PEKANBARU – Kebakaran lahan gambut menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit ditangani di Indonesia. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan tanah organik yang menyimpan banyak material mudah terbakar.
Kondisi ini membuat kebakaran gambut bisa terus membara meskipun api di permukaan terlihat padam. Asap juga dapat bertahan dan menyebar ke kawasan permukiman, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Persoalan ini kembali menjadi perhatian di tengah kebakaran dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Oktober 2026. Reuters pada 15 Oktober 2026 melaporkan kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan berkaitan dengan kondisi kering serta kerusakan dan pengelolaan lahan gambut yang belum memadai. "Baca laporan Reuters tentang kabut asap di Asia Tenggara" (https://www.reuters.com/business/environment/why-is-haze-so-bad-southeast-asia-this-year-2026-10-15/).
Bagi Provinsi Riau, pemahaman tentang karakteristik lahan gambut penting karena kebakaran di wilayah ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Apa Itu Lahan Gambut?
Lahan gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang mengalami proses penguraian secara tidak sempurna selama waktu yang panjang. Material organik tersebut menumpuk dalam kondisi basah dan membentuk lapisan tanah yang dapat memiliki kedalaman berbeda-beda.
Ekosistem gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Lahan ini juga berperan dalam mengatur tata air dan menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan serta satwa.
Namun, gambut yang kehilangan banyak kandungan air dapat menjadi sangat mudah terbakar. Pengeringan lahan, perubahan tata air, dan pembukaan lahan yang tidak terkendali dapat meningkatkan kerentanannya terhadap api.
Karena itu, perlindungan gambut tidak cukup dilakukan dengan memadamkan kebakaran saat terjadi. Pengelolaan air dan pemulihan ekosistem juga diperlukan untuk menekan risiko kebakaran berulang.
Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?
Ada beberapa faktor yang membuat kebakaran gambut lebih sulit ditangani dibandingkan kebakaran vegetasi di permukaan.
1. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah
Pada kebakaran biasa, api umumnya terlihat membakar rumput, semak, pepohonan, atau material lain di permukaan. Di lahan gambut yang kering, api dapat menjalar ke lapisan organik di bawah permukaan.
Pembakaran di bawah tanah ini sering tidak terlihat secara langsung. Di permukaan, api mungkin sudah tidak menyala besar, tetapi bara masih tersimpan di dalam lapisan gambut.
Api tersebut dapat kembali muncul ketika kondisi mendukung, misalnya saat angin bertiup atau material yang membara terpapar oksigen.
2. Lapisan gambut menyimpan bahan bakar
Gambut mengandung material organik dari sisa tumbuhan. Ketika kondisinya kering, material tersebut dapat menjadi bahan bakar bagi kebakaran.
Kedalaman gambut dan tingkat kekeringannya memengaruhi karakter kebakaran. Pada lokasi tertentu, api bisa menjalar melalui lapisan organik dan membutuhkan penanganan khusus.
Petugas tidak cukup hanya menyiram bagian yang terlihat terbakar. Pendinginan perlu dilakukan hingga titik panas benar-benar terkendali.
3. Lahan yang kering memperbesar risiko
Kondisi cuaca panas dan minim hujan dapat menurunkan kelembapan lahan. Gambut yang kehilangan air menjadi lebih mudah terbakar dan dapat mendukung penyebaran api.
Risiko meningkat ketika pengelolaan tata air menyebabkan lahan terlalu kering. Kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut, misalnya, dapat berkontribusi terhadap penurunan muka air apabila tidak dikelola dengan baik.
Dalam pedoman pemulihan ekosistem gambut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menjelaskan bahwa jaringan kanal dapat berkontribusi terhadap pengeringan gambut. Karena itu, pemulihan tata air menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran.
4. Titik api sulit dijangkau
Sebagian kawasan gambut berada jauh dari jalan dan permukiman. Kondisi tanah yang lunak, akses terbatas, serta ketersediaan sumber air dapat menyulitkan petugas mencapai lokasi kebakaran.
Ketika api telah meluas, pemadaman membutuhkan koordinasi dan peralatan yang memadai. Pemantauan titik panas serta penanganan dini menjadi penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar.
Apa Dampak Kebakaran Gambut?
Dampak kebakaran gambut tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran. Asap dan kerusakan lingkungan dapat memengaruhi wilayah yang lebih luas.
1. Kabut asap dan gangguan pernapasan
Asap kebakaran mengandung partikel halus dan berbagai zat hasil pembakaran. Paparan polusi udara dapat memicu iritasi mata, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit tertentu termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat kualitas udara memburuk.
Jika asap mulai menyelimuti permukiman, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas berat di luar ruangan. Gunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel dan pantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.
2. Kerusakan ekosistem
Kebakaran dapat merusak vegetasi, mengganggu habitat satwa, serta mengurangi fungsi ekologis lahan gambut. Kebakaran berulang juga menghambat pemulihan ekosistem.
Kerusakan tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan air dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.
3. Pelepasan karbon ke atmosfer
Gambut menyimpan karbon dalam material organiknya. Ketika terbakar, sebagian karbon tersebut dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gas, termasuk karbon dioksida.
Hal ini menambah emisi gas rumah kaca dan memperburuk persoalan perubahan iklim. Karena itu, pencegahan kebakaran gambut juga penting untuk menjaga cadangan karbon yang tersimpan di dalam tanah.
4. Gangguan aktivitas ekonomi dan pendidikan
Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu perjalanan. Aktivitas kerja, kegiatan perdagangan, transportasi, serta proses belajar mengajar juga dapat terdampak ketika kualitas udara memburuk.
Besarnya dampak bergantung pada luas kebakaran, kondisi cuaca, arah angin, dan lamanya paparan asap.
Bagaimana Cara Mencegah Kebakaran Lahan Gambut?
Pencegahan perlu dilakukan sebelum api muncul. Pemerintah, pemegang konsesi, masyarakat, dan berbagai pihak terkait memiliki peran masing-masing.
1. Tidak membuka lahan dengan cara membakar
Pembakaran untuk membersihkan lahan berisiko memicu api yang tidak terkendali. Angin dan kondisi lahan kering dapat membuat api merambat ke vegetasi atau kawasan gambut di sekitarnya.
Kementerian Lingkungan Hidup pada Agustus 2026 menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 tentang larangan pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan tersebut menegaskan pentingnya mencegah praktik pembakaran yang berpotensi menimbulkan karhutla. "Baca informasi resmi Kementerian Lingkungan Hidup" (https://www.kemenlh.go.id/news/detail/surat-edaran-nomor-16-tahun-2026-dilarang-membuka-lahan-dengan-cara-membakar).
Masyarakat sebaiknya menggunakan cara pembukaan lahan tanpa bakar dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
2. Menjaga kelembapan gambut
Pengelolaan air menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko kebakaran. Pada kawasan yang sesuai, upaya pembasahan kembali dan pengaturan kanal dapat membantu mempertahankan kondisi gambut agar tidak terlalu kering.
Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi hidrologi setempat dan melibatkan pihak yang memiliki kewenangan serta keahlian teknis.
3. Memantau titik panas sejak dini
Titik panas atau hotspot dapat menjadi petunjuk awal adanya anomali suhu. Namun, hotspot tidak selalu berarti kebakaran yang sudah terkonfirmasi. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Masyarakat dapat melaporkan asap atau indikasi kebakaran kepada aparat desa, BPBD, Manggala Agni, atau petugas terkait. Informasi lokasi yang jelas membantu petugas melakukan pemeriksaan lebih cepat.
4. Menyiapkan sumber air dan peralatan pemadaman
Sumber air, pompa, selang, sekat bakar, serta jalur akses perlu dipersiapkan di kawasan rawan sesuai kebutuhan dan karakter wilayah.
Pada Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto meminta agar penanganan karhutla di Riau dilakukan sejak hotspot terdeteksi. Salah satu arahan yang disampaikan adalah menyiapkan sumber air melalui pengeboran di lokasi yang membutuhkan. "Baca laporan Media Center Riau" (https://mediacenter.riau.go.id/read/cegah-karhutla-riau-prabowo-instruksikan-bikin-bor-air-di-lokasi-hotspot-sebelum-api-muncul).
Arahan tersebut menekankan pentingnya tindakan pencegahan sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
5. Memperkuat pengawasan kawasan rawan
Patroli dan pengawasan perlu dilakukan secara berkala, terutama ketika cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran.
Pemegang konsesi perlu menjalankan kewajiban pencegahan dan penanganan kebakaran di wilayah tanggung jawabnya. Aparat juga perlu menindak pelanggaran sesuai ketentuan hukum.
Pencegahan akan lebih efektif jika didukung pelaporan masyarakat, koordinasi antarlembaga, dan respons cepat di lapangan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Melihat Kebakaran Gambut?
Masyarakat yang menemukan api atau asap mencurigakan sebaiknya segera melaporkannya kepada aparat setempat atau petugas penanggulangan kebakaran.
Jangan mendekati lokasi untuk memadamkan api sendirian, terutama jika kebakaran berada di lahan gambut. Api bawah permukaan dapat menyisakan tanah yang rapuh dan titik panas yang tidak terlihat.
Hindari membakar sampah atau sisa tanaman ketika kondisi kering dan berangin. Pastikan puntung rokok dan sumber api lain tidak dibuang sembarangan di kawasan vegetasi.
Jika kabut asap mulai mengganggu, kurangi aktivitas di luar ruangan, tutup celah masuk udara dari luar bila diperlukan, dan ikuti informasi resmi mengenai kualitas udara. Segera cari bantuan medis apabila mengalami sesak napas berat atau gejala serius lainnya.
Mengapa Pencegahan Lebih Penting daripada Pemadaman?
Pemadaman diperlukan ketika kebakaran sudah terjadi. Namun, penanganan setelah api meluas membutuhkan sumber daya, personel, dan waktu yang lebih besar.
Di lahan gambut, upaya pemadaman juga perlu memastikan titik panas di bawah permukaan tidak kembali menyala. Karena itu, pencegahan, deteksi dini, pengelolaan air, dan pemulihan ekosistem perlu berjalan bersama.
Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya deteksi dini dan respons cepat dalam penanganan karhutla di Riau. Pendekatan ini perlu disertai pengawasan kawasan rawan serta kepatuhan terhadap larangan membuka lahan dengan cara membakar.
Pada akhirnya, menjaga gambut tetap basah dan mencegah sumber api muncul merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang. Upaya tersebut tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga membantu menjaga kesehatan dan aktivitas masyarakat. (*)