SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Kasus DBD Riau 2026 mencapai 4.614 kasus sepanjang Januari hingga Juli. Sebanyak 23 penderita meninggal dunia, tetapi hingga kini belum ada kabupaten maupun kota di Riau yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan penanganan kasus masih dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan dan jajaran dinas kesehatan di masing-masing daerah. Meski begitu, kewaspadaan terus diperkuat karena kasus sempat meningkat tajam pada Mei hingga Juli.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan seluruh kabupaten dan kota untuk memperkuat pencegahan.
"Kabupaten dan kota sudah kami minta agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan terhadap perkembangan kasus DBD," ujar Zulkifli, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, perkembangan kasus sejauh ini masih dapat ditangani oleh daerah.
"Belum ada yang KLB, karena semua kasus masih tetap terkendali oleh seluruh dinas kesehatan kabupaten kota," jelasnya.
Data 4.614 kasus dan 23 kematian tersebut juga tercatat dalam pemberitaan terbaru yang mengacu pada data Dinas Kesehatan Provinsi Riau.
Rokan Hilir Catat Kasus DBD Tertinggi
Dari 12 kabupaten dan kota, Rokan Hilir menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 992 kasus dengan enam kematian.
Bengkalis berada di posisi berikutnya dengan 701 kasus dan dua kematian. Kota Dumai mencatat 610 kasus dengan dua kematian, sedangkan Pekanbaru sebanyak 566 kasus dengan satu kematian.
Jika digabungkan, empat daerah tersebut mencatat 2.869 kasus, atau sekitar 62 persen dari seluruh kasus DBD di Riau hingga Juli 2026.
Rinciannya:
Rokan Hilir: 992 kasus, 6 meninggal
Bengkalis: 701 kasus, 2 meninggal
Dumai: 610 kasus, 2 meninggal
Pekanbaru: 566 kasus, 1 meninggal
Kuantan Singingi: 399 kasus, tanpa kematian
Kampar: 297 kasus, 4 meninggal
Indragiri Hilir: 250 kasus, 2 meninggal
Rokan Hulu: 228 kasus, 2 meninggal
Indragiri Hulu: 167 kasus, 1 meninggal
Siak: 162 kasus, 2 meninggal
Pelalawan: 131 kasus, tanpa kematian
Kepulauan Meranti: 111 kasus, 1 meninggal.
Data tersebut memperlihatkan sebaran kasus tidak terkonsentrasi di satu daerah saja, meskipun Rokan Hilir mencatat angka tertinggi.
Kasus Mulai Melonjak Sejak April
Pergerakan kasus DBD di Riau selama tujuh bulan pertama 2026 menunjukkan pola yang cukup mencolok.
Pada awal tahun, jumlah kasus justru mengalami penurunan:
Januari: 457 kasus
Februari: 402 kasus
Maret: 370 kasus
Namun tren berubah pada April.
Jumlah kasus naik menjadi 554 kasus, kemudian melonjak menjadi 827 kasus pada Mei.
Puncak sementara terjadi pada Juni dengan 1.011 kasus. Pada Juli jumlahnya sedikit turun menjadi 993 kasus.
Artinya, meskipun terdapat penurunan sekitar 1,8 persen dari Juni ke Juli, jumlah kasus masih berada pada level jauh lebih tinggi dibanding awal tahun.
Dinkes Riau sebelumnya juga telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan ketika peningkatan kasus mulai terlihat. Hingga April 2026, saat itu tercatat 1.682 kasus DBD dengan 12 kematian.
Kematian Tertinggi Justru Terjadi pada Juli
Bukan hanya jumlah kasus yang perlu diperhatikan.
Data kematian juga menunjukkan dinamika berbeda.
Jumlah penderita yang meninggal tercatat:
Januari: 2 orang
Februari: 3 orang
Maret: 4 orang
April: 3 orang
Mei: 3 orang
Juni: 3 orang
Juli: 5 orang
Juli menjadi bulan dengan jumlah kematian tertinggi selama tujuh bulan pertama 2026.
Secara keseluruhan, Case Fatality Rate atau CFR DBD Riau tercatat 0,5 persen, sedangkan angka kejadian atau Incidence Rate mencapai 63,2 kasus per 100 ribu penduduk.
Mengapa Belum Ditetapkan KLB?
Tingginya jumlah kasus tidak otomatis membuat suatu daerah menetapkan status KLB.
Dalam kasus Riau, Dinkes menyebut pelayanan kesehatan di kabupaten dan kota masih mampu menangani pasien serta melakukan pengendalian penyakit.
Namun pernyataan belum adanya KLB bukan berarti kewaspadaan dapat dikurangi.
Justru peningkatan kasus sejak April menjadi alasan pemerintah meminta kabupaten dan kota memperkuat surveilans, pengendalian nyamuk serta pemberantasan sarang nyamuk.
Pada Mei lalu, Dinkes Riau bahkan menerbitkan surat edaran kepada seluruh daerah agar meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian DBD.
Fogging Bukan Satu-satunya Cara
Salah satu pesan yang terus ditekankan Dinkes Riau adalah masyarakat tidak hanya mengandalkan fogging.
Fogging terutama menyasar nyamuk dewasa. Sementara telur dan jentik masih dapat berada di tempat penampungan air dan kembali berkembang.
Karena itu, pencegahan lebih efektif dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk atau PSN melalui 3M Plus.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan PSN 3M Plus sebagai langkah utama pencegahan DBD, sedangkan fogging bukan strategi utama dan umumnya digunakan dalam kondisi tertentu.
Zulkifli mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi kunci.
"Kami berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan fogging ketika kasus DBD meningkat. Keberhasilan menekan penyebaran penyakit ini sangat bergantung pada kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan dan rutin memberantas jentik nyamuk di sekitar rumah," katanya.
Apa Itu 3M Plus?
Gerakan 3M Plus dapat dimulai dari lingkungan rumah.
Tiga langkah utama meliputi:
Menguras tempat penampungan air secara rutin.
Menutup rapat tempat penampungan air.
Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Sementara unsur "Plus" meliputi pemeriksaan tempat penampungan air, penggunaan larvasida di tempat yang sulit dikuras, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa, hingga membersihkan saluran air yang tersumbat.
Langkah ini menjadi semakin penting ketika hujan diselingi cuaca panas karena banyak wadah di sekitar rumah dapat berubah menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Waspadai Gejala, Jangan Tunggu Kondisi Memburuk
Selain pencegahan lingkungan, masyarakat juga diminta mengenali gejala sejak awal.
DBD dapat ditandai demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta sejumlah keluhan lain. Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat segera melakukan pemeriksaan apabila muncul gejala yang mengarah pada demam berdarah.
Zulkifli mengingatkan agar pasien tidak menunggu hingga mengalami kondisi berat.
"Jangan tunda sampai muncul gejala syok, seperti muntah terus-menerus, tangan dingin, atau gelisah. Penanganan terlambat bisa berakibat fatal," tegasnya.
Karena itu, Pemprov Riau terus mendorong sistem kewaspadaan dini di puskesmas dan rumah sakit sekaligus meminta masyarakat rutin memeriksa lingkungan rumah.
Dengan 4.614 kasus dan 23 kematian hingga Juli 2026, pekerjaan pengendalian DBD di Riau belum selesai. Meski belum ada wilayah yang berstatus KLB, peningkatan tajam kasus pada pertengahan tahun menjadi sinyal agar pemerintah daerah dan masyarakat tetap memperkuat pencegahan. (*)