Update Terbaru Anak Krakatau: Dua Kali Erupsi, Penerbangan Kembali Terganggu

Ahad, 06 September 2026 | 09:46:01 WIB
Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau membumbung tinggi hingga mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara.

SELARASRIAU.COM — Penutupan sementara operasional melanda tiga bandara utama menyusul erupsi beruntun Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Minggu 6 September 2026. Abu vulkanik membubung hingga ketinggian 50.000 kaki dan memicu pembatalan puluhan jadwal penerbangan domestik maupun internasional. Otoritas memperingatkan masyarakat untuk menjauhi area kawah aktif dalam jarak aman.

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengimbau warga negaranya memantau perkembangan informasi lokal secara berkala, terutama pelancong yang mengantongi tiket penerbangan udara, sembari menghindari seluruh kegiatan di sekeliling kawasan gunung api tersebut.

Sebaran Abu Vulkanik Membentang hingga Samudra Hindia

Penyebaran material erupsi terdeteksi meluas lewat pemantauan udara jarak jauh. BMKG memperbarui data sebaran abu vulkanik berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 04.00 WIB yang dipadukan dengan data PVMBG serta VAAC Darwin.

Hasil pantauan mengonfirmasi kehadiran dua klaster sebaran abu aktif:

  • Klaster pertama: Bergerak pada ketinggian permukaan laut hingga 20.000 kaki, melingkupi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
  • Klaster kedua: Membumbung hingga elevasi 50.000 kaki dan melayang lebih jauh melintasi Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, sampai ke atas perairan Samudra Hindia.

Gangguan operasional sejatinya sudah terasa sejak malam sebelumnya. Sedikitnya 33 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak per 5 September pukul 22.00 WIB, mencakup 16 penerbangan internasional yang dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, dan 5 rute dijadwalkan ulang.

Aktivitas Seismik Catat Rekor Tertinggi Sepanjang 2026

Gunung Anak Krakatau mencatatkan rangkaian letusan baru dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026 sejak Jumat malam 4 September hingga Sabtu 5 September, sebelum berlanjut pada Minggu dini hari.

Badan Geologi Kementerian ESDM melalui akun resminya mengonfirmasi fase letusan pertama pada akhir pekan:

"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 03:53 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik."

Getaran magma kembali terulang berselang hitungan jam kemudian. Petugas pengamatan gunung api, Rioboniek Situmorang, melaporkan erupsi susulan pukul 07.10 WIB dengan catatan amplitudo maksimum menyentuh 50 milimeter serta durasi gempa 16 detik.

"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 07:10 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati," tulis Badan Geologi Kementerian ESDM. Pengamatan visual kolom abu terhalang lantaran proses erupsi masih berjalan sewaktu laporan teknis disusun.

Tingkat Aktivitas Bertahan di Level III Siaga

Tingkat aktivitas vulkanik gunung api di Selat Sunda ini belum diturunkan. Status Gunung Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.

Guna menghindari ancaman lontaran batuan pijar dan material padat, PVMBG mengeluarkan batasan ruang gerak bagi publik di sekitar lokasi:

"Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."

Otoritas perhubungan udara terus memutakhirkan jadwal penerbangan secara berkala. Penumpang yang terdampak penundaan rute diminta mengonfirmasi status keberangkatan langsung ke konter maskapai masing-masing.

Terkini