SELARASRIAU.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu informasi ekonomi yang banyak dicari masyarakat pada Selasa (22/9/2026) pagi. Perhatian terhadap kurs rupiah hari ini meningkat setelah mata uang Indonesia kembali melemah dan ditutup di level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (21/9/2026).
Rupiah melemah 89 poin atau sekitar 0,50 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.758 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia pada Senin tercatat Rp17.813 per dolar AS, melemah dari Rp17.745 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pencarian mengenai nilai tukar rupiah, kurs dolar hari ini, rupiah hari ini hingga dolar AS kembali meningkat. Data pemantauan Google Trends yang dihimpun LagiTren menunjukkan kata kunci “nilai tukar” masih menjadi salah satu topik yang mengalami peningkatan pencarian di Indonesia hingga Senin malam.
Lalu, mengapa rupiah kembali melemah dan apa yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian pagi ini?
Rupiah Melemah hingga Rp17.847 per Dolar AS
Pelemahan rupiah pada awal pekan terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Berdasarkan data perdagangan Senin sore, rupiah ditutup di level Rp17.847 per dolar AS. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan Jumat di Rp17.758 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari satu faktor. Pasar sedang menghadapi kombinasi ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak, penguatan dolar AS, kebutuhan valuta asing dalam negeri, hingga pergerakan dana investor asing.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan terhadap rupiah.
Ketegangan meningkat setelah kelompok Ansarullah atau Houthi Yaman menyatakan melakukan serangan terhadap sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan Saudi Aramco.
Situasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.
Harga minyak yang tinggi menjadi penting bagi Indonesia karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor serta menambah tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan.
Reuters sebelumnya juga mencatat kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi tantangan bagi sejumlah mata uang negara berkembang di Asia. Harga minyak yang tinggi cenderung meningkatkan beban impor negara yang masih membutuhkan pasokan energi dari luar negeri.
Dolar AS Menguat, Rupiah Ikut Tertekan
Selain faktor geopolitik, kurs dolar AS juga mendapat dukungan dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar masih mencermati pergerakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.
Ekspektasi terhadap suku bunga AS membuat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika tetap menarik bagi investor. Kondisi ini dapat mendorong permintaan terhadap dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.
Pada perdagangan Senin pagi, rupiah bahkan sudah mulai melemah ke Rp17.783 per dolar AS. Pelemahan ketika itu antara lain dikaitkan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Tekanan kemudian berlanjut sampai penutupan perdagangan sore.
Kebutuhan valuta asing dari importir di dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah.
Semakin tinggi kebutuhan dolar AS untuk membayar impor maupun transaksi internasional, semakin besar pula permintaan terhadap mata uang Amerika tersebut.
BI Turun Tangan Jaga Rupiah
Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar pergerakannya tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga.
BI melakukan stabilisasi melalui sejumlah instrumen.
Intervensi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward atau NDF di pasar luar negeri, transaksi spot serta domestic non-deliverable forward atau DNDF di pasar domestik.
Bank Indonesia juga dapat melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Selain itu, BI memperkuat pengelolaan likuiditas dan mendorong penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction agar kebutuhan transaksi perdagangan tidak seluruhnya bergantung kepada dolar AS.
Cadangan Devisa Indonesia Masih Rp146,5 Miliar
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang relatif kuat.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai **146,5 miliar dolar AS**, meningkat dibandingkan posisi akhir Juli sebesar 145,3 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting bagi Bank Indonesia untuk menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus membantu stabilisasi nilai tukar rupiah ketika pasar mengalami tekanan.
Pasar Menunggu RDG Bank Indonesia
Perhatian pasar terhadap rupiah hari ini semakin besar karena Selasa ini bertepatan dengan dimulainya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode September 2026.
Berdasarkan jadwal resmi BI, RDG berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu, 22-23 September 2026.
Pada hari pertama, Bank Indonesia membahas kondisi dan prospek ekonomi, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran serta berbagai pilihan kebijakan.
Keputusan kebijakan moneter kemudian ditetapkan pada hari kedua, Rabu (23/9/2026).
Salah satu hal yang paling dinantikan pasar adalah keputusan mengenai BI Rate atau suku bunga Bank Indonesia.
Saat ini BI Rate berada di level 5,75 persen berdasarkan keputusan RDG Agustus 2026.
Sejumlah ekonom memiliki pandangan berbeda mengenai keputusan BI September ini. Ada yang memperkirakan BI masih mempertahankan suku bunga, sementara ekonom lain melihat peluang kenaikan untuk merespons tekanan inflasi dan pelemahan rupiah.
Karena itu, keputusan BI pada Rabu akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Rupiah Hari Ini Bisa Bergerak di Rp17.840-Rp17.900
Untuk perdagangan Selasa (22/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif.
Rupiah diperkirakan berada pada rentang sekitar Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Pergerakan tersebut tetap sangat bergantung pada perkembangan ketegangan geopolitik, harga minyak dunia, pergerakan dolar AS, arus modal asing hingga sentimen menjelang keputusan Bank Indonesia.
Namun perlu dicatat, hingga pagi sebelum perdagangan pasar valuta asing domestik aktif, angka Rp17.847 per dolar AS masih merupakan posisi penutupan perdagangan Senin, 21 September 2026, bukan kurs pembukaan Selasa.
Kurs rupiah dapat kembali berubah ketika perdagangan Selasa dimulai.
Sementara nilai JISDOR terbaru dari Bank Indonesia juga masih menggunakan data perdagangan Senin sebesar Rp17.813 per dolar AS. JISDOR berikutnya baru diperbarui setelah transaksi pasar berlangsung.
Kenapa Nilai Tukar Rupiah Banyak Dicari?
Meningkatnya pencarian mengenai kurs rupiah hari ini tidak terlepas dari dampak nilai tukar terhadap kehidupan sehari-hari.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya untuk membeli barang dari luar negeri menjadi lebih mahal dalam rupiah.
Dampaknya dapat terasa pada barang impor, bahan baku industri, elektronik, kebutuhan usaha hingga perjalanan ke luar negeri.
Harga minyak juga menjadi perhatian karena Indonesia masih membutuhkan impor energi. Jika dolar menguat dan harga minyak tinggi dalam waktu bersamaan, biaya impor berpotensi meningkat.
Meski demikian, perubahan kurs tidak otomatis membuat seluruh harga barang langsung naik. Dampaknya bergantung pada jenis produk, jumlah komponen impor, persediaan perusahaan, kontrak pembelian hingga kondisi permintaan pasar.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat apakah **dolar naik atau rupiah melemah. Perlu dilihat juga penyebabnya, berapa lama tekanan berlangsung, serta bagaimana langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas.
Pada Selasa pagi ini, perhatian pasar terutama tertuju pada tiga hal: pergerakan rupiah setelah ditutup Rp17.847 per dolar AS, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta dimulainya RDG Bank Indonesia 22-23 September 2026.
Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu arah **kurs dolar dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan. (*)
Kata kunci: rupiah hari ini, nilai tukar rupiah, kurs rupiah hari ini, kurs dolar hari ini, dolar AS, rupiah melemah, rupiah Rp17.847, USD IDR, Bank Indonesia, BI Rate, RDG BI September 2026.