Penulis Lucy Foley membawa Miss Marple keluar dari pedesaan Inggris untuk liburan pertamanya dalam 50 tahun di Murder at the Grand Alpine Hotel, berlatar Swiss Alps. Novel ini menempatkan detektif amatir berusia lanjut itu di tengah misteri pembunuhan di sebuah chalet ski mewah, jauh dari kampung fiktif St. Mary Mead. Buku ini menjawab panggilan estate Agatha Christie untuk menghadirkan kisah Marple dengan pendekatan baru.
Dari St. Mary Mead ke Pegunungan Alpen Swiss
Miss Marple selama ini dikenal sebagai spinster sederhana yang tinggal di pedesaan Inggris. Sebagian besar kasusnya terjadi di halaman belakang rumahnya sendiri. Foley mengaku sempat ragu apakah harus mempertahankan latar St. Mary Mead atau membawa karakter itu ke tempat baru.
Gagasan membawa Miss Marple berlibur muncul karena dalam buku-buku asli Christie, sang detektif hanya sekali pergi berlibur. Foley merasa karakter itu layak mendapat pengalaman liburan yang lebih layak. Dari situ proyek novel ini mulai hidup.
Menyandingkan Miss Marple dengan Thriller Aksi Alpen
Foley ingin novelnya berdialog dengan thriller aksi maskulin khas 1950-an. Buku-buku itu biasanya berlatar tempat-tempat ekstrem seperti pegunungan, ditulis penulis seperti Ian Fleming dan Eric Ambler. Foley menyukai karya mereka karena pembaca bisa "bepergian" lewat halaman buku.
Namun, Foley menilai buku-buku tersebut jelas ditulis oleh dan untuk laki-laki. Ia pun membalik pendekatan itu dengan menempatkan dua perempuan lanjut usia, Miss Marple dan Mrs. Bantry, di pusat cerita. Menurut Foley, di situlah letak pusat kekuatan novelnya.
Riset Langsung ke Chamonix, Zermatt, hingga Saint Moritz
Untuk mendapatkan tekstur yang tepat, Foley melakukan riset langsung ke sejumlah lokasi di Pegunungan Alpen. Perjalanan utamanya adalah ke Chamonix di Pegunungan Alpen Prancis. Dari sana, ia mengemudi ke Zermatt dan Saint Moritz di Swiss, melewati Terowongan Mont Blanc menuju Le Corbier dan sejumlah resor Italia.
Foley bukan orang baru di pegunungan. Orang tuanya penggemar ski dan telah membawanya ke gunung sejak kecil. Namun, melihat pegunungan dari sudut pandang riset menuntut ketelitian berbeda, terutama untuk detail-detail historis.
Bagaimana Romantisme Mengubah Cara Orang Memandang Gunung
Foley menyoroti satu titik sejarah ketika cara orang memandang Pegunungan Alpen berubah mendasar. Kaum Romantis mereframing gunung sebagai tempat keindahan dan keajaiban. Sebelum itu, gunung dianggap tempat menakutkan dan jelek, dihuni naga dan roh jahat, tempat kematian dan bahaya menanti.
Cara pandang lama itu masih melekat dalam cara orang melihat dan mengalami pegunungan. Foley menyebutnya sebagai dikotomi aneh yang terus bertahan hingga kini.
Bahaya Nyata di Balik Keindahan Alpen
Setiap kali turun ke gunung sebagai pemain ski atau pendaki, seseorang mengekspos diri pada bahaya yang tak biasa ditemui sehari-hari. Foley pernah menempuh Vallée Blanche, jalur ski di atas Chamonix yang melewati bagian gletser Mer de Glace.
Sejak awal, pendaki diberi tahu soal tebing curam. Mereka harus memakai crampon, diikat dengan tali, dan berjalan di sepanjang punggungan yang menakutkan. Saat berada di gletser, mereka diperingatkan agar tidak berlama-lama di satu titik karena ancaman crevasse.
Lokasi Hotel Ditemukan Tanpa Sengaja
Dalam perjalanan riset itu, Foley menemukan lokasi hotel untuk novelnya secara kebetulan. Hotel tersebut berada di atas Chamonix. Bangunan itu adalah Refuge du Montenvers, tempat yang menurut Foley sangat mengesankan.
Penemuan itu memperkuat keyakinan Foley bahwa latar Pegunungan Alpen memberi ruang cerita yang kaya. Mulai dari speakeasy tersembunyi, pelayan yang bermain ice skating, hingga lereng gunung yang tak bersahabat, semuanya menjauhkan Miss Marple dari kampung fiktif St. Mary Mead.
Murder at the Grand Alpine Hotel menawarkan pengalaman membaca yang membawa pembaca berkeliling Alpen lewat halaman. Bagi penggemar misteri Christie yang ingin melihat sisi lain Miss Marple, novel ini menghadirkan karakter klasik dalam lanskap yang sama sekali baru.