BGN Hentikan SPPG Tanjungsari Tulungagung Usai 198 Siswa Alami Gangguan Pencernaan

BGN Hentikan SPPG Tanjungsari Tulungagung Usai 198 Siswa Alami Gangguan Pencernaan
BGN menghentikan sementara operasional SPPG Tanjungsari 1 Tulungagung selama 20 hari.

Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Tanjungsari 1 di Tulungagung, Jawa Timur, selama 20 hari. Keputusan ini menyusul laporan gangguan pencernaan yang dialami 198 siswa dan guru SMKN 1 Boyolangu penerima program Makan Bergizi Gratis.

Koordinator Wilayah BGN Tulungagung, Habibi, mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai langkah evaluasi dan pembinaan. Tujuannya memastikan seluruh prosedur operasional layanan MBG berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Mengapa Operasional SPPG Tanjungsari 1 Dihentikan?

Habibi menjelaskan, penghentian operasional dilakukan segera setelah muncul laporan gangguan pencernaan di SMKN 1 Boyolangu. Selama masa pembinaan, tidak ada aktivitas produksi maupun distribusi MBG dari dapur tersebut.

"Saat ini operasional SPPG Tanjungsari 1 sudah dihentikan sementara. Tidak ada lagi aktivitas produksi maupun distribusi MBG selama masa pembinaan," ujar Habibi, dikutip Antara.

Langkah ini juga mencakup perbaikan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga distribusi makanan.

Menu Ayam Bakar, Sambal, dan Anggur Jadi Sorotan Evaluasi

BGN mengevaluasi komposisi menu yang disajikan saat kejadian. Menu MBG yang didistribusikan kala itu terdiri atas ayam bakar, sambal, dan buah anggur.

Menurut Habibi, kombinasi menu tersebut berpotensi memicu gangguan pencernaan pada penerima manfaat dengan kondisi kesehatan tertentu atau sensitivitas terhadap jenis makanan tertentu.

"Menu seperti itu berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu kami evaluasi agar penyusunan menu lebih memperhatikan faktor keamanan dan kesesuaian konsumsi," katanya.

198 Siswa dan Guru Terdampak, Sampel Dikirim ke Surabaya

Dinas Kesehatan Tulungagung mencatat 198 siswa dan guru mengalami keluhan gangguan pencernaan berdasarkan hasil surveilans epidemiologi. Sampel makanan yang dikonsumsi siswa telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.

Pengujian laboratorium dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian. Hasil uji diperkirakan keluar dalam waktu sekitar dua pekan.

Yang Perlu Orang Tua Ketahui soal Keamanan MBG

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dalam program MBG bergantung pada standar pengolahan yang ketat. Orang tua bisa memantau respons anak setelah mengonsumsi makanan dari dapur SPPG, terutama jika anak punya riwayat alergi atau sensitivitas makanan tertentu.

Jika anak mengalami keluhan seperti mual, sakit perut, atau diare setelah makan, segera laporkan ke pihak sekolah dan fasilitas kesehatan terdekat. Evaluasi menu yang sedang berjalan diharapkan mencegah kejadian serupa terulang.

Berita Lainnya

Index