Layanan Jantung Indonesia Kompetitif, Peluang Wisata Medis Terbuka Lebar

Senin, 02 November 2026 | 10:43:03 WIB
Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital dr Ridwan Tjahjadi Lembong menyampaikan penilaian layanan kardiovaskular Indonesia dalam acara CARES 2026 di Jakarta.

Rumah sakit jantung di Jakarta menilai layanan kardiovaskular dalam negeri sudah kompetitif dibanding negara tetangga, membuka peluang wisata medis yang lebih besar. Teknologi CT scan 512-slice hingga tenaga medis lulusan luar negeri disebut menjadi modal utama. Namun fokus saat ini masih menahan pasien Indonesia agar tidak berobat ke luar negeri.

Heartology Cardiovascular Hospital menilai layanan kesehatan jantung di Indonesia sudah berada di level kompetitif jika dibandingkan dengan rumah sakit di negara tetangga. Modal utamanya bukan hanya peralatan medis modern, tetapi juga tenaga medis yang banyak menempuh pendidikan di luar negeri lalu kembali mengembangkan keahliannya di dalam negeri.

Penilaian itu disampaikan Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital dr Ridwan Tjahjadi Lembong di sela acara CARES 2026 di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Menurutnya, teknologi medis yang tersedia di luar negeri sebenarnya bisa dihadirkan di Indonesia, termasuk perizinan yang menyertainya.

Teknologi CT Scan 512-Slice Jadi Modal

Salah satu contoh yang disebut dr Ridwan adalah CT scan 512-slice, teknologi pemindaian medis tingkat lanjut yang mampu menghasilkan 512 irisan gambar per rotasi dalam waktu sangat cepat, sekitar 0,23 detik atau satu detak jantung. Perangkat sekelas ini, katanya, sudah bisa digunakan di Indonesia.

“Sebenarnya, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Apa lagi yang kurang? Tenaga medis kita juga banyak yang pernah belajar di luar negeri, kemudian kembali dan mengembangkan keahliannya di Indonesia. Teknologinya pun bisa kita impor, kemudian kita lengkapi dengan perizinan yang diperlukan,” kata dr Ridwan.

Dukungan pemerintah dinilai cukup suportif. Dr Ridwan menyebut pemerintah memahami bahwa teknologi medis yang tersedia di luar negeri juga bisa dihadirkan di Tanah Air, sehingga peluang mengembangkan layanan jantung semakin terbuka.

Fokus Masih Menahan Pasien Berobat ke Luar Negeri

Meski peluang wisata medis besar, dr Ridwan menegaskan ada dua hal yang perlu dibedakan: mencegah warga Indonesia berobat ke luar negeri, dan mendatangkan pasien asing untuk berobat di Indonesia. Saat ini fokus industri masih pada upaya pertama.

“Kalau kita berbicara tentang medical tourism, selama ini fokus kita sebenarnya masih pada bagaimana mencegah masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri. Kita belum sampai pada tahap melihat banyaknya pasien dari luar negeri yang datang ke Indonesia untuk mendapatkan layanan kesehatan. Jadi, itu dua hal yang perlu kita bedakan,” ujarnya.

Ia menyoroti banyaknya representative office rumah sakit luar negeri yang beroperasi di Indonesia. Upaya yang dilakukan adalah mengalihkan rujukan pasien jantung agar ditangani di dalam negeri, dengan syarat utama kualitas layanan dan harga yang bersaing.

“Di Malaysia, misalnya, terkadang kami menemukan biaya pengobatan yang tidak jauh berbeda dengan biaya di Indonesia. Sayang sekali jika masyarakat justru harus berobat ke luar negeri, padahal seharusnya mereka bisa mendapatkan layanan dengan biaya yang lebih terjangkau di negeri sendiri,” kata dr Ridwan.

Soal Pajak Alat Medis dan Rp26 Triliun yang Mengalir Keluar

Direktur Heartology Hospital Dr dr Faris Basalamah SpJP(K) menambahkan, kebijakan pajak terhadap alat medis menjadi faktor pembeda antarnegara. Pajak memengaruhi biaya operasional dan pada akhirnya harga layanan kesehatan yang dibayar pasien.

“Jika dibandingkan dengan Singapura, misalnya, kita masih cukup kompetitif. Bahkan, dari sisi biaya, layanan kesehatan di Indonesia masih bisa lebih terjangkau dibandingkan beberapa negara lain yang memiliki perbedaan kebijakan perpajakan,” kata dr Faris.

Dari sisi layanan, Heartology mengaku membantu mengatur kebutuhan akomodasi pasien, misalnya mencarikan tempat menginap ketika pasien belum memerlukan rawat inap. Pemerintah sendiri pernah menyampaikan sekitar Rp26 triliun per tahun mengalir ke luar negeri untuk kebutuhan berobat masyarakat Indonesia.

Angka itu menjadi tolok ukur yang ingin dipantau dr Ridwan. Jika jumlahnya menurun, upaya asosiasi rumah sakit dan pemangku kepentingan bisa dinilai berhasil. Jika belum turun atau justru naik, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan.

Bagi traveler yang mempertimbangkan layanan kesehatan jantung di dalam negeri, informasi tarif dan jadwal konsultasi sebaiknya dikonfirmasi langsung ke rumah sakit terkait, karena paket layanan medis biasanya menyesuaikan jenis tindakan dan kondisi pasien.

Terkini