Sanksi AS Batasi Penerbangan Iran, Traveler Irak Beralih ke Jalur Darat

Sanksi AS Batasi Penerbangan Iran, Traveler Irak Beralih ke Jalur Darat
Agen perjalanan di Irak menyusun ulang rencana keberangkatan setelah pembatasan penerbangan dari Iran.

Pembatasan penerbangan dari Iran membuat wisatawan dan agen perjalanan di Irak mulai mencari opsi jalur darat yang jauh lebih lama. Rute Irak-Iran termasuk paling sibuk di kawasan, melayani ribuan peziarah ke kota-kota suci setiap tahun. Sebagian agen di Najaf, Diwaniyah, dan Baghdad sudah membatalkan sejumlah perjalanan atau menghentikan penjualan tiket ke Iran.

Kebijakan Amerika Serikat yang memperketat sanksi terhadap penerbangan Iran berdampak langsung pada mobilitas wisatawan di Irak. Sejumlah negara dan bandara mulai membatasi penerbangan dari Iran, memicu ketidakpastian bagi peziarah, wisatawan, dan pelaku industri perjalanan di kedua negara.

Rute Irak-Iran selama ini menjadi salah satu jalur paling ramai di kawasan. Ribuan peziarah setiap tahun menyeberang ke kota-kota suci, sementara sebagian warga Irak rutin ke Iran untuk berobat, berwisata, atau mengunjungi keluarga.

Perjalanan Darat Jadi Opsi, Waktu Tempuh Melonjak

Jalur darat sebenarnya tetap tersedia. Masalahnya, waktu tempuhnya jauh lebih panjang dibandingkan penerbangan. Perjalanan menuju Kota Qom, salah satu tujuan favorit peziarah, bisa memakan lebih dari 12 jam setelah melintasi perbatasan. Beberapa kota lain butuh waktu lebih lama lagi.

Kondisi itu memaksa agen perjalanan menyusun ulang rencana keberangkatan. Di Najaf, agen perjalanan Haidar Shamaa menyebut hampir seluruh biro di kotanya bergantung pada penerbangan ke berbagai bandara Iran.

"Sebagian besar perusahaan perjalanan di kota ini bergantung pada pemesanan penerbangan ke bandara-bandara Iran," kata Haidar, dikutip Al Jazeera.

Menurut Haidar, pengalihan ke jalur darat menjadi tantangan besar. Terutama bagi wisatawan lanjut usia dan pasien yang berangkat ke Iran untuk menjalani perawatan medis.

Bisnis Agen Perjalanan Terancam Berhenti

Dampak ekonomi mulai terasa di kalangan pelaku usaha. Mustafa Majid, pemilik biro perjalanan lain di Najaf, memperkirakan bisnisnya berpotensi lumpuh. Selama ini perusahaannya hanya mengandalkan penjualan tiket pesawat dan tidak memiliki layanan transportasi darat.

"Pekerjaan kami bisa berhenti total," kata Mustafa.

Di Diwaniyah, agen perjalanan Amir Fouadi mengaku sudah membatalkan sebagian perjalanan dan menggantinya dengan jalur darat. Situasi makin rumit karena banyak perjalanan dijual sebagai paket lengkap, mencakup tiket pesawat, hotel, hingga agenda wisata. Ketika penerbangan dibatalkan, seluruh rangkaian perjalanan harus disusun ulang.

"Setiap perubahan membuat kami harus bekerja ekstra mencari solusi alternatif," kata Amir.

Calon Penumpang Masih Menunggu Kepastian

Ketidakpastian juga dirasakan calon penumpang. Banyak pelanggan menghubungi agen perjalanan untuk menanyakan nasib tiket dan jadwal keberangkatan mereka. Namun hingga kini, banyak agen belum bisa memberi jawaban pasti karena kebijakan di lapangan terus berubah.

Sejumlah agen perjalanan di Baghdad memilih menghentikan sementara penjualan tiket ke Iran. Mereka menunggu kejelasan soal penerapan pembatasan penerbangan sebelum kembali membuka layanan.

Bagi wisatawan yang tetap berencana melintasi Irak-Iran, waktu tempuh darat yang panjang dan minimnya kepastian jadwal menjadi pertimbangan utama. Informasi terkini soal status penerbangan dan lintas batas sebaiknya dikonfirmasi langsung ke agen perjalanan atau otoritas perbatasan setempat sebelum berangkat.

Berita Lainnya

Index