Mengenal Tepuk Tepung Tawar Melayu Riau, Makna dan Filosofinya

Mengenal Tepuk Tepung Tawar Melayu Riau, Makna dan Filosofinya
Prosesi Tepuk Tepung Tawar dalam adat Melayu Riau. Tradisi ini menjadi simbol doa, restu dan harapan keselamatan bagi orang yang menerimanya. (Foto: Media Center Riau)

SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Bagi masyarakat Melayu Riau, Tepuk Tepung Tawar bukan sekadar prosesi adat yang dilakukan dalam acara seremonial.

Tradisi ini telah lama hadir dalam berbagai momentum penting, mulai dari pernikahan, khitanan, syukuran, penyambutan tamu hingga pemberian restu kepada seseorang yang mendapat amanah baru.

Dalam prosesi tersebut, orang yang menerima tepuk tepung tawar biasanya duduk di tempat yang telah disediakan. Tokoh adat, orang tua atau pihak yang dituakan kemudian secara bergantian menjalankan rangkaian prosesi menggunakan bahan-bahan yang telah dipersiapkan.

Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, rangkaian tersebut mungkin terlihat seperti ritual sederhana.

Namun di balik bahan dan gerakannya terdapat pesan tentang doa, rasa syukur, tanggung jawab hingga harapan keselamatan.

Lantas, apa sebenarnya Tepuk Tepung Tawar dalam budaya Melayu Riau? Apakah sekadar ritual peninggalan masa lalu atau simbol budaya yang masih memiliki makna hingga sekarang?

Sudah Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda

Tepuk Tepung Tawar Riau telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Berdasarkan data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tepuk Tepung Tawar Riau ditetapkan melalui SK Nomor 362/M/2019 pada 2019 dan masuk dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan.

Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa Tepuk Tepung Tawar merupakan tradisi lama yang berkembang di kawasan Riau.

Seiring masuk dan berkembangnya Islam di tengah masyarakat Melayu, orientasi pelaksanaannya mengalami perubahan dan diarahkan pada rasa syukur serta pengharapan akan ridha dan keselamatan dari Allah SWT, dikutip dari laman Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud.

Tradisi ini kemudian tetap bertahan dan digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat Melayu.

Catatan yang sama menyebut Tepuk Tepung Tawar dapat mengiringi perkawinan, khitanan, syukuran karena memperoleh rezeki dan berbagai kegiatan lainnya.

Hakikatnya Berisi Doa

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, pernah menjelaskan makna di balik upacara adat tersebut.

Menurutnya, pada hakikatnya Tepuk Tepung Tawar merupakan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan orang yang menerima prosesi.

Tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar amanah atau pencapaian seseorang dapat membawa kebaikan.

Hal tersebut disampaikan Taufik Ikram Jamil di Balai Adat Melayu Riau pada 2 November 2023, dikutip dari PPID Pemerintah Provinsi Riau.

Dengan demikian, Tepuk Tepung Tawar dalam praktik masyarakat Melayu Riau masa kini tidak sekadar berisi gerakan simbolik.

Ada doa dan pesan sosial yang ingin disampaikan kepada orang yang menerima prosesi.

Setiap Bahan Memiliki Lambang

Salah satu bagian menarik dari Tepuk Tepung Tawar adalah penggunaan bahan-bahan tertentu yang memiliki simbol.

Dalam penjelasan Lembaga Adat Melayu Riau, kelengkapan Tepuk Tepung Tawar menggunakan sejumlah jenis dedaunan dan bahan lain yang masing-masing diberi makna dalam adat Melayu.

Salah satunya adalah air percung.

Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menjelaskan bahwa air percung berupa wewangian melambangkan pentingnya menjaga nama baik dan keharuman nama pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa hingga negara.

"Air percung misalnya, merupakan wewangian yang melambangkan menjaga nama baik, keharuman nama pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara," kata Taufik, dikutip dari PPID Pemprov Riau.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa bahan yang digunakan tidak hanya dipahami dari bentuk fisiknya, tetapi juga sebagai perlambang nasihat kehidupan.

Bukan Hanya untuk Pengantin

Masyarakat mungkin lebih sering melihat Tepuk Tepung Tawar dalam perkawinan Melayu.

Namun penggunaannya jauh lebih luas.

Tradisi tersebut juga kerap digunakan dalam penyambutan tamu kehormatan hingga pemberian restu kepada pemimpin yang baru mendapatkan amanah.

Contohnya terlihat pada 1 Maret 2025 ketika Gubernur dan Wakil Gubernur Riau bersama sejumlah kepala daerah menerima Tepuk Tepung Tawar di Balairung Lembaga Adat Melayu Riau.

PPID Pemprov Riau menyebut Tepuk Tepung Tawar pada momen tersebut sebagai tradisi yang mengandung doa dan harapan agar orang yang menerima prosesi memperoleh keselamatan, keberkahan serta kemudahan dalam menjalankan amanah.

Sebelumnya, LAMR juga menyampaikan bahwa prosesi tersebut dilakukan secara serentak kepada 24 kepala daerah dan wakil kepala daerah se-Riau yang baru dilantik.

Hal ini memperlihatkan bahwa Tepuk Tepung Tawar masih hidup dalam kehidupan masyarakat Riau hingga sekarang.

Ada Unsur Penghormatan dan Penerimaan

Tepuk Tepung Tawar juga dapat dilihat sebagai bentuk penghormatan.

Seseorang yang menerima prosesi bukan hanya didoakan, tetapi secara sosial juga diterima dan diberi harapan agar dapat menjalankan peran dengan baik.

Dalam penyambutan pejabat, misalnya, prosesi tidak berhenti pada unsur seremonial.

Ada pesan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.

Dalam pernikahan, pesan serupa berkaitan dengan kehidupan baru yang akan dijalani pasangan.

Karena itu, makna tradisi tersebut dapat berbeda sesuai konteks acara, tetapi benang merahnya tetap berkaitan dengan doa, restu dan kebaikan.

Mengapa Masih Bertahan di Tengah Kehidupan Modern?

Banyak tradisi lama mulai berkurang karena perubahan gaya hidup.

Namun Tepuk Tepung Tawar masih cukup mudah ditemukan di Riau.

Salah satu alasannya adalah tradisi tersebut tidak hanya mempertahankan bentuk lama, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan nilai masyarakat Melayu modern.

Nilai yang diwariskan tidak berhenti pada penggunaan bahan tertentu.

Ada nasihat tentang menjaga nama baik, memikul tanggung jawab, bersyukur dan mendoakan orang lain.

Tradisi juga menjadi salah satu penanda identitas budaya Melayu Riau.

Ketika prosesi dilakukan dalam perkawinan atau kegiatan adat, generasi muda sekaligus diperkenalkan pada warisan budaya yang telah hidup sebelum mereka.

Sekadar Ritual atau Budaya?

Tepuk Tepung Tawar tidak tepat jika hanya dipandang sebagai ritual yang berdiri sendiri.

Di dalamnya terdapat sejarah, adat, agama dan hubungan sosial.

Catatan resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia menunjukkan tradisi tersebut telah mengalami perjalanan panjang dan penyesuaian dengan nilai Islam dalam masyarakat Melayu Riau.

Dalam praktik sekarang, maknanya banyak diarahkan kepada doa, rasa syukur, keselamatan, keberkahan dan tanggung jawab.

Berbagai simbol yang digunakan tetap merupakan bagian dari tradisi budaya.

Artinya, Tepuk Tepung Tawar bukan metode ilmiah untuk memastikan nasib, rezeki atau keberhasilan seseorang.

Nilainya berada pada pesan moral, sosial dan budaya yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di situlah Tepuk Tepung Tawar menemukan tempatnya di tengah masyarakat modern.

Bukan sekadar mempertahankan sebuah prosesi lama, tetapi menjaga cara masyarakat Melayu menyampaikan doa, penghormatan dan harapan baik kepada sesama. (*)

#Wisata

Index

Berita Lainnya

Index