PVMBG Jelaskan Dentuman Anak Krakatau Merambat Ratusan Kilometer

PVMBG Jelaskan Dentuman Anak Krakatau Merambat Ratusan Kilometer
Dentuman erupsi Anak Krakatau dilaporkan merambat hingga ratusan kilometer ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Getaran hingga dentuman yang dilaporkan warga Bandung Raya memicu pertanyaan mengenai perilaku gelombang suara erupsi. Fenomena akustik ini membuktikan bahwa lokasi yang berada lebih dekat dengan pusat aktivitas vulkanik tidak selalu mendengar suara letusan lebih keras.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Rita Susilawati menyatakan kejadian tersebut memiliki landasan ilmiah. Pergerakan energi suara berdaya besar memang dapat melompati area tertentu di dekatnya.

"Ada beberapa laporan yang disampaikan, ketika ada erupsi gunung api, suaranya itu bisa merambat jauh sampai ke wilayah-wilayah yang memang jauh dari sumber gunung apinya tersebut," kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).

Faktor Atmosfer dalam Perambatan Suara Erupsi

Kondisi atmosfer memegang peranan utama dalam mengarahkan gelombang suara berdaya ledak tinggi. PVMBG menjelaskan perbedaan temperatur, arah angin, serta kecepatan angin sangat menentukan bagaimana suara erupsi berpindah.

Energi akustik bervolume raksasa sanggup menempuh jarak ratusan kilometer melewati lapisan udara. Kondisi ini membuat area di radius dekat terlewat, sementara wilayah yang lebih jauh justru menangkap suara secara jelas.

Rita menegaskan dinamika ini lumrah dalam catatan vulkanologi.

"Dari literatur, itu memang suara akustik dari suatu yang besar itu bisa merambat sampai jauh," jelasnya.

Catatan Dentuman Gunung Kelud dan Riwayat 2020

Peristiwa serupa bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Erupsi Gunung Kelud pada 2014 mencatatkan perambatan dentuman hingga terdengar di Yogyakarta serta wilayah Jawa Tengah.

Dentuman serupa juga sempat dikaitkan dengan Gunung Anak Krakatau pada April 2020 saat laporan suara ledakan masuk dari kawasan Jabodetabek. Waktu kejadian saat itu bertepatan dengan peningkatan aktivitas vulkanik.

Meski begitu, PVMBG mengingatkan kemunculan waktu yang bersamaan belum bisa langsung dijadikan kesimpulan mutlak di lapangan.

"Kesamaan waktu memang bisa merupakan indikasi korelasi, tetapi ini juga belum dengan sendirinya membuktikan sumber dentuman," ujar Rita.

Aktivitas Lava Fountain dan Hipotesis Topografi Bandung

Anak Krakatau dilaporkan mengalami erupsi terus-menerus selama beberapa jam dengan semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain. Karakter letusan semacam ini melepaskan energi akustik masif yang berpotensi merambat ke berbagai arah.

"Dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan Gunung Api Anak Krakatau. Walaupun kita perlu mencocokkan data terlebih dahulu," kata Rita.

Mengenai anggapan bahwa cekungan Bandung memperkuat getaran dan suara dentuman, Rita menyebut hipotesis tersebut butuh pembuktian ilmiah lebih lanjut.

"Untuk hal ini, jawabannya kita harus memastikan hal tersebut," katanya.

Analisis lanjutan dari pakar gelombang suara dan atmosfer kini diperlukan guna mengungkap alasan pasti mengapa getaran terasa nyata di sebagian wilayah Bandung sementara area lain tidak terdampak sama sekali.

Berita Lainnya

Index