PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan kondisi seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) betina berusia sekitar 60 tahun di kawasan Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, dalam keadaan stabil.
Meski mengalami penurunan fungsi beberapa organ akibat faktor usia, satwa dilindungi tersebut masih aktif bergerak dan mampu bertahan hidup secara alami di habitatnya.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kembali melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seekor gajah Sumatra betina di kawasan kantong gajah Tesso Tenggara, Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Pemeriksaan dilakukan sebagai tindak lanjut pemantauan rutin terhadap satwa yang telah lama hidup terpisah dari kelompoknya atau hidup secara soliter.
Kepala BBKSDA Riau, Suhartono, mengatakan gajah tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 60 tahun. Satwa ini sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif pada Juli 2025 setelah ditemukan dalam kondisi tubuh kurus, lemah, mengalami gangguan pencernaan, dehidrasi, prolaps anus, serta gigi yang sudah aus.
"Setelah mendapatkan penanganan medis tahun lalu, kondisi gajah menunjukkan perkembangan yang baik. Satwa kembali aktif bergerak dan menjauh dari kawasan hutan tanaman industri," ujar Suhartono.
Dalam beberapa waktu terakhir, gajah tersebut beberapa kali terlihat berada di sekitar kebun masyarakat. Satwa itu mencari pakan yang lebih lunak, seperti ubi kayu, batang pisang, rumput, umbut, dan tanaman sawit muda.
Kemunculannya sempat menimbulkan kekhawatiran warga. Masyarakat melaporkan gajah mengeluarkan feses yang kasar, sesekali diare, serta muncul aroma tidak sedap dari tubuhnya sehingga diduga sedang sakit.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh Rini Deswita bersama tim PT RAPP melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi gajah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali ditangani pada Juli 2025.
"Saat ditemukan di areal HTI Estate Ukui, gajah dalam kondisi lincah, agresif, dan cenderung menyerang apabila didekati manusia. Setelah dilakukan pemeriksaan, kondisi tubuhnya mengalami peningkatan yang sangat baik," kata drh Rini.
Tim medis memperkirakan berat badan gajah kini mencapai sekitar 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi badan 230 sentimeter. Tidak ditemukan luka maupun cedera pada tubuh satwa tersebut.
Meski demikian, pemeriksaan masih menemukan penurunan fungsi otot anus akibat faktor usia. Kondisi tersebut membuat proses pengeluaran feses tidak lagi sempurna sehingga kerap menimbulkan bau tidak sedap.
Selain itu, gigi gajah yang telah aus membuat proses mengunyah pakan berserat kasar menjadi kurang optimal. Karena itu, gajah lebih memilih mengonsumsi pakan bertekstur lunak seperti rumput, ubi, umbut, dan batang pisang.
Untuk menjaga kesehatannya, tim medis memberikan terapi berupa obat-obatan suportif dan cairan infus. Secara umum, kondisi kesehatan gajah dinyatakan baik dan stabil.
BBKSDA Riau memastikan pemantauan akan terus dilakukan mengingat usia gajah yang sudah lanjut. Penurunan fungsi beberapa organ merupakan proses biologis yang normal pada satwa berusia tua.
Selama nafsu makan tetap baik, kondisi tubuh terjaga, dan tidak mengalami stres, gajah tersebut diperkirakan masih dapat menjalani kehidupannya secara alami di habitatnya.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian gajah Sumatra dengan melindungi habitatnya, tidak melakukan perburuan maupun perdagangan satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan penanganan. (***)