Pola asuh yang diwariskan dari orang tua sering muncul tanpa disadari, terutama saat ibu sedang lelah atau stres. Kenali enam cara memutus kebiasaan tersebut agar anak tumbuh percaya diri dan mampu mengekspresikan perasaannya.
Banyak ibu muda menyadari dirinya memarahi anak dengan kalimat yang persis sama seperti yang dulu diucapkan orang tuanya. Pola asuh warisan memang sulit dilepas karena tertanam sejak masa perkembangan paling awal. Padahal, sebagian kebiasaan itu bisa membuat anak merasa takut, minder, atau menganggap dirinya beban.
Tawnie Putignano, pekerja sosial klinis berlisensi di Thriveworks, menyebut pengalaman masa kecil akan tampak dalam cara seseorang membesarkan anaknya sendiri.
"Jika ibu dan ayah pernah mendapati dirinya memarahi anak-anak dengan kata-kata dan frasa yang sama seperti yang digunakan orang tua mereka dulu, maka kamu tidak sendirian," kata Putignano, dilansir Parents.
Mengapa Pola Asuh Warisan Sulit Diubah
Psikiater anak dan remaja di Mindpath Health, Zishan Khan, MD, menjelaskan bahwa perilaku pengasuhan antar generasi sudah tertanam kuat. Saat stres atau kelelahan, orang tua cenderung memilih respons yang terasa familiar.
Bahkan ketika secara logika tahu ada yang tidak beres, memori emosional bisa mengambil alih. Inilah sebabnya perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam.
Psikolog Emily Guarnotta, PsyD, PMH-C, menambahkan bahwa anak sangat peka terhadap pengasuhnya. Ketika orang tua melampiaskan frustrasi atau menyalahkan anak atas stresnya sendiri, anak bisa menanamkan keyakinan bahwa dirinya adalah beban.
"Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan orang tua yang memiliki kesadaran emosional dan bersedia memperbaiki hubungan ketika mereka melakukan kesalahan," ujar Guarnotta.
1. Hindari Pola Pikir "Mini-Me"
Anak bukanlah versi kecil dari orang tuanya. Mereka lahir dengan kepribadian, bakat, dan kepekaan masing-masing yang perlu dikenali, bukan dipaksa mengikuti pengalaman orang tua.
Granahan menekankan pentingnya rasa ingin tahu terhadap anak. Biarkan mereka menemukan jati dirinya sebelum orang tua menempelkan identitas berdasarkan pengalaman sendiri.
2. Berhenti Sejenak Sebelum Bereaksi
Jeda singkat sebelum merespons tingkah anak memberi ruang untuk memilih reaksi yang sadar, bukan otomatis. Guarnotta menyarankan untuk memperhatikan apa yang muncul dalam diri saat merasa terpicu.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah respons yang akan diberikan merupakan ulangan dari yang pernah didengar atau dilihat saat tumbuh dewasa.
3. Praktikkan Pola Pengasuhan Reflektif
Perhatikan pemicu emosi dengan lebih cermat. Misalnya, ibu merasa terpicu ketika anak menangis dan tidak yakin apakah reaksi berlebihan masih sesuai situasi.
Setelah momen sulit berlalu, tanyakan apa yang dirasakan barusan dan dari mana reaksi itu berasal. Cara ini membangun kesadaran akan pola lama sekaligus memberi kekuatan untuk memilih respons berbeda di lain waktu.
4. Ubah Cara Pandang soal Pengasuhan Lembut
Gentle parenting kerap dicap terlalu permisif, padahal tidak selalu demikian. Guarnotta mendorong orang tua mengubah persepsi dari pengasuhan "lembut" menjadi pengasuhan "tegas".
"Pola pengasuhan yang lembut sering kali mendapat reputasi buruk, tetapi kenyataannya empati, batasan, dan validasi emosional bukanlah tanda kelemahan," ujarnya.
Empati dan batasan justru menuntut kesabaran, kesadaran diri, serta keterampilan mengatasi masalah. Cara pandang ini membantu ibu tetap fokus saat orang lain mempertanyakan pendekatan yang dipilih.
5. Perbaiki Hubungan yang Sudah "Pecah"
Meminta maaf dengan tulus ketika orang tua berbuat salah adalah langkah penting. Khan menyarankan agar ibu dan ayah tidak ragu mengakui kekhilafan di depan anak.
Perbaikan hubungan setelah konflik mengajarkan anak bahwa kesalahan bisa diakui dan diperbaiki, bukan ditutupi atau dibiarkan menumpuk.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional
Jika pola marah yang diwariskan terasa sulit dikendalikan hingga memengaruhi kesehatan mental ibu atau membuat anak sering ketakutan, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga. Pendampingan profesional membantu memetakan pemicu dan menyusun strategi pengasuhan yang lebih sehat.
Memutus pola asuh antar generasi memang tidak mudah. Namun setiap jeda sadar sebelum bereaksi, setiap permintaan maaf yang tulus, dan setiap upaya mengenali anak sebagai pribadi utuh adalah langkah nyata menuju pengasuhan yang lebih hangat.