DI SEBUAH sudut desa yang jauh dari keramaian, tepatnya di Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, berdiri sebuah sekolah sederhana yang jauh dari kata layak. Bangunannya terbuat dari papan kayu yang mulai lapuk, dengan dinding yang berlubang di sana-sini, dan lantai yang berderit setiap kali diinjak.
Sekilas, bangunan itu lebih mirip pondok tua dibandingkan ruang belajar. Namun, dari tempat inilah harapan anak-anak desa tumbuh setiap hari.

Sekolah ini dikenal sebagai SD marginal Tasik Pilang. Jumlah ruangannya sangat terbatas—hanya tiga ruangan. Uniknya, setiap ruangan tidak dipisahkan sekat, sehingga dua kelas belajar dalam satu ruang yang sama. Suara guru dari satu kelas kerap bercampur dengan suara dari kelas lain. Anak-anak harus fokus di tengah kondisi yang tidak ideal.
Di dalam kelas, meja dan kursi terlihat sederhana dan sebagian sudah usang. Tidak ada fasilitas modern seperti papan tulis digital atau pendingin ruangan. Hanya papan tulis biasa, buku-buku seadanya, dan semangat belajar yang tak pernah padam.
Saat proses belajar berlangsung, beberapa siswa duduk berdampingan dengan kelas lain. Ada yang menulis, ada yang mendengarkan guru, sementara di sisi lain terdengar pelajaran berbeda. Meski begitu, mereka tampak terbiasa. Kondisi ini bukan hal baru bagi mereka.
Dari luar, bangunan sekolah tampak berdiri di atas tanah yang sedikit tinggi dengan tangga kayu kecil sebagai akses masuk. Atap seng menutupi bagian atas, yang saat hujan kemungkinan besar akan menimbulkan suara berisik. Dinding papan yang tipis membuat cahaya matahari bebas masuk, sekaligus membiarkan angin menerobos tanpa hambatan.
Sekolah ini merupakan cabang dari sekolah induk yang lokasinya cukup jauh dari desa. Akses menuju sekolah induk tidak mudah, sehingga keberadaan sekolah marginal ini menjadi solusi agar anak-anak tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Meski dengan segala keterbatasan, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan setiap hari. Guru-guru tetap datang, mengajar dengan penuh dedikasi. Anak-anak pun hadir dengan semangat, membawa tas dan harapan yang sama: ingin belajar dan meraih masa depan lebih baik.
Tak ada keluhan yang terdengar keras, hanya realita yang dijalani dengan sabar.
Potret sekolah ini menjadi gambaran nyata bahwa akses pendidikan di beberapa daerah masih jauh dari kata merata. Namun di sisi lain, ini juga menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak pernah bergantung pada megahnya bangunan. (***)