Kabut Asap Paksa Sekolah Pekanbaru Kembali Daring, 21 Puskesmas Siaga, Pemko Gelar Salat Istisqa

Selasa, 08 September 2026 | 12:01:46 WIB

SELARASRIAU.COM, PEKANBARU – Kabut asap kembali mengganggu aktivitas masyarakat di Kota Pekanbaru. Meski tidak ditemukan titik panas atau hotspot di dalam wilayah kota, asap kiriman dari daerah lain membuat kualitas udara memburuk hingga berdampak pada kegiatan belajar mengajar.

Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring bagi siswa PAUD, TK, SD hingga SMP. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak di tengah kondisi udara yang tidak sehat.

Tidak hanya sektor pendidikan, Pemko Pekanbaru juga meningkatkan kesiapsiagaan di bidang kesehatan. Sebanyak 21 puskesmas disiagakan untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Di tengah berbagai upaya tersebut, Pemko Pekanbaru juga menggelar salat Istisqa, Selasa (8/9/2026), untuk memohon agar hujan segera turun.

Salat meminta hujan itu berlangsung di halaman Masjid Agung Al Firdaus, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kota Pekanbaru, Tenayan Raya. Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemko Pekanbaru ikut melaksanakan salat dan berdoa bersama.

Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin, mengatakan pemerintah bersama berbagai pihak telah melakukan sejumlah upaya menghadapi kabut asap. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk membantu memicu turunnya hujan.

Namun, menurutnya, upaya tersebut tetap harus dibarengi dengan doa agar hujan segera turun dan membantu mengurangi kabut asap.

“Tapi kita hanya manusia biasa, hanya bisa berikhtiar berdoa, Allah yang menurunkan hujan, Allah yang punya kuasa. Kita bermohon agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan, yang menyegarkan, yang menghilangkan asap,” kata Zulhelmi usai salat Istisqa.

Pekanbaru Zero Hotspot, Tapi Tetap Diselimuti Asap

Zulhelmi menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru bukan berasal dari kebakaran di dalam wilayah kota.

Saat ini, Pekanbaru tercatat zero hotspot atau tidak terdapat titik panas. Namun, kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah daerah membuat asap terbawa angin menuju Pekanbaru.

“Untuk Pekanbaru sendiri zero hotspot. Cuma arah angin mengarah ke kita,” ujarnya.

Berdasarkan data BMKG yang disampaikan Pemko Pekanbaru, masih terdapat 156 titik api di Riau, yang antara lain tersebar di Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis.

Arah angin dari wilayah selatan Sumatera menuju utara membuat asap dari daerah yang mengalami karhutla terbawa hingga ke Pekanbaru.

Kondisi inilah yang menyebabkan udara Pekanbaru tetap diselimuti asap meski tidak ditemukan titik panas di wilayah kota.

Sekolah Daring, Anak-anak Kurangi Paparan Asap

Memburuknya kualitas udara kemudian berdampak terhadap kegiatan pendidikan.

Pemko Pekanbaru kembali menerapkan pembelajaran daring bagi peserta didik mulai PAUD hingga SMP. Para siswa untuk sementara mengikuti kegiatan belajar dari rumah agar tidak terlalu banyak terpapar udara luar.

Kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk melindungi anak-anak yang lebih rentan terhadap dampak buruk kabut asap.

Di sektor kesehatan, seluruh 21 puskesmas di Pekanbaru juga disiagakan sebagai posko penanganan dampak kabut asap.

Puskesmas telah diminta menyiapkan masker serta obat-obatan yang dibutuhkan untuk menangani masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, khususnya gangguan pernapasan dan ISPA.

Di tengah kondisi tersebut, harapan kini tertuju pada turunnya hujan. BMKG memprediksi adanya peluang hujan di wilayah Pekanbaru pada Selasa (8/9/2026) hingga Rabu (9/9/2026).

Pemko berharap hujan dapat membantu memperbaiki kualitas udara sehingga aktivitas masyarakat dan kegiatan belajar mengajar di Pekanbaru bisa kembali berjalan normal.*/(Dil)

Terkini