CIKEAS – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki cara tersendiri untuk merawat kenangan bersama mendiang istrinya, Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono. Pengalaman cinta, kehilangan, dan perjalanan batin tersebut turut dituangkan melalui novel perdananya berjudul Diana Memang Manja.
Novel terbitan Kompas Gramedia itu diluncurkan di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026) malam.
Dalam dialog bersama mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, SBY menceritakan proses kreatif di balik penulisan novel tersebut. Ia mengungkapkan, kepergian Ani Yudhoyono pada 1 Juni 2019 menjadi salah satu titik penting yang membuatnya kembali menekuni dunia seni.
"Meskipun she is gone, saya tidak pernah melupakan," tutur SBY ketika mengenang almarhumah Ani Yudhoyono.
Bagi SBY, menulis menjadi salah satu cara untuk menyalurkan perasaan sekaligus menghadapi kehilangan. Ia kemudian kembali menggeluti sejumlah aktivitas seni yang telah lama disukainya, mulai dari melukis, bermusik, menulis puisi hingga menulis novel.
SBY menegaskan, dunia seni sebenarnya bukan sesuatu yang baru baginya. Kegemaran tersebut sudah tumbuh sejak kecil dan sempat teralihkan ketika dirinya menjalani karier di militer hingga pemerintahan.
"Saya bukan mualaf tentara, politisi menjadi seniman. Tetapi seni itu masa lalu saya. Yang betul adalah the return of the lost artist. Kembalinya seniman setelah mengembara ke mana-mana," ucapnya.
Terinspirasi Lagu Koes Plus dan Kisah Kehidupan
Novel Diana Memang Manja juga memiliki latar belakang kreatif yang menarik. Salah satu titik awal lahirnya cerita tersebut adalah lagu legendaris Koes Plus berjudul Diana.
SBY mengenal lagu tersebut sejak 1973, ketika masih menjadi taruna. Ketertarikannya terhadap sosok Diana dalam lagu itu kemudian mendorongnya melakukan penelusuran dan riset.
Dalam prosesnya, SBY mengaku menemukan sosok perempuan bernama Diana di Wonosobo, Jawa Tengah. Ia bahkan bertemu langsung dengan perempuan tersebut untuk mendengarkan kisah kehidupannya.
Pengalaman Diana yang pernah kehilangan suaminya memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman SBY setelah ditinggalkan Ani Yudhoyono.
Meski demikian, novel tersebut bukan sepenuhnya kisah autobiografi. SBY memadukan pengalaman nyata dengan imajinasi, romansa, misteri, dan unsur gaib untuk membangun alur cerita.
Dalam kesempatan itu, SBY menjelaskan bahwa novel memberinya kebebasan untuk membangun karakter, menghadirkan berbagai peristiwa, serta mengembangkan cerita.
"Saya merasa punya kebebasan untuk menggambarkan apa saja," kata SBY.
SBY Akui Sebagian Perasaan Dituangkan dalam Novel
SBY tidak menampik pengalaman pribadinya setelah kehilangan Ani turut mewarnai penulisan novel tersebut.
Ia menyebut sebagian perasaan yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu dituangkan melalui cerita dan karakter dalam novel.
"Sebagian saya curahkan novel itu untuk mengekspresikan hati saya sekian tahun yang lalu. Tetapi sekarang saya lebih kuat. Saya sudah move on," ungkapnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa novel ini tidak hanya menjadi karya fiksi, tetapi juga ruang refleksi bagi SBY dalam memaknai cinta dan kehilangan.
Ia ingin menunjukkan bahwa seseorang tetap bisa melanjutkan kehidupan tanpa harus menghapus kenangan terhadap orang yang dicintai.
Pesan SBY untuk Generasi Muda
Selain berbicara tentang cinta dan kehilangan, SBY juga menyampaikan pesan kepada generasi muda.
Ia mengingatkan pentingnya memiliki tujuan, keberanian untuk memulai, serta kesungguhan dalam menjalani pilihan hidup.
Menurut SBY, tantangan dan persoalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kehidupan.
"Lebih bagus do something daripada do nothing. Bahwa nanti ada masalah, ada dinamika, selalu begitu kehidupan itu," paparnya.
SBY juga menjelaskan bahwa proses penulisan novel tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Berbagai gagasan baru dapat muncul selama proses kreatif berlangsung.
Karena itu, riset dan pertimbangan tetap diperlukan agar cerita memiliki pijakan yang masuk akal, meskipun dibangun melalui imajinasi.
Diserahkan kepada 14 Tokoh
Peluncuran novel Diana Memang Manja turut diisi pemutaran video bertajuk "SBY & Dunia Seni" dan penyerahan simbolis buku oleh penerbit Kompas Gramedia.
Sebanyak 14 tokoh dari berbagai latar belakang menerima novel tersebut secara langsung dari SBY.
Mereka antara lain Metz dari 3 Pemuda Berbahaya, Bonny dari Brasakustik, Shelvi dari Thomshell, Sari Koeswoyo, Alberthiene Endah, Beby Tsabina, Novita Wibowo, Inggrid Kansil, Sundari Soekotjo, Dina Lorenza, Dede Yusuf, Nora Trystiana, Djoko Suyanto, serta Wakil Presiden ke-11 RI Boediono.
Acara tersebut juga dihadiri putra SBY yang menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama Annisa Larasati Pohan.
Sejumlah pejabat negara dan tokoh lainnya turut hadir. Penampilan musik Neo Jibles melengkapi rangkaian peluncuran novel tersebut.
Melalui Diana Memang Manja, SBY menghadirkan cerita tentang manusia, hubungan, cinta, dan kehilangan. Sebuah karya yang memperlihatkan bagaimana kenangan terhadap orang tercinta dapat tetap hidup, sekalipun waktu terus berjalan. (***)
Tag : SBY, Diana Memang Manja, Ani Yudhoyono, novel SBY, Susilo Bambang Yudhoyono, Kompas Gramedia, kisah cinta SBY