SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Kabut asap kembali mengancam kesehatan anak. Balita dan anak-anak menjadi kelompok rentan. Paparan udara buruk bisa mengganggu pernapasan mereka.
Ancaman itu kini terlihat dari data. Ribuan anak di Riau terserang ISPA. Kondisi ini terjadi saat asap melanda. Kebakaran lahan masih terjadi di Riau.
Data Dinas Kesehatan Riau mencatat 10.783 kasus. Angka itu tercatat hingga awal September. Kasus tersebut tersebar di berbagai daerah Riau.
Dari jumlah tersebut, anak cukup mendominasi. Sebanyak 1.937 kasus menyerang usia 0-5 tahun. Kemudian 1.844 kasus pada usia 5-9 tahun.
Jika digabung, jumlahnya mencapai 3.781 kasus. Mereka merupakan balita dan anak-anak Riau. Jumlah tersebut mencapai sepertiga total kasus.
Kondisi itu perlu mendapat perhatian serius. Sebab, anak lebih rentan terkena dampaknya. Apalagi kualitas udara belum sepenuhnya membaik.
Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah. Pekanbaru termasuk daerah yang ikut terdampak. Aktivitas sekolah bahkan sempat dialihkan daring. Kebijakan itu untuk mengurangi paparan asap.
Asap Bisa Memperburuk Gangguan Pernapasan
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengingatkan masyarakat. Paparan asap perlu dihindari sebisa mungkin. Terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Anak-anak perlu mendapat perlindungan lebih ketat. Aktivitas di luar rumah perlu dikurangi. Masker harus digunakan ketika harus keluar.
“Aktivitas di luar sebaiknya mulai dikurangi. Kalau harus keluar, gunakan masker,” kata Zulkifli.
Orang tua juga diminta lebih waspada. Kondisi kesehatan anak harus terus dipantau. Terutama ketika muncul gangguan pada pernapasan.
Batuk dan sesak perlu diperhatikan. Begitu juga keluhan yang terus memburuk. Anak sebaiknya segera mendapat pemeriksaan medis.
Langkah cepat diperlukan untuk mencegah perburukan. Fasilitas kesehatan juga telah diminta bersiaga. Puskesmas menjadi layanan terdekat bagi masyarakat.
Puskesmas Diminta Siaga
Dinas Kesehatan Riau memperkuat kesiapan pelayanan. Puskesmas di daerah diminta tetap bersiaga. Tim pelayanan darurat juga harus disiapkan.
Ketersediaan oksigen turut menjadi perhatian pemerintah. Langkah tersebut disiapkan menghadapi peningkatan pasien. Terutama pasien dengan gangguan saluran pernapasan.
Pemerintah juga terus membagikan masker gratis. Sebanyak 102.400 masker telah disebarkan. Penyaluran dilakukan ke berbagai daerah terdampak.
Masker diberikan melalui dinas kesehatan daerah. Sekolah dan fasilitas kesehatan juga menerima. Sejumlah organisasi turut mendapat pembagian masker.
Namun, persediaan tingkat provinsi mulai berkurang. Stok awal mencapai 123.700 lembar masker. Kini persediaannya tinggal 21.300 lembar.
Pemerintah Riau kemudian meminta tambahan masker. Permintaan disampaikan kepada pemerintah pusat. Jumlah yang diminta mencapai 850 ribu.
Sebanyak 800 ribu berupa masker bedah. Sisanya 50 ribu berupa masker N95. Tambahan tersebut untuk memperkuat persediaan daerah.
Orang Tua Diminta Batasi Aktivitas Anak
Ancaman asap belum bisa dianggap selesai. Orang tua perlu mengurangi paparan anak. Terutama saat kualitas udara sedang memburuk.
Anak sebaiknya lebih banyak berada dalam ruangan. Pintu dan jendela dapat ditutup rapat. Tujuannya mengurangi asap masuk ke rumah.
Kebutuhan minum anak juga harus dijaga. Kondisi tubuh perlu dipertahankan tetap sehat. Makanan bergizi juga penting selama asap.
Sekolah juga perlu memperhatikan kondisi udara. Aktivitas luar ruangan sebaiknya tidak dipaksakan. Terutama ketika udara berada kategori tidak sehat.
Kabut asap bukan sekadar mengganggu pandangan. Dampaknya langsung menyentuh kesehatan masyarakat. Ribuan kasus ISPA menjadi peringatan serius.
Terlebih, 3.781 kasus menyerang anak-anak. Mereka berada pada kelompok usia 0-9 tahun. Perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas.*/(Dil)