Gentle Parenting: 6 Hal yang Sering Disalahartikan Orang Tua

Gentle Parenting: 6 Hal yang Sering Disalahartikan Orang Tua
Ilustrasi penerapan gentle parenting dalam pengasuhan anak sehari-hari.

Gentle parenting sering dianggap sebagai pola asuh yang selalu mengalah dan minim aturan. Padahal, pendekatan ini justru menekankan batasan tegas yang disampaikan dengan empati. Berikut enam kesalahpahaman yang perlu ibu pahami agar penerapannya tidak keliru.

Psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith menjelaskan bahwa gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. Pendekatan ini menekankan empati terhadap perasaan anak, disiplin yang penuh perhatian, serta batasan yang sesuai dengan usia.

Sayangnya, banyak orang tua memaknai gentle parenting sebagai tuntutan untuk selalu tenang dan tersedia secara emosional. Padahal, ada sejumlah anggapan keliru yang membuat penerapannya justru tidak sesuai.

1. Orang Tua Tidak Boleh Menolak Keinginan Anak

Kesalahpahaman terbesar tentang gentle parenting adalah anggapan bahwa orang tua tidak boleh mengatakan "tidak" kepada anak. Pola asuh ini sering digambarkan terlalu berfokus pada keinginan anak, tetapi kurang memberikan aturan.

Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan bahwa gentle parenting pada dasarnya adalah bentuk authoritative parenting. Yakni pengasuhan yang memadukan batasan tegas dengan hubungan yang hangat.

"Anak membutuhkan batasan agar merasa aman. Gentle parenting bukan berarti tidak ada disiplin. Ini adalah disiplin tanpa mempermalukan, mengintimidasi, atau membuat anak merasa malu," kata dokter anak Chrissie Ott, MD.

2. Gentle Parenting Satu-satunya Cara Membesarkan Anak

Edlynn menyatakan tidak ada bukti bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan yang diperlukan untuk membangun hubungan sehat dengan anak yang cerdas secara emosional. Gentle parenting sebagai sebuah pendekatan belum diteliti secara ilmiah, sehingga klaim hasilnya belum didukung bukti.

Penelitian yang ada justru menunjukkan bahwa authoritative parenting paling konsisten dikaitkan dengan hasil perkembangan anak yang positif.

3. Orang Tua Tidak Boleh Marah

Orang tua yang berusaha menerapkan gentle parenting kerap menetapkan standar terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Mereka merasa harus selalu tenang dan responsif secara emosional. Ketika tidak mampu, muncul perasaan gagal.

Padahal, marah dan lelah adalah hal wajar. "Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mampu memberikan contoh tentang menghadapi emosi," ujar Ott.

4. Gentle Parenting Bisa Membuat Anak Manja

Anggapan lain yang keliru adalah gentle parenting dinilai terlalu permisif dan membuat anak manja. Padahal, pendekatan ini tetap memberikan batasan yang jelas dan konsisten, hanya saja disampaikan dengan empati dan pengertian.

Justru permissive parenting yang berbeda. Pola asuh ini minim batasan, menghindari konflik, dan cenderung memberi izin hampir semua keinginan anak tanpa konsekuensi.

5. Gentle Parenting Sama dengan Permissive Parenting

Banyak yang menganggap keduanya identik, padahal keduanya berbeda. Permissive parenting lebih dominan kasih sayang, minim aturan, dan hampir tidak ada batas kedisiplinan. Orang tua menghindari konflik dengan memberi kebebasan besar kepada anak.

Gentle parenting tetap menetapkan batasan yang sesuai usia. Perbedaannya, batasan itu disampaikan dengan pemahaman terhadap perasaan anak, bukan lewat hukuman atau rasa malu.

6. Harus Selalu Tersedia Secara Emosional

Tuntutan untuk selalu hadir secara emosional bisa memicu burnout pada orang tua. Ketika tidak sanggup memenuhinya, muncul rasa bersalah yang berkepanjangan.

Padahal gentle parenting bukan soal perfeksionisme. Tujuannya adalah mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih, sambil tetap konsisten menetapkan batasan sehat.

Kapan Perlu Konsultasi

Jika ibu merasa kewalahan, mudah marah, atau terus-menerus merasa gagal dalam mengasuh anak, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga. Dukungan profesional membantu ibu menemukan pendekatan yang realistis dan sesuai kondisi keluarga.

Gentle parenting bukan berarti selalu mengalah atau menuntut kesempurnaan. Intinya adalah membangun kedekatan dengan anak lewat empati, sambil tetap menegakkan batasan yang membuat anak merasa aman dan dihargai.

Berita Lainnya

Index