PHE Naikkan Investasi Migas Jadi US$6 Miliar pada 2026, Naik 1,5 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:04:01 WIB
PHE mengalokasikan belanja modal sekitar US$6 miliar pada 2026 untuk menahan laju penurunan produksi migas.

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengalokasikan belanja modal sekitar US$6 miliar pada 2026, naik dari realisasi US$4,8 miliar tahun lalu. Peningkatan investasi ini ditempuh untuk menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan migas yang dikelola perseroan. Tanpa tambahan modal besar, produksi minyak dan gas nasional berisiko stagnan di tengah kebutuhan energi yang terus tumbuh.

Angka itu disampaikan Bayu saat ditemui di Jakarta, Selasa (6/10). Peningkatan belanja modal ini bukan sekadar ekspansi, melainkan kebutuhan mendesak untuk menahan penurunan produksi lapangan tua yang terus berjalan.

Laju Penurunan Lapangan Capai 10-15 Persen

Sebagian besar lapangan migas Indonesia telah mengalami natural decline dengan laju yang cukup tinggi. Bayu menyebut penurunan di lapangan Rokan dan Mahakam mencapai belasan persen per tahun.

"Indonesia ini mengalami naturally decline. Kayak di Rokan, di Mahakam, declining rate-nya cukup besar. Belasan, saya kira di luar PHI juga mengalami hal itu, mungkin sekitar 10-15% declining rate," kata Bayu.

Karena itu, porsi terbesar investasi PHE diarahkan untuk mempertahankan produksi lapangan eksisting. Caranya melalui pengeboran pengembangan, infill drilling, pemeliharaan sumur, serta kegiatan work over dan well service (WOWS).

Kegiatan tersebut bersifat padat modal dan harus dijalankan rutin. Tanpa pengeboran dan perawatan sumur, produksi dari lapangan yang sudah berumur akan turun lebih cepat dari perhitungan.

Eksplorasi Jadi Kunci Cadangan Baru

Selain menjaga lapangan eksisting, PHE mengalokasikan dana cukup besar untuk eksplorasi. Bayu menilai eksplorasi adalah kunci menemukan sumber daya baru yang bisa menopang kebutuhan energi Indonesia dalam jangka panjang.

"Yang kedua untuk eksplorasi. Untuk eksplorasi juga kita spend cukup besar. Karena kita nggak akan bisa ngejar kebutuhan Indonesia kalau hanya sekitar segitu saja," ujarnya.

Bayu menyoroti pentingnya investasi eksponensial untuk menemukan cadangan berukuran besar. Investasi yang terbatas, menurut dia, hanya akan menghasilkan temuan kecil yang tidak mampu mengimbangi kebutuhan energi nasional.

"Kalau tidak investasi besar, kita cuma akan ketemu ikan-ikan kecil kalau masih nggak ada big fish. Kita nggak akan ketemu Rokan, nggak akan ketemu Cepu, nggak akan ketemu Mahakam kalau investasi kita nggak eksponensial juga bergerak naik," jelasnya.

Serapan Investasi Tahun Ini Baru 60-70 Persen

Hingga September, serapan investasi PHE tahun ini baru mencapai 60-70 persen dari rencana. Bayu menyebut capaian itu masih positif meski belum penuh.

Ke depan, PHE memproyeksikan kenaikan alokasi investasi rata-rata 1,5 kali lipat setiap tahun. Menurut Bayu, angka itu masih moderat jika Indonesia ingin mengejar kebutuhan energi sekaligus membalikkan tren penurunan produksi.

Bahkan, peningkatan hingga dua kali lipat bukan hal mustahil apabila kondisi keekonomian proyek mendukung. "Kalau perlu kita double up investasi," tegasnya.

Langkah PHE mencerminkan tekanan yang dihadapi sektor hulu migas nasional: lapangan utama menua, sementara kebutuhan energi terus naik. Besarnya belanja modal yang disiapkan akan menentukan apakah produksi migas Indonesia bisa bertahan atau justru terus menyusut dalam beberapa tahun ke depan.

Terkini