PJJ Pekanbaru Diperpanjang hingga Sabtu, Udara Masih Berbahaya

PJJ Pekanbaru Diperpanjang hingga Sabtu, Udara Masih Berbahaya
Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru. Pemerintah Kota Pekanbaru memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh bagi siswa PAUD hingga SMP sampai Sabtu (10/10/2026).(Ist)

PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD hingga SMP sampai Sabtu, 10 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah kualitas udara akibat kabut asap masih berada pada kategori sangat tidak sehat dan sempat mencapai level berbahaya, Rabu (7/10/2026). 

Kondisi udara bahkan belum menunjukkan perbaikan signifikan hingga Rabu malam.

Data Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru yang bersumber dari BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 266 µg/m³ pada pukul 18.00 WIB dan masuk kategori berbahaya. BMKG menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan, menutup pintu dan jendela serta menggunakan penyaring udara bila tersedia. 

Perpanjangan PJJ membuat siswa PAUD hingga SMP belum kembali mengikuti pembelajaran tatap muka setelah sebelumnya sekolah daring diberlakukan pada 6–7 Oktober 2026. 

PJJ Diperpanjang sampai 10 Oktober

Keputusan memperpanjang kegiatan belajar dari rumah diambil setelah Pemko Pekanbaru melakukan evaluasi kondisi kabut asap bersama sejumlah instansi terkait.

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan pemerintah mempertimbangkan data kualitas udara dari BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

"Kondisi udara kita di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat, dan ada tiga parameter, tiga-tiganya menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Dan tadi jam 13.00 WIB itu sampai ke posisi berbahaya," kata Markarius usai rapat di Kompleks Perkantoran Pemko Pekanbaru, Tenayan Raya, Rabu. 

Dengan kondisi tersebut, Pemko memilih tidak mengambil risiko dengan mengembalikan siswa ke sekolah.

"Yang pertama, kita akan melanjutkan pembelajaran jarak jauh, lanjutannya selanjutnya sampai hari Sabtu," ujarnya. 

Udara Pekanbaru Masih Berbahaya pada Malam Hari

Kualitas udara Pekanbaru berubah-ubah sepanjang Rabu.

Pada pukul 14.00 WIB, pemantauan BMKG mencatat PM2.5 sekitar 166,9 µg/m³ atau kategori sangat tidak sehat. 

Namun pada pukul 18.00 WIB, konsentrasinya meningkat menjadi 266 µg/m³ dan masuk level berbahaya. 

Kondisi tersebut menunjukkan paparan partikel halus masih menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan kelompok yang memiliki gangguan pernapasan.

Karena itu, pembelajaran dari rumah dipilih untuk mengurangi aktivitas siswa di luar ruangan ketika kualitas udara belum aman.

Lebih dari 10 Ribu Warga Alami Gangguan Kesehatan

Kabut asap tidak hanya memengaruhi kegiatan sekolah.

Pemko Pekanbaru mencatat lebih dari 10.000 warga mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap, seperti ISPA, asma, iritasi dan pneumonia. 

Khusus pada 7 Oktober 2026, tercatat sebanyak 374 pasien mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan dampak kabut asap dalam sehari. Angka tersebut dimuat dalam keterangan resmi Pemko Pekanbaru. 

Sejumlah orang tua juga mulai melaporkan anak mereka mengalami batuk, demam dan gangguan pernapasan selama kabut asap menyelimuti kota. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemko mempertahankan PJJ untuk mengurangi risiko paparan langsung terhadap siswa.

Sekolah Swasta Juga Wajib Ikuti PJJ

Kebijakan belajar dari rumah berlaku bagi sekolah di bawah kewenangan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, termasuk sekolah swasta.

Pemko sebelumnya mengingatkan sekolah swasta agar mengikuti kebijakan PJJ selama kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan siswa. 

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal sebelumnya menyebut angka kualitas udara di atas 200 menjadi salah satu acuan untuk menerapkan atau memperpanjang PJJ sesuai kondisi lapangan. 

Artinya, sekolah tidak diperkenankan memaksakan kegiatan tatap muka ketika indikator kualitas udara masih menunjukkan risiko kesehatan tinggi.

Awalnya PJJ Hanya Dua Hari

Kebijakan PJJ terbaru awalnya diberlakukan selama dua hari, yakni Selasa hingga Rabu, 6–7 Oktober 2026.

Keputusan itu diambil setelah pemantauan ISPU pada 5 Oktober menunjukkan kualitas udara Pekanbaru berada dalam kategori sangat tidak sehat. 

Namun kondisi udara tidak membaik.

Kabut asap justru tetap pekat dan parameter pencemaran meningkat hingga level berbahaya. Pemko kemudian memutuskan PJJ dilanjutkan sampai Sabtu.

Dengan demikian, siswa PAUD hingga SMP di Pekanbaru menjalani pembelajaran dari rumah sepanjang sisa pekan ini.

Pemko Evaluasi Lagi pada Minggu

Kebijakan PJJ setelah Sabtu belum diputuskan.

Pemko Pekanbaru akan kembali mengevaluasi kualitas udara pada Minggu, 11 Oktober 2026 sebelum menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dilakukan atau PJJ harus diperpanjang. 

Evaluasi tersebut akan mempertimbangkan data kualitas udara dan perkembangan cuaca.

Markarius mengatakan BMKG memprakirakan terdapat potensi hujan pada Sabtu, 10 Oktober.

"Tadi dari BMKG, potensi hujan itu tanggal 10. Tanggal 10 itu hari Sabtu ya. Mudah-mudahan Allah berikan hujan," katanya. 

Hujan diharapkan membantu menurunkan konsentrasi partikel di udara, meski keputusan membuka kembali sekolah tetap akan bergantung pada hasil pemantauan terbaru.

Orang Tua Diminta Batasi Aktivitas Anak di Luar Rumah

PJJ tidak otomatis membuat anak terbebas dari paparan asap apabila masih banyak beraktivitas di luar rumah.

Karena itu, orang tua disarankan membatasi kegiatan anak di luar ruangan selama kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat atau berbahaya.

BMKG pada kondisi PM2.5 berbahaya menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan. 

Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dan pembatasan durasi aktivitas di luar menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan.

Bagi siswa Pekanbaru, kepastian kembali ke sekolah kini menunggu evaluasi Pemko pada Minggu mendatang.

Untuk sementara, PAUD hingga SMP tetap belajar dari rumah sampai Sabtu, 10 Oktober 2026. (*)

#Daerah

Index

Berita Lainnya

Index