SELARASRIAU.COM, PEKANBARU - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang muncul di sejumlah wilayah Riau mulai menjadi perhatian terhadap kesehatan masyarakat.
Di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Riau sepanjang 2026 tercatat mencapai 237.835 kasus.
Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) pun meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diminta mengurangi paparan kabut asap.
Selain ISPA, Dinkes Riau mencatat sebanyak 629 kasus pneumonia pada balita sepanjang 2026.
Balita menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan saat kualitas udara memburuk.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 terdapat 603.480 kasus ISPA di Riau. Pada tahun yang sama, tercatat 1.312 kasus pneumonia pada balita.
Ancaman gangguan pernapasan kembali menjadi perhatian seiring munculnya kabut asap akibat karhutla. Kondisi udara yang memburuk mulai dirasakan masyarakat di Pekanbaru dan sejumlah wilayah sekitarnya.
Dinkes Riau Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.
Perhatian khusus diberikan kepada lansia, balita serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
“Untuk kelompok rentan seperti lansia, balita dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Zulkifli, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, mengurangi aktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah untuk menekan paparan udara buruk.
Jika masyarakat tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan.
Warga juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak minum air putih dan menjaga daya tahan tubuh.
“Kalau memang harus keluar rumah, gunakan masker. Kemudian banyak minum air putih dan konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Kabut Asap Pekat, Ventilasi Rumah Perlu Diperhatikan
Dinkes Riau juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi udara di dalam rumah.
Saat kabut asap semakin pekat, bukaan rumah yang memungkinkan udara dari luar masuk sebaiknya dikurangi.
“Kalau asap semakin pekat, ventilasi rumah sebaiknya diminimalisir agar asap dari luar tidak banyak masuk,” kata Zulkifli.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi paparan kabut asap, terutama bagi anggota keluarga yang masuk kelompok rentan.
Puskesmas di Riau Siaga, Oksigen Disiapkan
Tidak hanya mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, Dinkes Riau juga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan.
Puskesmas diminta bersiap memberikan pertolongan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi udara.
Tim layanan emergency telah disiagakan. Persediaan oksigen juga dipersiapkan sebagai pertolongan awal bagi pasien yang mengalami sesak napas.
“Di Puskesmas sudah ada tim layanan emergency. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas,” ujarnya.
Dinkes Riau meminta masyarakat tidak menganggap ringan gejala yang muncul setelah terpapar kabut asap.
Keluhan seperti sesak napas, mata perih hingga mual perlu diwaspadai.
Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat diminta segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Kalau sudah ada keluhan seperti sesak napas, mata perih atau mual, segera datang ke Puskesmas agar bisa diperiksa dan mendapatkan penanganan,” kata Zulkifli.
Di tengah ancaman kabut asap Riau, masyarakat diharapkan ikut melakukan langkah pencegahan. Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, menjaga daya tahan tubuh serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul keluhan menjadi langkah yang dianjurkan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. (Dil)