Kumpulan cerpen berjudul "Perempuan di Tengah Labirin Mal" yang seluruhnya digarap dengan kecerdasan buatan resmi diluncurkan lewat podcast Tribun Sumsel, Palembang, akhir September lalu. Buku hasil suntingan wartawan senior Maspril Aries ini diterbitkan Kaki Bukit Literasi bersama Pustaka Labrak sebagai terobosan karya sastra AI pertama di Indonesia. Penulis Nasir Tamara menilai buku ini layak mendapat Rekor MURI karena menjadi yang pertama di bidangnya.
Buku ini menghimpun sejumlah cerpen yang topiknya beragam, mulai dari sejarah hingga kritik sosial. Beberapa judul yang diangkat antara lain "Sumpah Garuda Hitam", "Bayang-Bayang di Atas Air", "Catatan dari Negeri Srivijaya", dan "Dampu Awang dan Kutukan Sungai Musi".
Ada pula cerita bertema hubungan antar manusia seperti "Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu", "Obituari yang Tidak Pernah Ditulis", serta cerpen yang menjadi judul buku, "Perempuan di Tengah Labirin Mal".
Sejumlah cerpen bernada kritik sosial dinilai mewakili sosok Maspril Aries yang puluhan tahun bekerja sebagai wartawan dan masih mengelola media. Judul-judul itu antara lain "Udara yang Kita Pilih", "Perempuan yang Menyalakan Lampu di Jalan Sunyi", dan "Ada Gentong Babi di Pilkada Kota Sumber Rezeki".
Bagaimana AI Menghasilkan Cerita
Aplikasi AI pada dasarnya merupakan kumpulan miliaran kata dan kalimat yang diserap mesin dari berbagai produk digital. Dari akumulasi bahan itu, aplikasi menyusun jawaban atas permintaan penggunanya dalam hitungan menit.
Misalnya, pengguna bisa meminta cerpen tentang sepasang kekasih yang putus, menikah dengan orang lain, bercerai, lalu bertemu lagi setelah 16 tahun. Permintaan serupa dari sepuluh orang berpotensi menghasilkan jawaban yang sama atau setidaknya mirip.
Variasi baru muncul jika pengguna menambahkan arahan spesifik, seperti meminta gaya bahasa menyerupai Sapardi Djoko Damono atau Pramoedya Ananta Toer. Dengan cara ini, siapa pun kini bisa membuat karya sastra hanya berbekal judul, tema, atau kerangka cerita.
Kemudahan itu membuka peluang manipulasi. Sebagian orang bisa mengklaim karya buatan mesin sebagai ciptaannya sendiri.
Sentuhan Editor Manusia
Peran Maspril Aries sebagai penyunting membuat cerpen-cerpen dalam buku ini jauh berubah dari kalimat ciptaan mesin. Deskripsinya lebih lengkap, unsur manusianya lebih terasa, dan pesan moralnya lebih kuat.
Hasil akhirnya, menurut penulis artikel asli, sudah tidak kentara sebagai produk AI. Ia menganalogikannya dengan orang Sumatera Utara yang merantau ke Jakarta dan berhasil menghilangkan logat daerahnya.
Dua cerpen dinilai paling mendekati karya manusia, yakni "Perempuan di Tengah Labirin Mal" dan "Bayang-Bayang di Tepian Sungai Musi". Emosi penulis dan pesan moral di keduanya disebut sebanding dengan karya sastra orisinal.
Sebaliknya, "Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu" masih memperlihatkan jejak kalimat AI pada banyak deskripsi dan dialog tokohnya.
Yang Membuat Sastra Tetap Manusiawi
Daya pikat karya sastra terletak pada pernyataan perasaan, akal, dan pikiran yang disampaikan secara orisinal dan intim. Sastrawan besar punya ciri khas yang membuat pembaca langsung mengenali karyanya.
Pembaca yang terbiasa menikmati sastra bisa merasakan ada yang berbeda saat membaca karya AI. Pada bacaan pertama mungkin tidak terasa, tetapi pada bacaan kedua dan seterusnya barulah muncul kata, kalimat, dan deskripsi yang terasa standar mesin.
Penilaian ini pun diakui masih bisa keliru. Pengalaman membaca karya sastra buatan AI masih terbatas, sehingga ukuran "terasa manusia" dan "terasa mesin" belum punya patokan baku.
Buku "Perempuan di Tengah Labirin Mal" menjadi penanda bahwa AI sudah masuk ke ranah sastra Indonesia, bukan sekadar alat bantu menulis berita atau materi pemasaran. Perdebatan soal orisinalitas, etika, dan pengakuan pencipta diprediksi menyusul seiring makin banyaknya karya serupa bermunculan.