bisa mengingatkan pada cokelat hitam, kacang, atau aroma tanah.

Robusta juga umumnya memiliki kandungan kafein lebih tinggi dibandingkan Arabika.

Karakter tersebut membuat Robusta banyak digunakan sebagai bahan kopi instan, kopi tubruk, dan campuran espresso.

Namun, anggapan bahwa seluruh Robusta memiliki kualitas lebih rendah daripada Arabika tidak sepenuhnya tepat.

Kualitas Robusta juga bergantung pada pemilihan buah matang, proses pascapanen, penyimpanan, dan teknik penyangraian.

Robusta yang ditangani dengan baik dapat menghasilkan rasa yang bersih dan seimbang.

Di Indonesia, Robusta banyak dibudidayakan di berbagai wilayah Sumatera, Jawa, dan daerah penghasil kopi lainnya.

Bagi penikmat kopi yang menyukai rasa tegas dan tidak terlalu menonjolkan keasaman buah, Robusta bisa menjadi pilihan.

3. Kopi Liberika, Punya Aroma Khas dan Menjadi Komoditas Unggulan Riau

Selain Arabika dan Robusta, Indonesia juga memiliki kopi Liberika atau Coffea liberica.

Jenis ini menarik karena mempunyai karakter tanaman dan biji yang berbeda dari dua kopi yang lebih populer.

Tanaman Liberika umumnya tumbuh lebih tinggi dan menghasilkan buah serta biji berukuran relatif besar.

Salah satu ciri yang sering dikaitkan dengan Liberika adalah aromanya yang khas, dengan kemungkinan munculnya karakter buah tropis, kayu, atau rempah.

Di Indonesia, Liberika mempunyai hubungan erat dengan wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Riau.

Kopi Liberika dari Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi salah satu contohnya.

Dikutip dari laman resmi Balai Standardisasi Instrumen Pertanian Riau, kopi Liberika Meranti merupakan komoditas unggulan yang banyak dikenal berasal dari kawasan Rangsang Pesisir.

Dalam publikasi tersebut, kopi Liberika Meranti dijelaskan memiliki keunikan karena dapat tumbuh di tanah gambut dengan tingkat keasaman tinggi.

Karakter rasanya juga digambarkan memiliki perpaduan aroma yang mengingatkan pada nangka, kopi, dan cokelat.

Keunikan inilah yang membuat Liberika Meranti menarik untuk dikembangkan sebagai produk khas daerah.

Bagi penikmat kopi yang ingin mencoba sesuatu di luar Arabika dan Robusta, Liberika dapat memberikan pengalaman berbeda.

Namun, karakter rasanya tidak selalu sama antara satu produk dan produk lainnya. Asal kebun, pengolahan, dan tingkat sangrai tetap berpengaruh.

4. Kopi Excelsa, Memiliki Karakter Buah dan Rasa yang Unik

Excelsa merupakan jenis kopi yang tidak sepopuler Arabika maupun Robusta.

Kopi ini menarik karena memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Liberika, tetapi dikenal mempunyai karakter rasa tersendiri.

Dalam sejumlah produk, Excelsa digambarkan memiliki sensasi buah, keasaman yang cukup menonjol, serta body yang terasa penuh.

Karakter tersebut membuat Excelsa menarik untuk dinikmati sebagai kopi tunggal maupun digunakan dalam campuran.

Ada hal penting yang perlu dipahami mengenai klasifikasinya.

Dalam berbagai referensi lama, Excelsa kerap dikelompokkan sebagai varietas atau bagian dari Liberika.

Namun, menurut basis data ilmiah Plants of the World Online milik Royal Botanic Gardens, Kew, Coffea dewevrei, yang berkaitan dengan kopi Excelsa, diterima sebagai spesies tersendiri.

Perbedaan klasifikasi tersebut menjelaskan mengapa sebagian sumber menyebut Excelsa sebagai bagian dari Liberika, sementara sumber lain memisahkannya.

Di Indonesia, Excelsa dikenal dibudidayakan pada sejumlah wilayah, termasuk kawasan di Jawa dan Sumatera.

Namun, produksinya tidak sebesar Arabika atau Robusta sehingga ketersediaan di pasar bisa lebih terbatas.

Bagi pencinta kopi yang ingin mencoba karakter buah dan keasaman yang berbeda, Excelsa layak masuk daftar eksplorasi.

5. Kopi Stenophylla, Jenis Langka yang Rasanya Mirip Arabika

Stenophylla atau Coffea stenophylla merupakan spesies kopi yang berasal dari kawasan Afrika Barat.

Namanya belum banyak dikenal masyarakat karena tidak dibudidayakan secara luas seperti Arabika dan Robusta.

Namun, jenis ini mendapat perhatian dalam penelitian karena mempunyai karakter rasa menarik sekaligus kemampuan tumbuh pada kondisi lingkungan yang lebih hangat.

Dikutip dari penelitian yang diterbitkan jurnal ilmiah Nature Plants pada April 2021, kopi Stenophylla menunjukkan profil sensoris yang menyerupai Arabika berkualitas tinggi.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa Stenophylla dapat tumbuh dalam kondisi suhu rata-rata tahunan yang lebih tinggi dibandingkan Arabika.

Temuan ini menjadi perhatian karena perubahan iklim berpotensi memengaruhi daerah yang selama ini cocok untuk budidaya kopi.

Dengan kemampuan beradaptasi pada kondisi lebih hangat, Stenophylla berpeluang menjadi salah satu sumber genetik penting dalam pengembangan tanaman kopi masa depan.

Namun, peluang tersebut tidak berarti Stenophylla sudah tersedia secara luas di pasar.

Jenis ini masih memerlukan pengembangan budidaya, penelitian, dan dukungan rantai pasok agar dapat diproduksi lebih luas.

Bagi dunia kopi, keberadaan Stenophylla menunjukkan bahwa masih ada spesies lain yang memiliki potensi cita rasa menarik di luar tanaman komersial utama.

6. Kopi Racemosa, Jenis Langka dengan Kandungan Kafein Relatif Rendah

Racemosa atau Coffea racemosa merupakan spesies kopi yang berasal dari kawasan Afrika bagian tenggara, termasuk Mozambik.

Jenis ini memiliki karakter berbeda dari kopi yang biasa ditemukan di pasaran.

Tanaman Racemosa dikenal mampu beradaptasi pada lingkungan yang relatif panas dan memiliki periode kering.

Salah satu ciri menariknya adalah kandungan kafein alami yang relatif rendah dibandingkan kopi komersial tertentu, terutama Robusta.

Dikutip dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems, Racemosa merupakan salah satu spesies kopi minor dari Afrika yang diteliti untuk memahami kemampuan adaptasi iklim, karakter tanaman, dan potensi mutu minumannya.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kopi Racemosa dapat menghasilkan minuman aromatik dengan kandungan kafein rendah.

Namun, data karakter rasa dan kualitas seduhannya masih memerlukan pengembangan karena jenis ini belum menjadi komoditas utama dunia.

Racemosa juga menarik dari sisi penelitian tanaman karena dapat memberikan informasi mengenai ketahanan kopi terhadap tekanan lingkungan.

Bagi konsumen Indonesia, Racemosa kemungkinan masih sulit ditemukan di kedai kopi biasa.

Keberadaannya lebih banyak dibahas dalam penelitian dan pasar kopi khusus dengan produksi terbatas.

7. Kopi Eugenioides, Salah Satu Leluhur Alami Arabika

Jenis kopi lainnya yang menarik untuk dikenal adalah Eugenioides atau Coffea eugenioides.

Nama ini mungkin belum akrab bagi sebagian besar penikmat kopi.

Padahal, Eugenioides memiliki peran penting dalam sejarah genetik tanaman Arabika.

Berdasarkan laporan Reuters yang mengulas penelitian genom kopi pada April 2024, Arabika terbentuk secara alami dari persilangan leluhur dua spesies, yaitu Coffea canephora dan Coffea eugenioides.

Proses tersebut diperkirakan berlangsung ratusan ribu tahun lalu, jauh sebelum manusia mulai membudidayakan kopi.

Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah tanaman Arabika memiliki hubungan yang erat dengan spesies kopi liar lainnya.

Eugenioides tidak diproduksi secara massal seperti Arabika atau Robusta.

Kopi ini lebih dikenal dalam konteks penelitian, konservasi, pemuliaan tanaman, dan pasar kopi spesial yang sangat terbatas.

Karena ketersediaannya masih terbatas, Eugenioides bukan pilihan yang mudah ditemukan untuk konsumsi harian.

Meski demikian, keberadaannya memperlihatkan pentingnya menjaga keragaman spesies kopi agar sumber genetik tanaman tetap tersedia bagi penelitian dan pengembangan pada masa mendatang.

Apa Perbedaan Jenis Kopi dengan Varietas Kopi?

Istilah jenis kopi dan varietas kopi sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya mempunyai pengertian berbeda.

Dalam konteks botani, Arabika, Robusta, dan Liberika merujuk pada spesies atau kelompok tanaman kopi.

Sementara itu, varietas merupakan pengelompokan yang lebih khusus di dalam suatu spesies atau kelompok budidaya.

Sebagai contoh, Typica dan Bourbon merupakan nama varietas yang dikenal dalam kelompok Arabika.

Adapun Gayo, Toraja, Kintamani, dan Meranti merupakan nama wilayah atau asal kopi, bukan otomatis spesies tanaman yang berbeda.

Kopi Gayo, misalnya, banyak dikenal sebagai kopi Arabika dari kawasan dataran tinggi Gayo di Aceh.

Sementara itu, kopi Liberika Meranti merujuk pada kopi dari daerah Kepulauan Meranti yang mempunyai identitas dan karakter produksi tersendiri.

Memahami perbedaan tersebut penting ketika membaca label kemasan agar pembeli tidak keliru membedakan spesies, varietas, dan asal geografis kopi.

Mengapa Kopi dari Jenis yang Sama Bisa Memiliki Rasa Berbeda?

Dua kopi Arabika yang berasal dari kebun berbeda belum tentu menghasilkan rasa identik.

Hal serupa juga berlaku untuk Robusta, Liberika, maupun jenis lainnya.

Selain faktor genetik, karakter kopi dipengaruhi lingkungan tempat tumbuh, tingkat kematangan buah saat dipanen, proses pengolahan, pengeringan, penyangraian, dan teknik penyeduhan.

Menurut World Coffee Research, pengalaman sensoris kopi mencakup banyak atribut rasa, aroma, dan tekstur yang dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaannya secara lebih terukur.

Karena itu, istilah seperti fruity, floral, nutty, earthy, atau woody sering ditemukan dalam deskripsi kopi.

Fruity menggambarkan karakter yang mengingatkan pada buah, sedangkan floral berkaitan dengan aroma bunga.

Nutty mengingatkan pada kacang-kacangan, sementara earthy dan woody menggambarkan karakter yang menyerupai tanah atau kayu.

Istilah tersebut merupakan deskripsi sensasi rasa dan aroma, bukan berarti kopi selalu diberi tambahan buah, bunga, atau bahan lainnya.

Misalnya, kopi yang mempunyai karakter aroma nangka tidak otomatis mengandung buah nangka.

Perbedaan pengolahan juga dapat membuat dua kopi dari spesies yang sama memiliki profil rasa yang jauh berbeda.

Jenis Kopi Mana yang Paling Enak?

Tidak ada satu jenis kopi yang pasti paling enak bagi semua orang.

Penikmat kopi yang menyukai aroma buah dan karakter rasa berlapis mungkin lebih tertarik mencoba Arabika.

Sementara itu, Robusta dapat menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai rasa lebih tegas dan body yang kuat.

Liberika menawarkan pengalaman berbeda melalui aroma khas yang dapat mengingatkan pada buah tropis dan kayu.

Excelsa juga menarik bagi penikmat kopi yang ingin mencoba profil rasa yang tidak biasa.

Adapun Stenophylla, Racemosa, dan Eugenioides lebih tepat dipahami sebagai contoh keragaman spesies kopi yang memiliki nilai penelitian atau produksi khusus, bukan jenis yang mudah ditemukan di setiap kedai.

Untuk mencoba jenis kopi yang belum pernah diminum, mulailah dari penyeduhan tanpa banyak tambahan gula atau susu agar karakter alaminya lebih mudah dikenali.

Namun, jika lebih menyukai kopi susu, tidak ada salahnya memilih jenis yang tetap memberikan rasa seimbang setelah dicampur susu.

Kopi Liberika Meranti Bisa Menjadi Pilihan untuk Dicoba

Bagi masyarakat Riau, mengenal aneka jenis kopi juga bisa dimulai dari produk yang berasal dari daerah sendiri.

Kopi Liberika Kepulauan Meranti mempunyai karakter lokal yang khas dan menjadi bagian dari komoditas perkebunan daerah.

Keberadaan kopi ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya memiliki kekayaan kopi Arabika dan Robusta, tetapi juga jenis lain yang layak mendapat perhatian.

Keragaman tersebut membuka peluang bagi petani, pelaku usaha kopi, dan penikmat kopi untuk mengenal lebih banyak karakter tanaman serta cita rasa.

Pada akhirnya, dunia kopi jauh lebih luas daripada dua nama yang paling sering terdengar.

Arabika dan Robusta memang mendominasi pasar, tetapi Liberika, Excelsa, Stenophylla, Racemosa, dan Eugenioides memperlihatkan bahwa masih banyak keragaman kopi yang menarik untuk dipelajari.

Bagi pencinta kopi, mencoba jenis berbeda bukan hanya soal mencari rasa baru, melainkan juga memahami asal tanaman, proses produksi, dan kekayaan kopi yang ada di Indonesia maupun dunia. (*)

#Komunitas

Index

Berita Lainnya

Index