Mengganti Langkah Ayah ke Tanah Suci, Kisah Haru Alifah yang Berangkat Haji di Usia 17 Tahun

Mengganti Langkah Ayah ke Tanah Suci, Kisah Haru Alifah yang Berangkat Haji di Usia 17 Tahun
Alifah Berliana Putri

WAJAH itu tampak tenang. Senyumnya tipis, tapi hangat. Dibalut hijab putih, Alifah Berliana Putri berdiri di antara hiruk-pikuk keberangkatan jemaah haji. Usianya baru 17 tahun. Namun langkahnya menuju Tanah Suci terasa begitu besar.

Di saat banyak orang harus menunggu puluhan tahun, Alifah justru berangkat lebih cepat. Ia menjadi salah satu jemaah calon haji termuda asal Riau tahun ini.

Di provinsi ini, masa tunggu haji reguler kini mencapai 23 hingga 26 tahun. Antrean panjang itu sudah menjadi hal biasa. Karena itu, kehadiran Alifah di rombongan Kloter 4 langsung menarik perhatian.

Ia masih duduk di bangku kelas IX Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru. Rumahnya di Jalan Sembilang, Kecamatan Marpoyan Damai. Dari situlah, perjalanan panjang ini dimulai.

Minggu pagi, 26 April 2026, Alifah berangkat dari Bandara Sultan Syarif Kasim II. Tujuannya Madinah. Bersama ratusan jemaah lainnya, ia melangkah pasti. Meski di dalam hati, ada rasa yang tak bisa disembunyikan.

Perjalanan ini bukan rencana awalnya.

Ia berangkat menggantikan sang ayah.

Sosok yang dulu bermimpi bisa berdiri di depan Kakbah bersama keluarga. Namun takdir berkata lain. Sang ayah telah lebih dulu berpulang.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa berangkat haji tahun ini bersama ibu,” ujar Alifah pelan.

Ia berhenti sejenak. Menarik napas.

“Tapi rasanya sedih sekali, karena perginya menggantikan bapak.”

Kalimat itu sederhana. Tapi terasa berat.

Bagi Alifah, perjalanan ini bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima. Ini adalah amanah. Ini adalah bentuk bakti terakhir untuk ayahnya.

Sang ibu, Leni Suherni, berdiri di sampingnya. Matanya berkaca-kaca. Ia mencoba tegar, meski suara sesekali bergetar.

Keluarga ini sudah menunggu lama. Sejak mendaftar, mereka harus bersabar hingga 13 tahun. Penantian panjang itu akhirnya terjawab tahun ini.

Namun, kebahagiaan itu datang dengan cara yang berbeda.

“Panggilan ini benar-benar tidak terduga jalannya,” kata Leni.

“Sekarang saya tidak berangkat dengan suami, tapi dengan anak.”

Ada haru di setiap katanya.

Sebagai ibu, ia menyimpan banyak harapan. Ia ingin putrinya kuat. Ia ingin Alifah mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan baik, meski usianya masih sangat muda.

Sementara itu, Alifah sudah mempersiapkan diri. Ia menjaga kesehatan. Ia belajar manasik dengan serius. Ia juga menyiapkan doa-doa khusus.

Ada doa untuk dirinya. Ada doa untuk ibunya. Dan tentu, ada doa untuk ayahnya.

Ia ingin menjadikan setiap langkah di Tanah Suci sebagai ibadah terbaik.

Perjalanan ini mungkin terasa berat. Tapi bagi Alifah, ini adalah panggilan hati. Sekaligus janji yang ia bawa.

Janji seorang anak. Untuk melanjutkan langkah ayahnya. (***)

#Daerah

Index

Berita Lainnya

Index