Riset BRIN: Anak Krakatau Masih di Fase Inkubasi, Jauh dari Letusan 1883

Riset BRIN: Anak Krakatau Masih di Fase Inkubasi, Jauh dari Letusan 1883
Peneliti BRIN memaparkan hasil riset karakteristik vulkanik Gunung Krakatau dalam webinar daring, Senin (14/9/2026).

Dr Aditya Pratama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN memaparkan hasil sementara penelitian timnya dalam webinar bertajuk "Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time", Senin (14/9/2026). Pemaparan ini menjawab pertanyaan yang sempat ramai di kalangan peneliti dan masyarakat: apakah Anak Krakatau bisa meletus sebesar "ayah-ibunya" pada 1883?

Untuk menjawabnya, tim peneliti membandingkan karakteristik magma dan kondisi dapur magma dari tiga periode perkembangan Krakatau. Sampel batuan dari era Old Krakatau, Young Krakatau, hingga Anak Krakatau dianalisis untuk melihat perubahan komposisi dan kedalaman reservoir magma.

Bagaimana Siklus Menuju Letusan Pembentuk Kaldera

Menurut Aditya, gunung api yang pernah mengalami caldera-forming eruption umumnya melewati empat fase perkembangan: incubation, maturation, fermentation, dan akhirnya letusan pembentuk kaldera.

Pada fase awal atau inkubasi, reservoir magma besar berada jauh di kedalaman, sementara di bagian dangkal hanya terdapat kantong-kantong magma berukuran kecil. Seiring waktu, kantong dangkal itu bisa berkembang menjadi reservoir yang lebih besar.

Komposisi magma pun berubah. Di fase awal, magma cenderung lebih mafik atau basaltik. Menjelang fase fermentation, magma berevolusi menjadi lebih felsik dengan kandungan sulfur dioksida (SO2) yang meningkat.

Mengapa Frekuensi Letusan Kecil Justru Jadi Penanda

Aditya menyebut pola letusan Anak Krakatau saat ini yang sering tapi berintensitas kecil justru konsisten dengan ciri fase awal.

"Kalau kita melihat saat ini, ada kecenderungan letusan di Krakatau itu frekuensinya cukup sering, tapi dengan intensitas yang relatif lebih kecil," kata Aditya.

Pola tersebut berbanding terbalik dengan fase menjelang letusan besar. "Menjelang ke fermentation, letusan itu sudah semakin sedikit, sehingga nantinya akan terjadi caldera-forming eruption, letusan yang sangat besar," ujarnya.

Posisi Anak Krakatau: Masih di Fase Inkubasi

Berdasarkan karakteristik magma dan kondisi bawah permukaan yang dianalisis, tim menyimpulkan Anak Krakatau masih berada di fase inkubasi. "Pada Anak (Krakatau), ini diperkirakan masih pada fase inkubasi," ujar Aditya.

Ia menegaskan posisi itu belum berarti Anak Krakatau sedang mendekati letusan pembentuk kaldera. "Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera-forming eruption," katanya.

Meski begitu, evolusi sistem magma tetap bisa berlangsung. Dalam jangka panjang, diferensiasi magma dapat membentuk kantong-kantong di kedalaman dangkal yang berkembang menjadi reservoir lebih besar. Secara teoritis, kondisi itu bisa menyerupai peristiwa 1883.

"Ke depan, tadi sempat di-mention juga ada potensi memang masih sama seperti yang dialami oleh 'ayah ibunya' (Gunung Krakatau), terjadi caldera-forming eruption," kata Aditya. "Tapi memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu."

Bukan Prediksi Waktu, tapi Peta Jalan Riset

Temuan ini bagian dari penelitian yang masih berjalan. Aditya menyebut riset ini masih bersifat preliminary karena sejumlah sampel dan data terus dianalisis untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap.

Karena itu, hasil penelitian tersebut bukan prediksi kapan Anak Krakatau akan meletus, apalagi kepastian bahwa letusan besar akan terjadi. Fokus penelitian adalah memahami perubahan sistem magma Krakatau dan posisinya dalam siklus pembentukan kaldera.

Dalam kesimpulannya, Aditya menyebut Anak Krakatau berada di fase inkubasi berdasarkan komposisi magma dan karakteristik kondisi bawah permukaannya. Potensi menuju caldera-forming eruption tetap ada dalam perkembangan ke depan, tetapi kondisinya saat ini masih relatif jauh dari arah tersebut.

Berita Lainnya

Index