SELARASRIAU.COM - Nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah kembali menjadi perhatian masyarakat Pekanbaru. Tokoh yang dikenal dengan gelar Marhum Pekan itu diusulkan menjadi nama gerbang tol dalam Kota Pekanbaru.
Usulan tersebut bukan sekadar pemberian nama pada infrastruktur modern. Pemerintah Kota Pekanbaru ingin mengabadikan sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya ibu kota Provinsi Riau.
Pada 2 November 2026, Pemko Pekanbaru mengumumkan bahwa usulan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah untuk gerbang tol yang menghubungkan ruas Pekanbaru-Dumai dengan Pekanbaru-Bangkinang telah mendapat persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Lantas, siapa sebenarnya Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah? Bagaimana perannya dalam sejarah berdirinya Kota Pekanbaru?
Siapa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah?
Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah merupakan Sultan Siak Sri Indrapura ke-5. Ia lebih dikenal masyarakat dengan gelar Marhum Pekan.
Dalam catatan sejarah, ia merupakan putra Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau Marhum Bukit, Sultan Siak ke-4.
Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memiliki peran dalam memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari kawasan Mempura ke Senapelan.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari proses perkembangan wilayah yang kemudian dikenal sebagai Pekanbaru.
Sultan Muhammad Ali kemudian melanjutkan pengembangan kawasan Senapelan. Di bawah kepemimpinannya, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat perdagangan yang semakin ramai.
Penelitian Dina Zamzarina, Bunari, dan Asyrul Fikri yang diterbitkan dalam jurnal Chronologia pada 2022 menjelaskan peran Sultan Muhammad Ali dalam membangun Negeri Senapelan dan mengembangkannya menjadi pusat perdagangan.
Peran Marhum Pekan dalam Berdirinya Kota Pekanbaru
Sebelum dikenal dengan nama Pekanbaru, wilayah ini merupakan kawasan Senapelan. Daerah tersebut memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Salah satu langkah penting dalam perkembangan Senapelan adalah menjadikannya sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan.
Sultan Muhammad Ali berperan mengembangkan kawasan tersebut dengan menghadirkan aktivitas pekan atau pasar. Kegiatan perdagangan itu membuat Senapelan semakin ramai didatangi masyarakat dari berbagai wilayah.
Pekan atau pasar menjadi pusat pertemuan pedagang dan masyarakat. Aktivitas tersebut kemudian mendorong pertumbuhan permukiman serta kegiatan ekonomi di sekitarnya.
Dari perkembangan itulah Senapelan tumbuh menjadi kawasan yang dikenal sebagai Pekan Baharu atau Pekanbaru.
Penelitian sejarah yang diterbitkan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka melalui jurnal Chronologia menyebut peran Sultan Muhammad Ali dalam mengubah Senapelan menjadi pusat perdagangan sebagai bagian penting dari proses berdirinya Kota Pekanbaru.
Mengapa Dijuluki Marhum Pekan?
Nama Marhum Pekan melekat pada Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah sebagai gelar yang dikenang dalam sejarah masyarakat Melayu.
Gelar tersebut berkaitan erat dengan jasa dan perannya dalam mengembangkan kawasan Senapelan menjadi pusat perdagangan atau pekan.
Namanya kemudian menjadi bagian dari identitas sejarah Pekanbaru. Sosoknya tidak hanya dikenang sebagai penguasa Kesultanan Siak, tetapi juga sebagai tokoh yang berperan dalam perkembangan awal kota.
Pemerintah Kota Pekanbaru melalui sejumlah kegiatan edukasi sejarah juga memperkenalkan Marhum Pekan kepada masyarakat.
Pada 2022, Wakil Wali Kota Pekanbaru saat itu, Ayat Cahyadi, menyebut Marhum Pekan sebagai pendiri Kota Pekanbaru dan menjelaskan upaya pengenalan sosoknya melalui program Belajar Sejarah Riau.
Makam Marhum Pekan Berada di Kompleks Masjid Raya Senapelan
Jejak sejarah Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah masih dapat ditemukan di kawasan Senapelan, Pekanbaru.
Makam Marhum Pekan berada di kompleks makam keluarga Kesultanan Siak yang berdekatan dengan Masjid Raya Senapelan atau Masjid Raya Nur Alam.
Situs tersebut menyimpan makam sejumlah keluarga kerajaan, termasuk Sultan Marhum Bukit dan Marhum Pekan.
Data Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat Makam Marhum Pekan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Penetapannya tercantum dalam SK Nomor Kpts. 1135/XII/2018 tertanggal 27 Desember 2018.
Dalam keterangan data cagar budaya tersebut, makam Marhum Pekan berada dalam satu cungkup dengan makam Sultan Marhum Bukit dan sejumlah makam keluarga Kerajaan Siak.
Keberadaan makam ini menjadi salah satu bukti penting hubungan sejarah antara Kesultanan Siak dan perkembangan Kota Pekanbaru.
Sultan Muhammad Ali Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional
Selain diusulkan menjadi nama gerbang tol, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah juga pernah diperjuangkan sebagai calon Pahlawan Nasional.
Upaya tersebut bukan hal baru. Pemerintah Kota Pekanbaru telah mendorong pengusulan Marhum Pekan sejak beberapa tahun lalu.
Pada 2022, Pemko Pekanbaru menyampaikan upaya pengusulan tersebut melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).
Pada 22 Juni 2026, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho kembali menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih melengkapi persyaratan administrasi pengusulan Marhum Pekan sebagai Pahlawan Nasional.
Agung juga menyebut pengusulan nama Marhum Pekan untuk jalan tol sebagai salah satu langkah penghormatan terhadap tokoh pendiri kota tersebut.
Gerbang Tol Pekanbaru Diusulkan Menggunakan Nama Marhum Pekan
Pada April 2026, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengusulkan agar gerbang tol dalam Kota Pekanbaru menggunakan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah.
Gerbang tol tersebut merupakan bagian dari Jalan Tol Lingkar Pekanbaru yang menghubungkan ruas Tol Pekanbaru-Dumai dengan ruas Pekanbaru-Bangkinang.
Berdasarkan keterangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Seksi 2.7 Ruas Kota Pekanbaru, Eva Monalisa Tambunan, panjang jalan tol dalam kota tersebut mencapai sekitar 13,5 kilometer.
Pada 2 November 2026, Pemko Pekanbaru menyatakan usulan penamaan tersebut telah mendapat persetujuan Kementerian PU.
Agung mengatakan, pemberian nama tokoh pendiri Pekanbaru merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu.
Ia berharap nama tersebut menjadi warisan bagi pemerintah dan masyarakat, sekaligus membuat generasi mendatang tetap mengenal sosok yang berperan dalam berdirinya Pekanbaru.
Catatan Sejarah: Ada Perbedaan Penulisan Tahun
Dalam sejumlah sumber sejarah, terdapat perbedaan penulisan masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah.
Portal resmi Pemko Pekanbaru pada 2013 menyebut Marhum Pekan sebagai Sultan Siak ke-5 yang memerintah pada 1780–1782 dan wafat pada 1782. Sementara itu, penelitian dalam jurnal Chronologia menggunakan rentang 1765–1779 untuk mengkaji peran Sultan Muhammad Ali dalam mendirikan Pekanbaru.
Perbedaan rentang waktu tersebut perlu diperhatikan ketika menulis kronologi sejarah. Karena itu, tahun-tahun tersebut tidak sebaiknya disatukan menjadi satu periode tanpa penjelasan sumber.
Terlepas dari perbedaan pencatatan tahun, sejumlah sumber sejarah menempatkan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah sebagai tokoh penting dalam perkembangan Senapelan menjadi Pekanbaru.
Kini, namanya kembali diangkat melalui rencana penamaan gerbang tol. Sebuah pengingat bahwa di balik perkembangan Pekanbaru sebagai kota modern, terdapat perjalanan sejarah panjang yang tidak terlepas dari peran Kesultanan Siak dan sosok Marhum Pekan. (*)
---
TAG: Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, Marhum Pekan, Pendiri Kota Pekanbaru, Sejarah Pekanbaru, Kesultanan Siak, Gerbang Tol Pekanbaru.