Hotspot Riau Tinggal 29, Mengapa Asap Pekanbaru Justru Makin Pekat? BMKG Ungkap Penyebabnya

Hotspot Riau Tinggal 29, Mengapa Asap Pekanbaru Justru Makin Pekat? BMKG Ungkap Penyebabnya

PEKANBARU – Kabut asap masih terasa pekat di sejumlah wilayah Riau, termasuk Kota Pekanbaru, meski jumlah titik panas atau hotspot di provinsi ini jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa daerah lain di Sumatra.

Kondisi itu menimbulkan pertanyaan. Jika hotspot di Riau menurun, dari mana datangnya asap tebal yang masih menyelimuti daerah ini?

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi adanya potensi asap kiriman dari wilayah di sebelah selatan Riau.

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Warjono menjelaskan, citra satelit dan pola pergerakan angin menunjukkan massa udara bergerak dari arah tenggara dan barat daya menuju wilayah Riau.

“Jadi asap ini berasal dari selatan karena arah angin dari tenggara, selatan menuju ke utara,” kata Warjono.

Data BMKG pada Selasa (15/9/2026) mencatat total 4.127 hotspot di Pulau Sumatra. Konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan dengan 2.878 titik panas.

Sebaliknya, Riau pada pembaruan hingga pukul 14.00 WIB tercatat memiliki 29 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang.

Dari 29 hotspot tersebut, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah terbanyak dengan 19 titik. Kemudian Kuantan Singingi empat titik, Pelalawan tiga titik, serta Dumai, Rokan Hilir dan Indragiri Hilir masing-masing satu titik.

Perbedaan jumlah hotspot itu membuat kondisi kabut asap di Riau tidak bisa hanya dilihat dari kebakaran yang terjadi di dalam provinsi.

Menurut BMKG, asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan terbawa melintasi batas administrasi daerah. Karena itu, wilayah yang jumlah titik panasnya relatif lebih sedikit tetap berpotensi terdampak kabut asap dari kawasan lain.

BMKG dalam prakiraan cuaca nasional juga mencatat titik panas berkepercayaan tinggi dalam beberapa hari terakhir masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah, salah satunya Sumatera Selatan.

Dampaknya mulai terasa di Pekanbaru.

Selain udara terlihat berkabut, jarak pandang sempat turun hingga kurang dari satu kilometer. Kondisi kualitas udara juga memburuk sehingga Pemerintah Kota Pekanbaru kembali mengalihkan pembelajaran PAUD hingga SMP menjadi PJJ pada 16-18 September 2026.

Pergerakan asap lintas wilayah ini juga menunjukkan bahwa penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada pemadaman kebakaran di Riau.

Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat kondisi udara berubah dalam waktu relatif cepat, tergantung konsentrasi asap dari wilayah yang dilewati massa udara.

Masyarakat pun diminta terus memantau informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin pekat.*/(Dil)

#Daerah

Index

Berita Lainnya

Index