Sebaran Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu 33 Penerbangan

Sebaran Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu 33 Penerbangan
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu 33 jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.

SELARASRIAU.COM — Penutupan sementara tiga bandara sempat diberlakukan menyusul lontaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membubung hingga ketinggian 50.000 kaki dan menjangkau enam provinsi. Sedikitnya 33 jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak sebelum operasional dinyatakan kembali normal pada Minggu (6/9/2026). Hingga kini status vulkanik gunung api di Selat Sunda tersebut masih bertahan di Level III (Siaga).

Berdasarkan peringatan bencana yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, penghentian operasional sementara berlaku di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma hingga pukul 09.30 WIB. Sementara itu, Bandara Radin Inten II di Lampung menangguhkan aktivitas penerbangan hingga pukul 10.00 WIB.

Sebaran Abu Capai Enam Provinsi dan Matikan Rute Penerbangan

Dampak penutupan jalur udara paling terasa di Bandara Soekarno-Hatta dengan total 33 penerbangan terdampak. Otoritas mencatat 16 rute internasional dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, dan 5 jadwal lainnya dialihkan atau dijadwalkan ulang.

Penerbangan domestik turut mengalami gangguan, terutama armada dengan rute tujuan Lampung, Denpasar, serta Surabaya. Seluruh bandara akhirnya dibuka kembali secara penuh setelah hasil pengujian sebaran abu melalui paper test menunjukkan area bandara telah bersih dari partikel vulkanik.

Hasil analisis BMKG bersama citra satelit Himawari-9, data PVMBG, dan VAAC Darwin pada pukul 04.00 WIB mendeteksi dua klaster utama sebaran abu:

  • Klaster Pertama: Berada pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki, bergerak ke arah Timur Laut-Selatan, melingkupi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
  • Klaster Kedua: Terpantau membubung hingga lapisan 50.000 kaki, bergerak menjangkau Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

Intensitas Letusan Tertinggi Sepanjang Tahun

Aktivitas pada Minggu (6/9/2026) tercatat sebagai fase erupsi paling intens sepanjang tahun 2026, meneruskan lonjakan kegempaan yang mulai merangkak naik sejak Jumat (4/9/2026) malam.

Badan Geologi mengonfirmasi dua kali erupsi signifikan dalam rentang waktu berdekatan. Letusan pertama terjadi pukul 03.53 WIB dengan amplitudo maksimum 46 mm selama 30 detik. Letusan kedua menyusul pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum 50 mm berdurasi 16 detik.

Petugas pengamat gunung api Rioboniek Situmorang melaporkan tinggi kolom abu tidak sempat teramati secara visual dari pos pantau karena pelepasan material vulkanik masih berlangsung ketika laporan disusun.

Radius Bahaya Tiga Kilometer dan Potensi Tsunami

PVMBG memastikan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau belum beranjak dari Level III (Siaga), status yang disandang sejak 2 Juli 2026. Lebih dari 240 letusan telah terdata selama masa siaga tersebut.

Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Terkait ancaman gelombang laut, otoritas menyatakan risiko timbulnya tsunami akibat rangkaian erupsi ini sangat kecil hingga nyaris nihil.

PVMBG menulis dalam laporan resminya: "Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."

Warga di enam provinsi terdampak abu diimbau mematuhi rilis informasi berkala dari PVMBG, BMKG, serta BNPB/BPBD. Penggunaan masker dan pembatasan kegiatan luar ruangan disarankan demi menekan gangguan saluran pernapasan akibat paparan debu vulkanik.

Berita Lainnya

Index