PEKANBARU – Ikan salai patin yang akrab di meja makan masyarakat Kampar ternyata bisa berbicara di panggung nasional.
Di tangan enam mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau, makanan khas itu tidak sekadar dilihat sebagai kuliner. Mereka membedah potensi di balik daging hingga kulit ikan patin. Hasilnya mengejutkan.
Inovasi bernama Reinventing Ikan Salai Patin berhasil mengantarkan tim UIN Suska Riau meraih juara umum dalam kompetisi esai nasional di Kota Padang, Sumatera Barat, 11–12 Juli 2026.
Enam mahasiswa itu adalah M. Duta Ardandi Pratama, Zera Erika, Deswara Alfareza Putra Arifin, M. Falhan Arifin, Miftahul Jannah, dan Resti Audia.
Mereka tidak datang ke Padang dengan tangan kosong. Selama sekitar dua bulan, tim mematangkan berbagai inovasi yang berangkat dari potensi lokal Riau.
Riset dilakukan langsung di Kabupaten Kampar. Mereka turun ke Kecamatan XIII Koto Kampar dan Desa Koto Mesjid.
Di sana, mahasiswa melihat potensi ikan patin dari dekat. Mereka melakukan observasi, survei, dan berdiskusi dengan berbagai pihak. Dari proses itulah Reinventing Ikan Salai Patin lahir.
Tim tidak hanya melihat daging patin sebagai bahan pangan. Kulit ikan yang memiliki kandungan protein tinggi juga dilirik untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Inovasi tersebut kemudian dibawa ke kompetisi nasional. Karya mereka berhasil meraih Gold Medal kategori pangan dan masuk sembilan besar nasional.
Persaingan belum selesai. Para peraih Gold Medal dari setiap kategori kembali dipertemukan untuk memperebutkan gelar tertinggi. Dari babak inilah tim UIN Suska Riau akhirnya keluar sebagai juara umum.
Ketua tim, M. Duta Ardandi Pratama, mengatakan perjalanan mereka tidak sekadar mengejar medali.
"Kami ingin membuktikan bahwa sebuah esai tidak hanya berhenti sebagai tulisan. Inovasi yang kami angkat harus mampu diwujudkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau itu.
Menurut Duta, tim sengaja turun langsung ke daerah yang menjadi objek penelitian. Mereka ingin memastikan inovasi yang ditawarkan tidak jauh dari kondisi masyarakat.
"Kami melakukan observasi, survei lapangan, hingga berdiskusi dengan berbagai pihak agar inovasi yang kami tawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah," katanya.
Tak Hanya Patin, Daun Katuk Juga Dibawa ke Panggung Nasional
Perjalanan tim UIN Suska Riau tidak hanya bertumpu pada ikan salai patin. Mereka membawa tujuh karya ke kompetisi tersebut. Empat di antaranya berhasil menembus babak final pada bidang lingkungan, pangan, budaya, dan pariwisata.
Pada bidang lingkungan, mahasiswa menghadirkan KATUKPOLI.
Inovasi ini mengembangkan bioplastik dari selulosa daun katuk. Bahan tersebut ditawarkan sebagai alternatif plastik konvensional yang sulit terurai.
Daun katuk yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman pangan dilihat dari sisi berbeda. Potensi hayati lokal itu dikembangkan untuk menjawab persoalan sampah plastik.
Sementara pada sektor pariwisata, tim membawa ECO-BALIMAU KASAI.
Tradisi Balimau Kasai direkonstruksi melalui pendekatan green event management. Festival budaya didorong agar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Pemerintah, masyarakat, dan generasi muda ditempatkan sebagai bagian penting dalam konsep tersebut.
Pada bidang budaya, mahasiswa mengangkat Calempong Oguong. Musik tradisional khas Kampar itu dipadukan dengan unsur musik modern melalui konsep Youth-Driven Innovation.
Tujuannya sederhana. Mendekatkan Calempong Oguong kepada generasi muda tanpa menghilangkan identitas budayanya.
Dua Bulan Menyusun Ide dan Turun ke Lapangan
Prestasi tersebut tidak diraih dalam waktu singkat. Sekitar dua bulan, enam mahasiswa itu bergelut dengan ide, data, dan hasil penelitian.
Mereka memulai dari mini riset. Setiap konsep kemudian dikonsultasikan bersama dosen pembimbing dan mentor.
Naskah diperbaiki berulang kali. Presentasi juga dipersiapkan untuk menghadapi babak final.
Tim dibimbing Nadia Omara, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.
Mereka juga didampingi Misel Friledia Rahmadhani atau Kak Icen, alumni UIN Suska Riau yang berpengalaman mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional.
Sebelum berangkat ke Padang, tim turut melakukan audiensi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
Di antaranya Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kampar, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Riau, serta Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Riau.
Dukungan itu menjadi tambahan semangat. Namun, bagi Duta, pekerjaan mereka belum selesai setelah membawa pulang gelar juara.
"Prestasi ini bukan hanya milik tim kami, tetapi juga milik UIN Suska Riau dan Provinsi Riau," katanya.
Ia ingin inovasi yang telah disusun dapat dikembangkan. Bahkan, jika memungkinkan, diterapkan bersama masyarakat.
"Kami berharap inovasi-inovasi ini dapat dikembangkan bersama pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan generasi muda sehingga benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim UIN Suska Riau memborong sejumlah penghargaan.
Selain juara umum, mereka meraih Juara Harapan III seluruh kategori, satu Gold Medal kategori pangan, serta tiga Silver Medal pada kategori lingkungan, budaya, dan pariwisata.
Dua penghargaan Best Favorite Poster juga diraih pada kategori budaya dan pariwisata. Mereka turut membawa pulang penghargaan Best Paper kategori pariwisata dan budaya.
Bagi Duta, medali bukan satu-satunya tujuan dalam menulis karya ilmiah.
"Jangan hanya menulis sebuah karya untuk lomba. Dalami masalahnya, lakukan riset, hadirkan solusi yang realistis, dan pikirkan bagaimana inovasi itu dapat direalisasikan," katanya.
Dari ikan salai patin, daun katuk, Balimau Kasai, hingga Calempong Oguong, enam mahasiswa itu mencoba melihat Riau dengan cara berbeda.
Potensi yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat mereka bawa ke ruang ilmiah dan dari ikan salai patin Kampar, perjalanan menuju gelar juara umum nasional itu dimulai. (***)