Hilirisasi Batu Bara di Riau, PTBA Siapkan Pabrik Pupuk di Indragiri Hulu

Hilirisasi Batu Bara di Riau, PTBA Siapkan Pabrik Pupuk di Indragiri Hulu
Aktivitas operasional di fasilitas tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk. (PTBA)./dok. PTBA

PEKANBARU – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membuka peluang kerja sama strategis dengan PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR)untuk mengembangkan proyek hilirisasi batu bara non-energi di Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Proyek ini diarahkan untuk mengolah batu bara menjadi pupuk atau unsur humat yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan perkebunan.

Kolaborasi antara BUMN dan BUMD ini dinilai penting karena tidak hanya mendorong pengembangan industri hulu di daerah, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah sentra perkebunan seperti Riau.

Director of Downstream Development & Product Diversification PTBA, Turino Yulianto, mengatakan saat ini perusahaan masih melakukan studi kelayakan (feasibility study/FS) untuk memastikan besaran investasi, kapasitas produksi, dan manfaat ekonomi proyek tersebut.

“Rencana awal, pembangunan pabrik bisa dimulai pada 2026 dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2027. Kami ingin memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang ada di Peranap untuk diolah menjadi produk bernilai tambah bagi pertanian,” ujar Turino, Rabu (14/1/2026).

Manfaat untuk Pertanian dan Perkebunan

Unsur humat yang dihasilkan dari batu bara diketahui memiliki manfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta membantu tanaman menyerap unsur hara dengan lebih baik. Produk ini dinilai cocok untuk mendukung sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, yang menjadi tulang punggung ekonomi Riau.

PTBA menilai Riau sebagai lokasi strategis karena memiliki sumber batu bara berkalori rendah sekaligus pasar potensial untuk produk pupuk berbasis humat.

Peran BUMD dan Pemerintah Daerah

Dalam rencana ini, PTBA menggandeng PT PIR sebagai mitra daerah. Peran BUMD tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau serta membuka ruang partisipasi bagi pelaku usaha lokal.

Direktur PT PIR, Muhammad Suhandi, menyebutkan bahwa Riau memiliki lebih dari 2,9 juta hektare perkebunan kelapa sawit yang berpotensi menjadi pasar utama produk hilirisasi batu bara ini.

“Kerja sama ini sangat strategis. PT PIR diharapkan menjadi penghubung antara investasi nasional dan kepentingan daerah. Hilirisasi ini bisa memberi nilai tambah ekonomi tanpa membebani anggaran daerah,” kata Suhandi.

Peluang Lapangan Kerja

Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, pembangunan pabrik di Peranap diperkirakan dapat menyerap ratusan tenaga kerja lokal, baik pada tahap konstruksi maupun operasional. Selain itu, peluang usaha juga terbuka bagi pelaku UMKM dan distributor lokal dalam rantai pasok dan distribusi pupuk.

Manajemen PTBA menyebut keterlibatan pelaku usaha daerah akan dilakukan secara profesional agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.

Berangkat dari Uji Coba

Rencana pengembangan pabrik ini merupakan kelanjutan dari uji coba pengolahan batu bara menjadi pupuk yang sebelumnya dilakukan PTBA bersama Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasil uji coba tersebut menunjukkan potensi besar hilirisasi batu bara non-energi sebagai alternatif pemanfaatan sumber daya alam yang lebih ramah dan berkelanjutan.

Implementasi skala komersial di Peranap diharapkan menjadi tonggak penting diversifikasi produk batu bara di Indonesia, sekaligus memperkuat peran industri tambang dalam mendukung sektor pangan dan pertanian nasional. (***)

#Daerah

Index

Berita Lainnya

Index