Idris Laena : Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar, tetapi Ruang Membangun Peradaban

Idris Laena : Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar, tetapi Ruang Membangun Peradaban

SELARASRIAU.COM, BEKASI - Pendiri Alexandria Islamic School Dr. Ir. H.M. Idris Laena, M.H menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat membangun karakter, menanamkan nilai-nilai akhlak, serta melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam.

Pesan tersebut disampaikan Idris Laena saat memberikan pengarahan dalam acara Gathering and Closing Ceremony Pre-Session Tahun Ajaran 2026–2027 di Auditorium Alexandria Islamic School, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat Sabtu (11/7/2026). 

Acara tersebut dihadiri ratusan orang tua siswa, jajaran yayasan, kepala sekolah, guru, peserta didik baru serta undangan.

Mengawali sambutannya, Idris Laena mengajak seluruh orang tua memahami filosofi pelaksanaan Pre-Session, program pengenalan sekolah yang menjadi ciri khas Alexandria Islamic School.

Menurutnya, terdapat tiga makna utama yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.

Mengenalkan Lingkungan Sekolah Sejak Hari Pertama

Idris menjelaskan bahwa Pre-Session bukan sekadar pengganti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), melainkan proses awal membangun rasa memiliki terhadap sekolah.

Selama kurang lebih dua pekan, para siswa diperkenalkan dengan lingkungan belajar, budaya sekolah, hingga nilai-nilai yang akan menjadi bekal selama mereka menempuh pendidikan.

“Kami berharap mereka mulai mencintai lembaga yang akan mendidik mereka selama tiga tahun,” ujarnya.

Dengan mengenal lingkungan sekolah sejak awal, siswa diharapkan mampu beradaptasi lebih cepat, merasa nyaman, sekaligus memiliki semangat untuk berkembang bersama sekolah.

Menguatkan Ikatan Anak dengan Orang Tua

Filosofi kedua yang ditekankan Idris adalah pentingnya penghormatan kepada orang tua. Karena itu, Alexandria mewajibkan ayah dan ibu hadir bersama anak dalam acara penutupan Pre-Session.

Menurut Idris, kehadiran orang tua bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menjadi simbol bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah.

Apalagi sebagian besar siswa Alexandria merupakan peserta didik boarding school atau berasrama.

Melalui momentum tersebut, para siswa diingatkan bahwa meskipun tinggal di asrama, mereka tidak pernah ditinggalkan oleh orang tua.

Ia bahkan mengajak seluruh peserta memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan kepada ayah dan bunda yang telah berjuang memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya.

Usai acara, seluruh peserta juga mengikuti makan siang bersama sebagai bagian dari membangun kebersamaan antara sekolah, siswa, dan keluarga.

Menggali Minat dan Bakat Sejak Awal

Makna ketiga Pre-Session adalah menemukan potensi terbaik setiap peserta didik.

Idris mengatakan seluruh penampilan seni yang ditampilkan dalam acara penutupan merupakan hasil pemetaan minat dan bakat siswa baru selama dua pekan mengikuti Pre-Session.

Mulai dari tari tradisional, seni bela diri, angklung, drama, pidato berbahasa asing, hingga pembacaan puisi merupakan bagian dari proses mengenali potensi peserta didik.

Bagi Idris, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak berkembang sesuai bakatnya.

“Semua yang tampil hari ini adalah anak-anak yang baru masuk. Dalam dua minggu kami sudah mulai melihat bakat dan minat mereka,” katanya.

Prestasi Akademik dan Nonakademik Terus Bertambah

Dalam kesempatan tersebut, Idris juga memaparkan sejumlah capaian Alexandria Islamic School.

Di bidang akademik, sebanyak 12 siswa SMP memperoleh penghargaan Academic Achievement, sementara 13 siswa SMA juga meraih penghargaan serupa. Selain itu, sebanyak 122 lulusan berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Tidak hanya akademik, Alexandria juga mencatat prestasi pada sekitar 30 cabang ekstrakurikuler.

Salah satu kebanggaan sekolah adalah keberhasilan marching band Alexandria meraih Juara II Dunia dalam ajang WAMSB Drumline Battles International.

Bahkan pada tahun ini, tim marching band Alexandria memperoleh undangan untuk tampil di Meksiko.

Menurut Idris, berbagai prestasi tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan bukti bahwa pendekatan pendidikan yang dijalankan sekolah mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.

Pendidikan Harus Melahirkan Peradaban

Bagian terpenting dari pidato Idris adalah penekanannya mengenai makna pendidikan sebagai proses membangun peradaban.

Ia menegaskan bahwa penutupan Pre-Session bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa seluruh proses pendidikan memiliki dampak besar terhadap masa depan bangsa.

“Hari ini bukan sekadar penutupan Pre-Session. Hari ini adalah pengingat bahwa sesungguhnya kita tidak hanya sedang mendidik anak, kita sedang membangun peradaban,” tegasnya.

Menurut mantan Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar itu, peradaban tidak dibangun dalam waktu singkat. Peradaban lahir dari manusia yang utuh, yaitu manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, hati nurani, serta akhlak mulia.

Karena itu, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik, tetapi harus menjadi ruang pembentukan karakter.

Three in One: Academic, Life Skill, dan Behavior

Sebagai implementasi filosofi tersebut, Alexandria menerapkan konsep pendidikan Three in One, yaitu mengintegrasikan tiga aspek utama pendidikan.

Pertama, adalah Academic, yang bertujuan membangun kecerdasan intelektual.

Kedua, adalah Life Skill, untuk membentuk ketangguhan, kemampuan memecahkan masalah, dan kesiapan menghadapi kehidupan nyata.

Ketiga adalah Behavior, yakni membangun karakter, akhlak, dan kepribadian peserta didik.

Idris mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak justru dapat menjadi ancaman.

Ia mencontohkan bagaimana dalam sejarah dunia terdapat tokoh-tokoh yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi menggunakan kemampuannya untuk melakukan kejahatan karena tidak memiliki landasan moral.

Karena itu, menurutnya, pendidikan harus melahirkan manusia yang cerdas sekaligus beradab.

Selain konsep Three in One, Alexandria juga menerapkan Personal Approach Solution, yakni pendekatan personal kepada setiap siswa.

“Setiap anak bukanlah angka. Setiap anak adalah amanah, setiap anak adalah masa depan,” ujarnya.

Memadukan Standar Internasional dan Nilai Lokal

Idris menjelaskan bahwa Alexandria berupaya memadukan pendidikan bertaraf internasional dengan penguatan nilai-nilai lokal dan keislaman.

Sekolah menghadirkan kurikulum Cambridge agar peserta didik siap bersaing secara global.

Namun di saat yang sama, mereka tetap dibekali nilai budaya Indonesia, karakter Pancasila, dan ajaran Islam.

Idris menjelaskan, pendidikan tidak boleh memaksa memilih antara identitas nasional dan daya saing internasional.

“Kami tidak memilih antara global dan lokal, kami merangkul keduanya,” katanya.

Visi Alexandria adalah melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berjiwa Pancasila, mandiri, serta bertakwa.

Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Islam

Dalam pidatonya, Idris mengutip firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengenai derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Ia juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Bagi Idris, ilmu pengetahuan harus selalu melahirkan keimanan dan akhlak.

Tanpa keduanya, pendidikan hanya menghasilkan kecerdasan yang kehilangan arah.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Idris menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada Alexandria Islamic School.

Ia menegaskan bahwa sekolah akan berupaya menjaga sekaligus mengarahkan masa depan setiap peserta didik.

Namun ia juga mengingatkan bahwa pendidikan terbaik hanya dapat terwujud apabila rumah dan sekolah berjalan beriringan.

“Ketika cinta di rumah bertemu dengan nilai di sekolah, di situlah pendidikan terbaik lahir,” ujarnya.

Pesan untuk Para Siswa

Menutup pidatonya, Idris mengajak seluruh peserta didik baru untuk memanfaatkan masa belajar di Alexandria sebagai kesempatan mengembangkan seluruh potensi diri.

Ia mengingatkan para siswa agar tidak takut melakukan kesalahan selama mau terus belajar dan memperbaiki diri.

Di atas segalanya, ia menanamkan pesan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Ia meminta para siswa menghormati orang tua, memuliakan guru, menyayangi teman, serta menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

Lebih Idris menerangkan, generasi muda hari ini merupakan calon pemimpin bangsa yang kelak akan menentukan arah Indonesia.

Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, kepedulian sosial, dan semangat membangun peradaban. 

Dengan semangat itulah Alexandria Islamic School berkomitmen menjadikan setiap peserta didik bukan sekadar lulusan yang cerdas, melainkan insan yang siap memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. */(Sty)

#Pendidikan

Index

Berita Lainnya

Index