Rupiah Balik Menguat ke Rp17.872 per Dolar, Ikut Tren Mata Uang Asia

Senin, 12 Oktober 2026 | 09:22:00 WIB
Rupiah menguat ke Rp17.872 per dolar AS pada Senin (12/10/2026).

Rupiah membuka perdagangan Senin (12/10/2026) dengan pelemahan tipis 0,03% ke Rp17.888 per dolar AS, sebelum berbalik menguat 0,03% ke Rp17.872 pada 09.04 WIB. Penguatan terbatas ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang kompak menguat terhadap dolar AS. Pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan di pasar obligasi AS yang yield-nya naik ke 5,23%.

Bloomberg Technoz melaporkan, rupiah sempat tertekan di awal sesi sebelum akhirnya berbalik arah. Won Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan dengan lonjakan 0,44%, diikuti penguatan yang lebih terbatas pada peso Filipina, ringgit Malaysia, yen Jepang, baht Thailand, dan dolar Singapura.

Sebaliknya, dolar Taiwan melemah bersama yuan offshore dan yuan China yang tergerus tipis. Pola pergerakan ini menunjukkan arus modal di Asia masih bervariasi, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi global.

Harga Minyak Turun Jadi Penopang Mata Uang Asia

Penguatan mata uang Asia ditopang oleh harga minyak yang terpangkas 1,35% ke US$103,31 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina bersepakat soal gencatan senjata energi.

Meski demikian, ketegangan di Timur Tengah belum mereda. Kelompok Houthi menyerang bandara di Arab Saudi dan menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Trump juga sebelumnya menyatakan tidak akan ada penyerangan terhadap Iran hingga pemilihan umum sela di AS selesai.

Indeks Dolar AS Melandai, Yield US Treasury Naik

Indeks dolar AS tergerus tipis 0,07% ke 102,13. Namun, tekanan di pasar obligasi AS masih berlanjut dengan kenaikan tipis yield US Treasury 1,1 basis poin menjadi 5,23%.

Tekanan itu belum sepenuhnya berdampak pada pasar obligasi global, khususnya di Asia. Obligasi pemerintah Jepang relatif stabil di 3%, China di 1,67%, dan Korea Selatan di 4,39%.

Yield Obligasi RI Tenor Pendek Turun, Tenor 10 Tahun Naik

Di pasar obligasi dalam negeri, yield tenor 1-7 tahun terpantau turun dan masih bergerak di rentang 6,7% hingga 7,17%. Namun, tenor acuan 10 tahun masih terkerek naik 2,5 basis poin menjadi 7,2%.

Pergerakan yield yang mixed ini mencerminkan pelaku pasar masih wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga global dan domestik. Bagi investor obligasi, selisih yield tenor pendek dan panjang membuka peluang strategi durasi jangka pendek.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Penguatan rupiah yang terbatas menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal masih membayangi. Bagi importir, level Rp17.872 per dolar AS masih menjadi pertimbangan dalam menghitung biaya bahan baku.

Eksportir justru diuntungkan jika rupiah bertahan di level ini, karena penerimaan dolar mereka dikonversi ke rupiah dengan nilai lebih tinggi. Sementara bagi investor pasar obligasi, kenaikan yield tenor 10 tahun ke 7,2% menawarkan imbal hasil menarik, meski risiko durasi perlu dicermati.

Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi AS untuk melihat apakah penguatan rupiah berlanjut atau kembali tertekan.

Terkini