Bournemouth mencatat kemenangan 3-0 atas AC Milan di Vitality Stadium pada laga Eropa ketiga sepanjang sejarah klub. Hasil ini menambah deretan panjang dominasi klub-klub Premier League terhadap wakil liga top Eropa di kompetisi antarklub.
Kemenangan atas raksasa Italia itu datang lewat gol pembuka Justin Kluivert, 31 tahun setelah ayahnya, Patrick Kluivert, mencetak gol kemenangan Ajax atas Milan di final Liga Champions. Bournemouth tampil dominan sejak awal, dan kartu merah kiper Milan, Mike Maignan, pada menit ke-27 praktis mematikan perlawanan tim tamu.
Kluivert Ulangi Sejarah Keluarga di Panggung Eropa
Gol Justin Kluivert membuka jalan kemenangan Bournemouth atas tujuh kali juara Eropa tersebut. Momen itu terasa istimewa karena ayahnya pernah menjadi pahlawan Ajax saat mengalahkan Milan di final Liga Champions 1995.
Bagi Bournemouth, laga ini hanya pertandingan Eropa ketiga dalam sejarah klub. Pada 2008, klub sempat nyaris menghadapi likuidasi. Kini nama mereka muncul di panggung kontinental dan berhasil mengalahkan salah satu klub paling bergengsi di Eropa.
Kartu Merah Maignan Ubah Arah Pertandingan
Milan sebenarnya sempat memberi perlawanan sebelum insiden menit ke-27. Namun keputusan wasit mengusir Maignan membuat tim tamu kehilangan kiper utama dan harus bermain dengan sepuluh pemain selama lebih dari satu jam.
Sejak saat itu Bournemouth menguasai jalannya pertandingan. Tiga gol tanpa balas memastikan kemenangan meyakinkan di hadapan pendukung sendiri.
Kutipan Ryan Christie: 15 Tahun Lalu Kami di Peringkat 17 League One
Gelandang Bournemouth, Ryan Christie, menyebut malam itu sebagai cerita yang sulit dipercaya mengingat perjalanan klub dalam 15 tahun terakhir.
"It's mega. In terms of the story of the club it's ridiculous. Someone told me today, 15 years ago today we were 17th in League One, so it's pretty incredible," ujar Christie kepada TNT Sports.
"So many of these fans have been here for this journey so to have nights like this and win as well is special."
Rekor Klub Inggris di Kompetisi Eropa Musim Ini
Klub-klub Premier League memainkan sembilan laga di Eropa pekan ini dan hanya kalah sekali. Sepanjang musim, dari 26 pertandingan di tiga kompetisi kontinental, wakil Inggris baru menelan empat kekalahan, dua di antaranya disumbangkan Manchester United.
- Premier League memenangi 21 dari 21 laga knockout melawan klub Eropa di Conference League dan Europa League dalam dua musim terakhir.
- Dua kekalahan yang tercatat justru datang dari sesama klub Inggris.
- Liga Champions tetap menjadi celah, dengan hanya Manchester City yang mengangkat trofi dalam lima tahun terakhir.
Uang Jadi Akar Dominasi di Kompetisi Lapis Kedua
Kekuatan finansial menjadi penjelasan utama. Sebanyak 15 dari 20 klub Premier League musim lalu masuk 30 besar Deloitte Money List 2026. Hak siar televisi liga Inggris bernilai lebih dari 1,37 miliar poundsterling per musim, angka yang hanya bisa disamai gabungan La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1.
Musim lalu Aston Villa mengalahkan Freiburg di final Europa League dengan pendapatan lebih dari dua kali lipat klub Jerman itu. Crystal Palace menjuarai Conference League dengan pendapatan hampir empat kali lipat Rayo Vallecano. Pada 2025, Tottenham yang finis ke-17 di liga mengalahkan Manchester United di final Europa League.
Jendela transfer musim panas lalu menegaskan jurang tersebut. Klub-klub Premier League membelanjakan rekor 3,49 miliar poundsterling, dan 14 dari 20 transfer termahal musim panas berlabuh ke klub Inggris.
Milan dan Eropa Diingatkan Lagi Soal Jarak Finansial
Milan datang sebagai tim peringkat keempat Serie A, sementara Bournemouth baru mengumpulkan enam poin dari tujuh laga liga. Namun tiga klub yang dikalahkan Bournemouth musim ini, Real Sociedad, Sturm Graz, dan Milan, semuanya berkompetisi di Liga Champions dalam tiga tahun terakhir.
Bagi Bournemouth, kemenangan ini adalah dongeng. Bagi sisa Eropa, itu peringatan keras soal ketimpangan yang makin melebar antara Premier League dan liga-liga lain di kompetisi lapis kedua.