Tekanan jual pada logam mulia berlanjut setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi Consumer Price Index (CPI) naik 0,4 persen pada Agustus, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan 0,1 persen pada Juli. Angka itu memupus harapan pasar bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
PPI dan CPI Kompak Tekan Harga Emas
Koreksi tajam terjadi pada Kamis (10/9), saat emas jatuh hampir 2 persen setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan kenaikan harga produsen pada Agustus sesuai ekspektasi pasar. Data CPI yang menyusul sehari kemudian memperkuat arah tekanan yang sama.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 87 persen. Sebelum data inflasi dirilis, probabilitas itu hanya 67 persen.
Harga Minyak Ikut Bebani Daya Tarik Emas
Faktor lain yang menahan laju emas adalah harga minyak yang masih bertahan di level tinggi. Harga energi yang mahal memperkuat kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tarik logam mulia ini karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Pasar Mulai Temukan Pijakan Jangka Pendek
Meski tertekan sepanjang pekan, trader logam independen Tai Wong menilai rebound Jumat menunjukkan emas mulai menemukan pijakan jangka pendek setelah beberapa sesi koreksi.
"Emas pulih dengan cepat setelah sempat terkoreksi. Data CPI kemungkinan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan. Volatilitas agak mereda karena pasar sebelumnya sudah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 70 persen," ujar Wong, seperti dikutip Reuters.
Permintaan India Lesu, China Masih Kuat
Dari sisi permintaan fisik, pembelian emas di India cenderung lesu sepanjang pekan. Pergerakan harga yang bergejolak membuat konsumen di salah satu pasar emas terbesar dunia itu menahan pembelian.
Sebaliknya, permintaan investasi di China masih tergolong kuat. Negara itu merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia, sehingga arus permintaan dari sana menjadi penopang harga di tengah tekanan eksternal.
Yang Perlu Dicermati Investor Pekan Depan
Semua mata kini tertuju pada pertemuan The Fed pekan depan. Jika kenaikan suku bunga benar terealisasi, tekanan tambahan pada emas masih terbuka, terutama jika disertai sinyal kebijakan moneter ketat yang berlanjut.
Bagi investor dalam negeri, pergerakan emas global ini juga berpengaruh ke harga emas Antam dan produk logam mulia lainnya. Pelemahan harga dunia biasanya diikuti koreksi harga emas domestik, meski kurs rupiah terhadap dolar AS turut menentukan besaran penyesuaiannya.
Investasi mengandung risiko.