DAMPAK El NINO, KEKERINGAN MENGANCAM MASA DEPAN SAWAH BUNGARAYA

DAMPAK El NINO, KEKERINGAN MENGANCAM MASA DEPAN SAWAH BUNGARAYA

Pekanbaru - Kondisi berkurangnya ketersediaan air dan kekeringan pada parit-parit irigasi mulai menghambat aktivitas pertanian sawah di Kecamatan Bungaraya, jika merujuk data tahun 2023 dari Dinas Pertanian Kabupaten Siak maka akan ada 4.946,7 hektare luas tanam bersih yang membutuhkan pasokan air dalam waktu hampir bersamaan. Sistem pertanian bungaraya menghadapi tantangan yang tidak sederhanan. Lalu, sejauh mana sistem persawahan yang telah berjalan puluhan tahun mampu menjawab tantangan tersebut?

Persolan ini penting tidak hanya menyangkut tanaman yang kekurangan air. Di balik sawah terdapat petani yang mengantungkan pendapatan dari hasil panen, aktivitas ekonimi masyarakat yang bergerak dari sektor pertanian, serta ketersedian pangan bagi masyarakat. Ketika air tidak memberikan kepastian, jadwal tanam dapat terganggu, resiko produktivitas menurun, dan ketahanan pangan ikut menghadapi tantangan. 

Fenomena El Nino sendiri tidak bisa dilihat hanya sebagai persoalan perubahan cuaca. Penulis melihat bahwa kerusakan lingkungan dan deforestasi yang tidak terkendali turut memperparah dampak perubahan iklim. Kepentingan ekonomi dan aktivitas para pemodal yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan pada akhirnya ikut membuat masyarakat, termasuk petani, berada pada posisi yang rentan.

Pertama, pengelolaan air harus menjadi fondasi utama keberlanjutan pertanian.

Dengan luas sawah yang besar, kebutuhan air tentu tidak sedikit. Ketika musim kering datang, persoalannya bukan hanya mengenai seberapa banyak air yang tersedia, tetapi bagaimana air tersebut dapat dikelola dan didistribusikan kepada lahan yang membutuhkan.

Karena itu, pengelolaan saluran pengairan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemeliharaan jaringan irigasi, optimalisasi pompa, pemanfaatan sumber air cadngan dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi periode kering.pemerintan memiliki peran penting dalam penyediaan kebijakan infrastruktur, sementara petani dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam pengelolaan dilapangan.

Kedua, perubahan pola musim menetukan perencanaan jadwal tanam yang lebih adaptif.

Petani selama ini memiliki pengalaman untuk membaca musim, tetapi perubahan iklim membuat pola tersebut semakin sulit dijadikan satu-satunya acuan. Keputusan mengenai kapan mulai mengolah tanah dan menanam menjadi semakin penting.  Dengan perencanaan yang lebih baik, kebutuhan air dapat diatur sehingga tidak seluruh lahan membutuhkan pasokan air dalam waktu bersamaan. Langkan ini bukan untuk mengilangkan seluruh resiko, melaikan mengurangi resiko yang dapat diperkirakan.

Ketiga, infrastruktur pertanian harus dipandang sebagai investasi jangka panjang.

Kekeringan akibat fenomenan El Nino mungkin datang secara periodik, tetapi tantangan perubahan iklim tidak berhenti pada satu musim, karena itu, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pertanian harus dipikirkan untuk menghadapi kondisi yang mungkin semakin kompleks di masa depan. Infrastruktur bukan sekedar instrumen untuk memberikan ruang bagi petani agar tetap mampu berproduksi ketika kondisi alam tidak sepenuhnya mendukung.

Pada akhirnya, El Nino memperlihatkan bahwa masa depan pertanian bungaraya tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan dan pengalaman bertani. Karena itu penguatan sistem pengairan dan perencanaan pertanian perlu dilakukan secara bersama dan berkelanjutan. Pemerintah, petani, kelompok tani, anak muda, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun sistem pertanian yang lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Bungaraya memiliki berpotensi besar sebagai salah satu kawasan pertanian di kabupaten siak. Ketahanan pangan bukan hanya tentang berapa banyak padi yang dapat dipanen hari ini, tetapi tentang seberapa kuat kita memastikan petani tetap mampu menanam dan memanen pada musim-musim berikutnya. (Man)

 

 

Penulis: Muhammad Luthfi Suhaz (Kader IMM Komisariat M.Natsir)

#karhutla

Index

Berita Lainnya

Index