Apple menaikkan nilai persediaan komponennya 31,1% menjadi US$14,54 miliar pada kuartal IV tahun fiskal, langkah yang ditempuh untuk mengamankan pasokan memori di tengah lonjakan harga. CEO Apple John Ternus menyebut kenaikan harga memori saat ini berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tekanan biaya itu sudah merembet ke harga Mac, iPad, dan iPhone, serta memukul pengiriman smartphone global.
Apple mencatat nilai persediaan melonjak 154,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dari US$5,72 miliar pada kuartal IV 2025. Kenaikan dibanding kuartal III juga tebal: dari US$11,09 miliar menjadi US$14,54 miliar. Perusahaan secara eksplisit menyebut penimbunan komponen memori komputer sebagai pemicu utama.
Langkah Apple menambah stok dan memperbesar komitmen pembelian bukan tanpa alasan. Pasokan chip memori di pasar global sedang diperebutkan proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang memborong komponen dalam volume besar. Efeknya, harga memori meroket dan produsen perangkat harus berebut sisa pasokan.
Seberapa Parah Kenaikan Biaya Memori
John Ternus mengakui Apple sudah merasakan kenaikan biaya memori pada kuartal September dibanding kuartal Juni. Dampaknya sebagian tertutup oleh keuntungan dari persediaan komponen yang sudah dimiliki Apple serta biaya sejumlah komponen nonmemori yang lebih rendah.
Namun Ternus memperkirakan biaya memori akan semakin tinggi pada kuartal Desember, dan masih terus meningkat setelah periode itu. Apple mengimbanginya dengan menaikkan harga sejumlah perangkat sepanjang tahun ini.
"Apa yang kami lihat pada harga memori saat ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Ternus dalam konferensi dengan analis, dikutip dari TechCrunch, Rabu (4/11/2026).
Kenaikan harga yang sudah dijalankan mencakup beberapa perangkat Mac dan iPad pada akhir Juni serta iPhone pada September. Artinya, konsumen sudah merasakan getirnya krisis komponen ini di kasir, bukan baru akan.
Pengiriman Smartphone Global Anjlok 20%
Counterpoint mencatat pengiriman smartphone global merosot 20% secara tahunan pada kuartal III-2026. Angka itu menjadi level terendah untuk periode kuartal ketiga sejak 2012.
Lembaga riset tersebut menyebut lonjakan biaya chip memori dan kelangkaan pasokan komponen sebagai penyebab utama. Produsen mengambil langkah drastis: menaikkan harga eceran, memangkas volume pengiriman, dan mengalihkan fokus ke profitabilitas ketimbang mengejar volume penjualan.
Perilaku konsumen ikut bergeser. Shilpi Jain, Analis Senior Counterpoint, menyebut pembeli kini menahan diri dan memakai perangkat lebih lama dari perkiraan.
"Konsumen kini menahan diri dan memakai perangkat mereka lebih lama dari perkiraan. Banyak yang mulai melirik ponsel bekas (refurbished) atau sekalian memilih perangkat kelas atas (higher-value)," ujar Jain.
Prospek ke Depan Masih Berat
Counterpoint memproyeksikan tekanan pada industri smartphone belum mereda dalam waktu dekat. "Prospek hingga akhir tahun 2026 masih penuh tantangan," tulis Counterpoint dalam laporannya.
Pemangkasan volume produksi, penyederhanaan portofolio produk, dan fokus yang lebih dominan ke perangkat premium diperkirakan berlanjut. Segmen pasar yang sensitif harga akan paling tertekan oleh mahalnya perangkat dan terbatasnya pasokan komponen.
Bagi pembeli di Indonesia, sinyalnya cukup jelas: gelombang kenaikan harga perangkat baru belum berhenti. Ponsel kelas menengah dan entry-level berpotensi paling terdampak karena produsen cenderung memprioritaskan model bermargin tinggi. Menunda pembelian atau mempertimbangkan perangkat refurbished resmi menjadi opsi yang masuk akal sampai pasokan memori kembali normal.