Bank Sampah Kumala Tanjung Priok Olah 50 Kg Plastik Jadi 40 Liter Solar

Bank Sampah Kumala Tanjung Priok Olah 50 Kg Plastik Jadi 40 Liter Solar
Petugas Bank Sampah Kumala Tanjung Priok memproses 50 kilogram sampah plastik dan styrofoam menjadi 40 liter bahan bakar solar melalui pirolisis.

Bank Sampah Kumala di Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengolah 50 kilogram sampah plastik dan styrofoam menjadi 40 liter bahan bakar solar melalui proses pirolisis. Solar hasil olahan warga itu rencananya dijual kepada nelayan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih murah.

Pirolisis merupakan proses pemanasan bahan organik atau plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen. Dalam proses ini, sampah plastik diuraikan menjadi gas, cairan, dan residu padat. Fraksi cairan inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar setara solar.

Solar Hasil Olahan Warga Dijual ke Nelayan

Solar produksi Bank Sampah Kumala tidak hanya dipakai sendiri. Rencananya, bahan bakar tersebut dijual kepada nelayan di sekitar Tanjung Priok yang selama ini bergantung pada solar komersial untuk melaut.

Langkah ini memberi dua manfaat sekaligus. Sampah plastik dan styrofoam yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan berkurang, sementara nelayan mendapat alternatif bahan bakar yang berpotensi lebih hemat dibanding harga solar di pasar.

Bagi warga Tanjung Priok, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi baru. Sampah yang sebelumnya dibuang kini punya nilai jual, dan hasil olahannya menjadi produk yang dicari nelayan.

Mengapa Styrofoam Ikut Diolah

Selain plastik, Bank Sampah Kumala memproses styrofoam. Material ini sering luput dari perhatian karena ringan, mudah hancur, dan sulit didaur ulang lewat cara konvensional. Penumpukan styrofoam di kawasan pesisir seperti Tanjung Priok berisiko mencemari perairan dan mengganggu ekosistem laut.

Dengan memasukkan styrofoam ke dalam proses pirolisis, bank sampah ini memperluas jenis limbah yang bisa ditangani. Warga tidak lagi perlu memisahkan styrofoam untuk dibuang begitu saja, karena material tersebut ikut masuk ke alur pengolahan menjadi solar.

Apa Artinya bagi Nelayan dan Pengelola Sampah

Untuk nelayan, solar hasil pirolisis bisa menjadi opsi penghematan biaya operasional melaut. Harga bahan bakar menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar nelayan skala kecil, sehingga pasokan alternatif dari lingkungan sendiri berpotensi menekan biaya.

Bagi pengelola bank sampah, model ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah tidak berhenti pada pemilahan dan penjualan limbah daur ulang. Sampah plastik dan styrofoam yang sulit diolah bisa dikonversi menjadi produk bernilai jual, sehingga memberi insentif lebih besar bagi warga untuk aktif memilah sampah.

Skema serupa berpeluang direplikasi di kawasan pesisir lain yang menghadapi persoalan sampah plastik sekaligus punya komunitas nelayan sebagai pengguna bahan bakar. Tantangannya ada pada konsistensi pasokan sampah, keamanan proses pemanasan suhu tinggi, dan kualitas solar yang dihasilkan agar layak dipakai mesin kapal.

Bank Sampah Kumala memilih jalur yang jarang ditempuh bank sampah lain di Jakarta: mengubah limbah sulit terurai menjadi bahan bakar yang langsung dibutuhkan warga sekitar. Bila pasokan sampah dan kualitas produk terjaga, solar dari Tanjung Priok bisa menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah skala komunitas menghasilkan nilai ekonomi nyata.

Berita Lainnya

Index